Wawancara dengan Jurnal Edukasi
Dari hari ke hari dunia pendidikan semakin dituntut untuk melahirkan output yang memenuhi harapan masyarakat. Di samping harus mempunyai keterampilan praktis, siswa yang ditempa di institusi pendidikan juga dintuntut memeliki kepekaan sosial dan mental serta kepribadian mulya. Menjadi terampil, pintar dan kompeten di bidangnya, tapi kemudian menjadi koruptor, makelar kasus, dan penjilat, tentu hanya akan menjadi malapetaka buat bangsa. Oleh kerenanya, akhir-akhir ini santer terwacanakan pendidikan perlu ditangani oleh guru-guru profesional. Salah satu terobosan cukup brilian yang dimunculkan dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru ialah kebijakan sertifikasi guru dan dosen. Sertifikasi pada gilirannya menjadi rebutan kalangan pendidik, baik guru swasta maupun negeri, baik yang ada di kota maupun yang ada di pelosok desa, apalagi lulus sertifikasi – di atas kertas – telah layak mendapatkan predikat”guru profesional”. Lalu, apa dan bagaimana sebenarnya pofesionalisme guru itu? Berikut wawancara Jurnal EDUKASI dengan Ahmad Rizali, Ketua Dewan Pembina The Centre for The Betterment of Education (CBE) Jakarta
Definisi guru profesional, secara teoretik sangatlah ideal, yakni memiliki kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial. Namun, jika dijelaskan dengan sederhana, seperti apakah gambaran guru profesional itu?
Guru professional adalah guru yg menguasai materi yg diajarkan, mampu mengajarkannya dengan menyenangkan dan memiliki pribadi yang mampu memberi inspirasi kepada muridnya (tauladan).
Bagaimana bisa menjadi guru (silat misalnya) jika tidak menguasai ilmu (silat)? Ketika guru tidak menguasai ilmunya dan mengajar, sudah pasti dia berbohong kepada murid-muridnya, setidaknya tidak menyampaikan apa yg harus disampaikan. Dia ibarat program komputer, hanya menyampaikan hoac atau spam, atau bahkan virus.
Ketika mengusai ilmu (silat), dia juga harus mampu mengajarkannya. Jika tidak, si murid hanya akan kelimpungan karena ilmu tadi tidak berhasil dia kuasai. Ibarat dalam instal program, si guru tidak mampu menginstal dengan benar, sehingga hasilnya program-program (baca-mata pelajaran) tidak terinstal dengan proper/benar dan sering konflik, bahkan “hang” Ketika menginstal atau mengajar, si guru juga musti mengerti kemampuan dasar sang murid, atau analogi komputernya adalah tahu kapasitas RAM dan ROM-nya, apakah masih 486 atau sudah Intel Core 2 Duo. Jangan memaksa instal program yang membutuhkan kapasitas besar ketika guru tahu kapasitas muridnya terbatas. Jangan heran, ketika gurunya pas-pasan dan muridnya pas-pasan pula di instal program yg rumit, hasilnya tidak ada. Itu barulah analogi ilmu komputer, manusia lebih rumit lagi. Read the rest of this entry »