Depok-Cirebon dalam 3 jam
Sesudah menghitung macetnya arus mudik Lebaran, kami sekeluarga, bapak, ibu dan 3 anak remaja menyusuri pantura dipagi fajar IdulFitri 2007, Sabtu 13 Okt. Jalanan pantura terasa benar lebarnya dan sunyi senyap, hanya 3 jam kurang Depok-Cirebon berhasil ditempuh dengan mobil van mini, tetapi beberapa ruas jalan tertutup jamaah shalat Ied. Ketika sholat usai,ternyata tidak seperti kekuatiran teman2 dari kota besar, tidak ada ceceran koran usang bekas alas sholat.
Macet terjadi menjelang tengah hari di Tol Semarang-Magelang, namun tepat jam 13.00 kamipun tiba diSalatiga dan makan siang. Kami menginap di Hotel Beringin, yang sekarang sudah tidak sekumuh dulu dan terkenal sebagai hotel selingkuh, mungkin karena sering diinapi saudara kita keturunan Cina, aroma dan bau pecenongan sangat terasa ketika saat makan, di menu juga terbaca Babi Ca Kangkung.
Petang hari, kami mengudap nasi goreng di emperan pertokoan di depan hotel, penjaja wedang ronde khas salatiga terlihat berjejer, wedang jahe dengan isi kacang dan penganan kecil2 dari beras ketan itu sedap dinikmati malam hari. Nasi goreng di salatiga sudah lebih mahal daripada harga di Depok yang hanya 6.000 perak sepiring, mungkin karena Lebaran, wedang ronde yang lezat 3.000 perak semangkuk. Salatiga yang sejuk dimalam hari terasa agak padat, mungkin oleh pendatang, atau mungkin pula karena malam minggu dan sesak oleh pengunjung lokal.
Semangka besar di Gemolong dan macet di Kertosono Jembatan
Dari Salatiga, kami dinasehati “Kyai” Bahrudin, tokoh Qoriah Thayibah Sekolah Alternatif yang dipuji almukarom Mochtar Buchori untuk memotong jalan dari salatiga via Gemolong, tanpa lewat solo, jalan hotmix dan mulus, tetapi nanti dulu, jreng..!! macet berat di perempatan jalan gemolong setelah menyebrangi rel, sesudah tingkir. Kami melintasi sebuah desa dengan perempatan yang dihiasi patung Diponegoro berjubah putih sdg naik kuda.
Kami membeli semangka terbesar yang pernah kubeli di tepi tegalan sebuah desa gemolong, 12Kg @2.000 perak, 3x besar bola basket. “Untuk oleh2 kaik mu di Malang, kataku kpd bungusku”, “Iya, kaik kan Jumbo (ayahku disebut Kaik, cara suku banjar menyebut kakek, memang setinggi 180m lebih dan berbadan besar), dapat semangka Jumbo” ujar bungsuku.
Ternyata jalur sragen, nganjuk padat, hampir setiap pasar dan lintasan KA macet,… kami makan soto yang lezat dan murah di sisi mesjid raya sragen, 27.000 perak dengan es teh berlima, makanan di Sragen meski lebaran masih terasa murah untuk ukuran kantong kami, parkir mesjid sangat sejuk, mobil tumpanganku nyaman istirahat menunggu tuannya di bawah rindangnya pohon.
Bayangkan penatnya,…. pukul 19.00 kami baru masuk kota Trowulan sebelum mojokerto, disebabkan kemacetan berat di per4an Kertosono Km 1 menjelang jembatan kali (bengawan solo atau brantas ya ?). Sepeda motor yg seringkali menguasai jalan, juga membuat kecepatan mobil berkurang. Tiba di kota Malang tepat jam 20.30 dgn kepala rada puyeng karena flu, aku agak cemas saat nyetir, karena refleks panca indraku sudah berkurang 50%.
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
Ilustrasi gambar dari: http://www.hinamagazine.com/
No related posts.