29 Dec, 2007
Korupsi, Bencana Alam dan Mutu Pendidikan
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Korupsi|Pendidikan
Adakah korelasi antara korupsi dengan bencana alam dan buruknya mutu pendidikan?… ah mengada ada ! Korupsi urusannya dengan pencurian uang dengan tidak sah dan yang mengurusi adalah polisi, kejaksaan dan saat ini yang paling ditakuti adalah KPK.
Sementara bencana alam adalah banjir, tanah longsor, gunung meletus, gempa, tsunami dan yang mengurusi adalah Depsos atau paling apes Basarnas dan Departemen PU serta Depkse, sementara buruknya mutu pendidikan adalah guru tidak layak mengajar, sekolah kebocoran, roboh dan tidak semua anak bisa sekolah, nah ini urusan kementrian Pendidikan NAsional.
Tak ada kaitan ketiganya, yang ada adalah bantuan bencana alam dikorupsi, saking banyaknya bantuan dan rakusnya si pengurus bantuan, serta duit membangun sekolah dikorupsi, dana bantuan operasional sekolah (BOS) di catut, atau paling tidak, sekolah memungut uang orangtua anak SD yang diharamkan pemerintah.
Tetapi, cobalah telisik. Jika dana APBN dan APBD untuk mengurusi penghijauan, konversi pemakaian bensin menjadi gas alam, mengeruk sungai, memperbaiki gorong gorong, memperbaiki jalan, ketika ditenderkan sesuai aturan, tetapi sebelum ditentukan pemenang, sudah terjadi kasak kusuk dan mengalirlah duit kepada pemutus pemenang tender. Ketika CV “anu” menang, diborongkan lagi kepada UD “una” dan akhirnya dikerjakan oleh PT. “ini”, periksa masihkah bestek dikerjakan seperti yg ditetapkan ?
Akhirnya, penghijauan hanya saat seremoni, konversi pakai minyak jadi gasalam asal bagi tabung, sungai dikeruk saat Bupati meninjau, gorong2 dikecilkan ukuran garistengahnya dan jalan banjir saat hujan lebat turun, masihkah semua pekerjaan memelihara tanah tadi bisa diandalkan ?
Kemudian, ketika dana untuk operasional sekolah, merancang program, memantau hingga evaluasi dan melatih guru serta mengadakan buku dan perbaikan kelas di sunat oleh aparat oknum, masihkah bisa diharap mutu pendidikan kita membaik ?
Korupsi mulai dari yang terang benderang hingga sejenis penggelapan pajak dan pencucian uang, telah membuat pekak telinga semua pemimpin dari tingkat negara hingga dukuh di pedesaan terpencil dan menular kepada aktivis dan mantan aktivis mahasiswa hingga rakyat jelata.
Pekak telinga telah menjalar ke pekak panca indra, kepada peringatan alam, suatu kearifan budaya lokal yang di jaman nenek moyang kita, tanpa teknologi super canggihpun, masih dipelihara. Pekak dan degil inilah akibat panjang korupsi, korupsi akibat kerakusan dan bermegah megahan.
Dalam alQur’an, kitab suci agama yang saya anut, tak ada satupun surah yang menyebut larangan JANGAN sampai 3 kali, kecuali larangan bermegah megahan, apalagi bermegah megahan dengan hasil dari korupsi dan jika bermegah megahan diteruskan maka hanya akan berhenti di liang kubur. Korupsi itulah yang menggali kuburan besar rakyat di bumi indonesia yang sedang longsor digerusi banjir.
Nanang
Depok,
29Des07
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
Related posts:
- Revitalisasi Pendidikan: Isu Strategis yang Tercecer (1) Kondisi LPTK Jika kita berbicara mutu guru secara umum dan...