01 Jan, 2008
Guru Komandan Tempur, Guru Narasumber dan Guru Fasilitator
Posted by: Ahmad Rizali In: Guru|Pendidikan
Manusia berjenis mental jongos (postingku sebelumnya), hanya bisa dipimpin oleh manusia berkelakuan komandan militer. Semuanya aktivitas disampaikan berbentuk brifing dan instruksi dan si bawahan harus selalu mengulang apapun perintah (instruksi) yang diteriakan komandan (biasanya komandan mesti berteriak, agar instruksi jelas, tidak bermakna ganda).
Jadi, bisa saja sebuah kultur militeristik terbentuk karena awalnya pemimpinnya bermental komandan tadi dan lambat laun, anakbuah terbawa menjadi bawahan pak kumendan. Tetapi, bisa jadi bawahan yang berkelakuan jongos tadi memang lebih cocok jika dipimpin dengan gaya kumendan. Penyeragaman dan disiplin serta bahasa kekerasan mati adalah ciri utama kultur itu, tidak ada prajurit yang harus debat dulu dengan komandannya, karena ya pasti sudah ketembak. Cobalah amati, sekolah negeri dengan kepsek yang agak bergaya militeristik biasanya sukses membuat guru bekerja keras, meski menggerutu dan akhirnya cukup berprestasi, cilaka 3 belas jika gurupun bersikap seperti kumendan kepada muridnya.
Narasumber lain lagi, yang ini biasanya cuma memberi wacana wacana dan tidak peduli, apakah hal itu dikerjakan atau tidak. Mirip pekerjaan konsultan yg tugasnya memberi advis dan sipenerimalah yang memutuskan apakah advis dipakai atau tidak. Narasumber biasanya manusia setengah dewa, karena tidak pernah ada pertanyaan yang tidak mampu dia jawab (mungkin karena merasa wajib menjawab), sengawur apapun, kan narasumber ?… Nah, meski ada diskusi, gaya pembicara dalam pelatihan P4 jaman orba itulah contoh yg paling cocok yang disebut narasumber. Saat ini, guru, dosen, widya iswara sering memainkan peran narasumber. Narasumber nasional, apalagi pengamat ekonomi, honornya besar, sekali bicara selama 2 jam dibayar 5-8 juta perak.
Jenis ketiga adalah fasilitator, tugasnya ya to facilitate atau mempermudah sesuatu… konon guru modern adalah fasilitator, sehingga mereka bertugas mempermudah murid belajar dan menjadi pembelajar. Fasilitator itu seperti katalisator, dia bukan anasir utama, ibarat lem dalam tripleks. Karena posisinya yang tidak pernah jadi pemeran utama itu, pekerjaan ini jarang disukai orang, apalagi honornya kecil dengan beban kerja yang berat. Fasilitator hebat harus betul2 mampu merangkum dan mengkonstruksi beragam ide yang difasilitasi menjadi sebuah kolektif ide yg dahsyat dan fasilitator tersebut harus mampu menjadikan hasil diskusi menjadi milik bersama.
Tetapi menjadi fasilitator bukan pekerjaan mudah, karena bukan berperan sebagai narasumber, mereka harus sering mengatakan tidak tau, jika ada yang bertanya dan selalu bertanya untuk mempertajam pendapat yang difasilitasi. Apalagi proses fasilitasi bukanlah brifing tempur atau indoktrinasi ideologi atau diskusi dgn narasumber, tetapi fasilitasi adalah proses merangkum dan menyusun, mengkonstruksi ide kolektif dengan cara memudahkan peserta, sehingga fasilitator ibarat moderator dari diskusi yang semua pesertanya adalah narasumber. Fasilitasi juga memerlukan kesabaran dan konsentrasi agar target hasil kolektif tercapai dan sering dibantu oleh berbagai metode.
Jika guru masih memiliki mental berfikir atau lebih kerennya, paradigma, sebagai narasumber, lebih parah lagi sebagai komandan tempur, alangkah sulitnya menjalankan tugas profesi sebagai fasilitator dalam pelaksanaan konsep active learning. Karena murid hanya akan diberi indoktrinasi dan instruksi dan lontaran informasi dan ide, tanpa ada upaya mengKonstruksi hasil pemikiran kolektif. So, konsep active learning di sekolah negeri adalah guru memberi tugas murid dan guru bengong2 menunggu murid menyelesaikan tugas itu, ini beberapa fakta yang saya saksikan di beberapa sekolah yang kukunjungi. Tetapi jangan salahkan Guru, karena umumnya mereka mengajar dengan cara meniru bagaimana mereka pernah diajar.
Depok
1/1/08
Nanang
Related posts:
- Berharap Guru menjadi Profesional dengan Cara Instan, Bisakah? Juraganku kaget ketika kukatakan bahwa program yg kubuat untuk memperbaiki...