02 Jan, 2008
Ketika Itu, Aku Begitu Mencintai Indonesia
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pernak-pernik
Tuhan memberiku karunia dengan keleluasaan waktu dan sepasang kaki yang kuat serta bersahabat dengan seorang petualang besar almarhum Norman Edwin. Kami menyusuri tanah sunda, Badui, tanah kapur di Maros Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan hingga pedalaman pulau Sumba, beragam gunung di Jawa dan bergaul dengan berbagai puak warga pedalaman.
Puncak petualangan kami ketika menapaki pegunungan bersalju abadi di kawasan papua selama berpekan pekan untuk merengkuh salju katulistiwa dan menggapai Carstenz Pyramid, sesudah kami dihantam hujan dan badai salju.
Ketika merambah pulau eksotik Sumba, kelapa suku menghormati kami dengan sambutan sekotak sirih pinang dan ketika aku mabuk sirih pinang, dia menyodorkan sepotong gula kelapa untuk melawan mabuk dan ayam hidup beserta sebilah pisau tajam. Mereka tahu, kami muslim dan dilarang makan babi yang baru mereka sembelih dan sedang di bakar. Kepala suku dan warganya menari hingga malam, sambil menyantap babi panggang, diterangi unggun dengan purnama mengintip, bak setiap episode penutup komik asterik, sungguh eksotik.
Indonesia adalah bentangan pasir panas, lumpur dan kelebatan hutan tropis yang lengas hingga pegunungan berselaput salju abadi dan keberagaman puak bak bintang dilangit.
Belasan tahun lalu, di kota industri galangan kapal Glasgow, menjelang pergantian tahun, salju turun dengan lebat dan sengaja aku turun dari apartemen, salju lembut menutupi jalanan dengan tinggi sedengkul. Sambil mengingat ingat Carztens Pyramid, aku berkeliling blok dan mampir ke kios pedagang Pakistan untuk membeli keripik kentang.
Ketika keluar kios, salju semakin lebat, aku menunggu sambil menggigil di serambi kios, di sampingku seorang skotlandia tua juga menggigil sambil mengumpati dinginnya udara dengan aksennya yang khas “Brave Heart”. “Dingin sekali,…..brengsek” umpatnya “di mana tinggalmu anak muda..?” dia bertanya, mulutnya bau alkohol. “dari mana asalmu…” dia kembali bertanya, ketika kujawab aku tinggal di asrama mahasiswa satu blok dari kios itu.
Di sinilah dalam hujan salju yang teramat lebat di negeri jauh di utara dan ketika itu bersuhu minus 5 derajat selsius, di teritis kios pedagang pakistan, aku dengan perasaan senang luarbiasa bercerita tentang sebuah negeri bernama Indonesia yang selalu hangat, karena disana selalu ada matahari, selalu seperti musim panas.
Indonesia adalah bentangan pasir panas, lumpur dan kelebatan hutan tropis yang lengas, surya dan rembulan hingga pegunungan berselaput salju abadi dan keberagaman puak bak bintang dilangit.
Aku melihat pak tua terkesima mendengar ada sebuah negeri seperti itu, ketika dia sendiri hanya merasakan matahari paling lama 2 pekan dalam setahun. Aku tidak peduli, meskipun mungkin ternyata pak tua itu sendiri tidak mengetahui di mana letak negeri itu, yang dia ketahui adalah Malaysia.
Saat itu dan hingga kini aku merasa begitu mencintai Indonesia.
Depok
Nanang
Jan 2008
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
No related posts.