AhmadRizali.Com

19 Feb, 2008

Diklat Abal-Abal Sertifikasi Guru

Posted by: Ahmad Rizali In: Kliping|Pendidikan

Anak sekarang menjuluki barang tak bermutu tanpa merek dengan sebutan ‘barang abal-abal’. Diklat profesi untuk guru yang tidak lulus uji portofolio bisa juga disebut ‘diklat abal-abal’.
Ada sebuah diklat profesi untuk guru SD di Jakarta yang mengajak pesertanya merancang dan melakukan pembelajaran seni secara integratif. Awalnya peserta diajak berdiskusi tentang esensi seni, kemudian mereka memilih tema pokok, yang dilanjutkan dengan pembuatan jejaring topik yang siap dikerjakan.

Jejaring yang tampak kusut itu, tanpa disadari peserta, merupakan cara memetakan pikiran dalam merancang tema pembelajaran. Pada saat itu temanya adalah ‘Minang dan Harmoni’. Lukisan, lagu, tari dan musik yang mereka rancang dan praktekkan sendiri, harus menimbulkan rasa harmoni di ranah Minang.
Di ruang kelas dan koridor luar kelas terlihat bekas cat air dan kuas berserakan. Ada juga lukisan yang sudah selesai dibuat dengan konteks Minang dan harmoni, yang dipamerkan di sepanjang koridor.

Sementara itu, sebagian guru berkerumun di sekitar rekannya yang memainkan keyboard, bersama-sama mereka melantunkan lagu-lagu Minang. Peserta lain menabuh gendang dan tiga orang guru menari tari piring.

”Sudah empat piring pecah berantakan,” ujar fasilitatornya, seorang dosen perempuan yang cantik dengan wajah gembira. Meskipun terasa hiruk pikuk, pembelajaran yang partisipatif, aktif, inovatif, kreatif dan efektif serta menyenangkan (PAIKEM) ini dipraktekkan tanpa gembar gembor.
Diklat pun berjalan sangat cair tanpa canggung.

Ibarat ikut bermain dalam jam session di perhelatan Festival Jazz, setiap peserta dapat dengan mudah terlibat aktif atau memilih beristirahat.
Sayangnya, banyak kelas apresiasi seni dan kelas topik diklat lainnya terkesan ‘abal-abal’ alias sangat membosankan. Deretan kursi disusun kaku di dalam kelas sempit, menghadap ke papan tulis dan layar proyektor. Peserta terkantuk-kantuk mendengarkan fasilitator yang duduk di kursi, berceramah menggunakan LCD proyektor.

Guru peserta diklat menyimak, bahkan mungkin ada yang sedang berpikir keras, bagaimana kelak mempraktekan ilmu yang sedang dipelajari itu kepada murid-muridnya nanti, karena sekolahnya tak memiliki alat canggih itu. Bahkan melihat komputer yang bisa ditenteng dan LCD proyektor pun, baru kali itu dialami.
Diklat Profesi memang terkesan ‘abal-abal’ (tidak serius). Bayangkan saja, fasilitatornya para pengajar di perguruan tinggi, bahkan sebagian berpangkat profesor. Mereka harus mengajari guru peserta diklat serangkaian jurus praktis cara mengajar murid SD dalam mata pelajaran apresiasi seni, matematika, sains dan IPS.

Tak pelak lagi, para fasilitator hanya mengajarkan apa itu seni, matematika dan sains serta IPS sebagaimana dosen menceramahi mahasiswa, bukan bagaimana mengajarkan materi-materi tersebut di sekolah dasar.
Jika cara diklat seperti ini diteruskan, tak bisa disalahkan jika guru alumni diklat profesi akan mengajar muridnya di SD tempatnya bekerja, seperti sang dosen mengajar mahasiswa.
Itu masih tergolong bagus. Jika guru tak cukup cerdas dan tak cukup modal mengajar dengan cara berceramah terus menerus, mengajarlah dia dengan cara ‘abal-abal’ saja.

Toh mereka sudah memegang sertifikat profesi guru. Meskipun sebetulnya mereka belum layak menjadi guru, mereka dapat lulus dalam sertifikasi portofolio melalui diklat ‘abal-abal’ tersebut.
Berat nian upaya memperbaiki pembelajaran di sekolah Indonesia ini. Fasilitator di hampir semua institusi penyelenggara diklat umumnya masih kurang peduli pada esensi diklat.

Ada banyak kabar yang lebih memprihatinkan berkait diklat guru profesional ini. Di pusat guru berlatih yang tersebar di semua provinsi, keadaannya lebih parah lagi. Selain caranya yang ‘abal-abal’, penyelenggaranya juga senang mengorting waktu yang disediakan untuk berlatih, dari yang seharusnya sepekan menjadi hanya empat hari, namun honor mengajar dan perjalanan dinas tetap sepekan. Dengan demikian, selain terjadi korupsi penggunaan uang negara, juga terjadi manipulasi jumlah jam berlatih.

Ahmad Rizali
Penulis adalah staf ahli Klub Guru dan pendiri CBE di Jakarta

Sumber: Surya

No Responses to "Diklat Abal-Abal Sertifikasi Guru"

Comment Form

Categories