20 Mar, 2008
Lulus Sertifikasi kok Dinilai Teman Sendiri
Ketua Tim Monitoring dan Evaluasi Sertifikasi Guru Independen Ahmad Rizali

“Lulus Sertifikasi kok Dinilai Teman Sendiri”Ada banyak temuantentang kecurangan dan kesalahan selama proses seleksi portofolio.Banyak juga
ketidaklulusan sertifikasi karena guru tidak mengerti menyusun portofolio.Jadi,bukan gurunya yang
tidak pintar atau tidak aktif di kegiatan
KINERJA Tim Monev dinanti banyak pihak, baik pemerintah, LPTK, asesor, dan para guru di Indonesia. Banyak keluhan dari guru tentang berbagai kecurangan. Bagaimana Tim Monev merespon itu semua. Simak wawancara reporter edukasi dengan Ketua Tim Monev Independen Ahmad Rizali berikut ini.
Kerja Tim Monev tak terdengar nyaring, apakah memang Tim Monev tak bisa melakukan eksekusi bila melihat kesalahan?
Kami memang membatasi diri. Kami tidak melakukan eksekusi apa pun selama melaksanakan monitoring dan evaluasi sertifikasi guru ini. Setelah terbentuk Tim Monev, kami kemudian menyusun mem-break down tugas dan kewenangan dan apa saja yang harus dilakukan. Ibaratnya, kami hanya memasang mata dan telinga saja. Kami mencatat apa yang kami temukan di lapangan dan setelah itu menyerahkan rekomendasinya kepada pemerintah—Dedpiknas.
Artinya, setelah sekian bulan, kerja Tim Monev tidak ada hasilnya?
Ada. Kami banyak menemukan hal-hal yang perlu dicatat selama pelaksanaan sertifikasi guru. Catatan-catatan ini penting sebagai rujukan bagi pemerintah untuk melaksanakan termasuk melakukan eksekusi di lapangan. LPTK mana saja yang melanggar, apa saja kelemahan dan kesalahannya, pemerintah punya kuasa dan kewenangan mengeksekusinya.
Bagaimana kalau pemerintah hanya meletakkan seluruh rekomendasi Tim Monev di bawah
meja. Artinya, rekomendasi itu hanya sekadar rekomendasi dan tidak ada tindak lanjutnya.
Yang salah tetap melakukan kesalahannya dan yang buruk tetap tidak pernah ditegur dan tidak memperbaikinya. Pemerintah diam saja. Apa yang Anda lakukan?
Tentu saja kami tidak diam. Kami melakukan kritik lagi di luar semampu kami. Kami sudah bek-
erja maksimal dan menyerahkan laporan temuan di lapangan.Tanggung jawab itu ada di pemerin-
tah karena merekalah yang memiliki kewenangan mengeksekusi. Tinggal apakah pemerintah
mau memberi sanksi kepada setiap kesalahan ataukah tidak. Pemerintah juga punya kewajiban
menghapus kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan selama proses sertifikasi ini.
Temuan apa yang paling fenomenal selama proses sertifikasi berjalan?
Ada banyak hal yang fenomenal. Banyak guru di daerah yang tidak lulusan S-1 atau D-4. akibatnya, kuota daerah yang ditetapkan pemerintah tak pernah terisi habis. Kunci sertifikasi ada di LPTK. LPTK yang baik bisa melaksanakan sertifikasi dengan tertib, tidak ada kesalahan proses, pemberkasan dan sebagainya. LPTK induk juga rakus dengan uang karena tampak memonopoli tugas asesmen portofolio. LPTK mitratidak lagi menjadi mitra tetapi lebih tepat subordinate. Tujuannya jelas agar LPTK induk lebih banyak menerima anggaran dari pemerintah sedangkan LPTK mitra tidak banyak kebagian.
Anggaran kan sudah diberikan secara keseluruhan ke LPTK induk, meskipun yang diasesmen hanya separo. Artinya ada sisa anggaran di LPTK dan rawan dikorupsi atau dimanipulasi?
Kami belum sampai memantu dari sisi anggarannya. Pernah kami tanyakan. Kebanyakan LPTK mengaku kekurangan duit selama proses sertifikasi. Anehnya, mereka selalu memberikan gratifikasi kepada Tim Monev. Kami pernah diberi hadiah seperti itu tetapi kami menolaknya. Anehnya, justru LPTK itu heran.
Sebab, selama ini, pemberian seperti itu tidak pernah ada yang menolak. Kami coba diskusikan dengan anggota Tim Monev (Dr. Mohammad Abduhzen mewakili Institute for Education Reform (IER)-Universitas Paramadina Jakarta; Ahmad Rizali M.Sc. mewakili The Centre for The Betterment of Education sebuah CSO di Jakarta;Dr.rer.nat.Bambang Heru Iswanto, mewakili Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI); Dr. Ivan Hanafi, mewakili Aptekindo; Marcell Marcellino Ph.D. mewakili Universitas Katolik Atmajaya dan Dr. Unifah Rosyidi mewakili Persatuan Guru Republik Indonesia(PGRI).). Sayangnya anggota banyak yang diam dan tidak membahasnya lebih detail.
Bagaimana dengan kecurangan selama proses sertifikasi?
Ada banyak temuantentang kecurangan dan kesalahan selama proses seleksi portofolio. Banyak juga ketidaklulusan sertifikasi karena guru tidak mengerti menyusun portofolio. Jadi, bukan gurunya yang tidak pintar atau tidak aktif di kegiatan. Betul-betul hanya masalah tidak bisa menyusun portofolio seperti yang dipersyaratkan. Anehnya, ketika dilakukan pelatihan selama 90 jam, baik yang punya nilai terendah sampai tertinggi, sama-sama harus mengulangi lagi dari nol. Guru yang salah satu dengan yang salah sembilan, misalnya, tetap harus mengikuti pelatihan selama 90 jam nonstop dan dilakukan ujian kembali. Aneh memang. Seharusnya kan tidak begitu.
Bagaimana pelatihan bagi guru yang tak lulus uji portofolio itu dilakukan?
Ini temuan yang tak masuk akal. Ada guru-guru yang tak lolos sertifikasi diikutkan dalam pelatihan selama 90 jam dalam waktu hanya 5 hari. Artinya, dalam sehari para guru itu digembleng selama 15 jam lebih. Saya lihat kondisi mereka loyo semua. Ini tak masuk akal dan memang tampak akal-akalan saja. Apa mungkin pelatihan ini bisa meningkatkan mutu guru. Saya tak yakin.
Artinya pelatihan itu cuma akal-akalan agar memenuhi syarat untuk lulus sertifikasi?
Saya yakin mereka akan diluluskan semua.Saya coba cek bagaimana sistem penilaiannya. Ternyata yang menilai juga teman-temannya sendiri. Kerapihan baju juga bisa menentukan kelulusan pelatihan itu. Jadi, memang banyak kelemahan.
Tim Monev tidak menegur dan meminta agar pelatihan diulang kembali?
Kami mencatat saja. Itulah tugas kami. Kami akan melaporkan berbagai temuan ini ke pemerintah. Seharusnya pemerintah yang bergerak untuk membatalkan atau mengulang pelatihan semacam itu.
Kapan masa kerja Tim Monev berakhir?
Belum tahu. Akhir tahun kami diminta membuat laporan dan kami sudah melakukannya. Tugas kami selanjutnya kemungkinan bergantung anggaran. Kalau anggarannya ada ya kami akan melanjutkannya.
(***)
Sumber: Klub Guru
Related posts:
- Tim Monev Pantau Sertifikasi Guru Jatim Pelaksanaan sertifikasi guru di Jatim akan dievaluasi tim monitoring dan...
- Menakar Sertifikasi Guru Oleh Ahmad Rizali Sejak 2006 hingga 2007 sekitar 200.000 guru...
- SERTIFIKASI GURU TIDAK MAMPU MENINGKATKAN MUTU GURU? Sekitar 200 ribu guru sejak Tahun 2006 hingga akhir 2007...