Krisis dan Rendahnya Martabat Manusia
Pekan ini makan rasanya tak nyaman, warga masyarakat berdesak desakan mengantri minyak tanah, beras untuk warga miskin dan minyak goreng, kadangkala mereka saling injak. Telur ayam negeri mencapai 14.000,-/kg, artinya sebutir telur yang kecil sudah seharga 1.000,-. Ikan asin juga sulit dicari, karena terpaan ombak besar.
Di sana sini, balita kurang gizi semakin bertambah, sebentar lagi musim kemarau, terpaan kesulitan akan semakin mengganas warga negara indonesia, negeri yang sebenarnya kayaraya, namun menjadi semakin kurus kering disedot anak bangsanya sendiri dan bangsa lain.
Dana hasil korupsi luber kemana mana, belum usai penangkapan jaksa Urip, Koran Tempo membeberkan kemewahan 4 wakil rakyat plesiran ke NewYork dan London dengan biaya Bank Indonesia, itu uang haram. Namun, wakil rakyat dari partai yang konon bersih itu menampik, meski ada bukti. Wakil rakyat yang mulia itu panik dan menuduh koran Tempo memfitnah.
Baru saja kulihat di TV, BBM khusus orangkayapun, Pertamax sudah naik menjadi lebih 8.000,-/liter, bahkan di depok minyak tanah sudah mencapai 7.000,-/liter dan minyak goreng 24.000-/ 2 liter.
Petani yang semestinya tersenyum saat panen, saat ini sedang bersedih. Ada yang panennya gagal diterjang banjir adapula yang hanya dibeli tengkulak seharga 1.800,-/Kg gabah kering, berbeda dengan harga resmi Bulog yang 2.000,-/Kg, namun petugas Bulog tak tampak batang hidungnya, petani selalu terpaksa tirakat tiap Tahun.
Warga miskin di kota lain lagi, di TV ditayangkan warga yang hidup di bawah Tol dalam kota sedang menanak nasi, menggunakan bekas kayu pulungan, namun ibu itu lebih beruntung dari seorang lelaki yang kulihat saat berjalan kaki di sebuah kompleks mewah beberapa pekan lalu, dia sedang mengorek orek sampah makanan, sembari memasukan sesuatu kemulutnya.
Kesusahan itu kontras dengan tak pernah sepinya cafe, mall dan square dari pengunjung dan pemuda pemudi penongkrong di sana. Kopi seharga 26.000,- secangkir terasa ringan disruput, belum lagi kue keju yang bak mencair saat masuk ke mulut. Di luar, mata mata lapar diusir satpam, karena mengotori kenyamanan pemandangan yang bertabur kemakmuran. Supir Taxi yang tak tentu penghasilannya berebut penumpang. Lobi Hotel dari yang kacangan hingga berbintang lima juga tak pernah sepi dari tamu yang cantik dan tampan, kakek dan nenek yang masih wangi dan perlente.
Sementara itu, Metro TV dengan bagus menayangkan begitu besarnya makna air bagi kehidupan dan bagaimana bangsa Indonesia memperlakukan air bagi kehidupan. Di satu sisi, air bersih sangat diperlukan untuk memasak dan minum oleh warga di daerah krisis air, baik yang terkena banjir atau kekeringan, namun ribuan orang berendam dalam bath tub mandi busa sabun dan menggelontor diri dengan berkubik kubik air bersih. Bahkan, ribuan dari mereka mengisi kolam renangnya, tanpa pernah dipakai.
Sanitasi kita ternyata buruk sekali, apalagi jika yang ditampilkan adalah kehidupan warga miskin urban, mereka sudah menggunakan air sanitasi sebagai MCK, sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin air tidak suci dapat menyucikan badan dan pakaian. Hanya 18% warga yang mencuci tangan dengan sabun sesudah buang hajat. Hal yang wajar, karena bagaimana mungkin membeli sabun jika air saja sulit terbeli. Sebuah organisasi pengamat sanitasi di berbagai negara menyatakan, Indonesia barulah 200 Tahun lagi akan menggapai tujuan yang diharapkan, itupun jika pemerintah konsisten berbuat sesuatu.
Air itu ibarat enersi, dia memiliki siklus yang tidak akan hilang, dia hanya berubah bentuk, dari airlaut, menguap, jadi awan, menjadi hujan, diserap tanah dan tanaman, kemudian digunakan manusia. Air tak pernah hilang dia adalah kehidupan.
Mungkin karena seperti udara yang dahulu gratis, kita lalai menjaganya. Krisis air adalah lalainya manusia menahan air bersih untuk tinggal lebih lama bersama manusia, sebelum menjadi kotor dan menuju lautan. Saat ini tidak banyak perkotaan di negeri ini yang masih menggratiskan air bersih, sebagaimana udara bersih.
Negeri apa ini, ketika negeri lain semakin membuat warganya terlayani, negeri ini semakin tak memberi apapun untuk warganya yang terkesampingkan “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara”, demikian para pendiri bangsa ini menulis dalam Konstitusi, pasal itu belum dicabut, namun kapan bisa dilaksanakan ? Rasanya, merdeka selama 60 Tahun lebih, sudah cukup untuk, sedikitnya membuat warga negara tidak kelaparan dan hidup dengan layak.
Mari kita saksikan, apakah kesedihan warga negara golongan kecil di negeri ini masih akan seperti itu dalam beberapa bulan lagi ? Jika masih dan bahkan semakin parah, bersiaplah,… kesulitan dari keterjepitan hidup dan kelaparan mampu membuat mata nanar dan dengan mudah disulut untuk melakukan apapun, lapar itu mendekati keingkaran dari kebenaran.
Depok
5/4/08
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
No related posts.