Tepat pukul 20.20 pesawat GA yang kutumpangi dari Palembang mendarat dan seusai memungut kardus empek empek yang kutitipkan bagasi, aku bergegas menuju antrian taxi bermodus pembayaran voucer itu. Biasanya, jika uang perjalanan dinas cekak, aku akan mengantri bus bandara, menuju pasar minggu dan berTaxi dari sana. Jika waktu cukup, pakai mikrolet juga bisa, disambung Ojek, sehingga dari Bandara cuma membayar 27.000 sudah sampai di depan pintu pagar rumah.
Ternyata antrian Taxi BlueBird mengular, sebetulnya dengan sedikit bermuka tebal dan nakal, bisa saja naik ke lantai 2, di tempat pemberangkatan. Biasanya saat penumpang turun dari Taxi, kita langsung menyerobot masuk ke dalam sedan taxi itu, sebelum pintu ditutup, namun takut menanggung resiko malu diomeli satpam, kubatalkan keinginan itu dan melangkah menuju antrian SirverBird, kupilih Mercedes hitam daripada Cedric yang berisik.
Sangat nyaman dan mewah memang kendaraan ini, meskipun aku juga pernah numpang mobil teman yang sejenis dan bermesin 6 liter, tetap saja kenyamanan versi 2,4 liter ini masih terasa. Kupencet tombol reclining seat, ternyata diatur dengan elektrik, tidak “njegleg” seperti mobil murahan. Supirnya yang ber seragam coklat kehitaman sangat sopan dan mahir dalam menyetir, dia bilang konsumsi bensinnya 5 Kilometer se liter dan jika diTol, menjadi 7 Kilometer se liter atau rata2 6 kilometer per liter. Jika Bandara Cengkareng ke Depok berjarak sekitar 90 Km, dibutuhkan sedikitnya 15 liter atau sekitar 70 ribu.
Berbeda dengan versi burung biru saudaranya, SilverBird juga dilengkapi dengan penyetel musik dan radio, dan kuketahui ketika dengan norak seperti balita,aku bertanya apa saja kepada pak Supir, sambil nyaris tiduran merem melek di kursi yang sangat ergonomis dan halus itu, dengan nyaris tanpa gemludug di jalan, aku menikmati Jazz dari Radio 99.9 yang suaranya trebelnya seperti gemericik air dan suara basnya begitu bulat.
Tanpa rasa kesal dan capai, aku tiba di depok sambil berfikir, pantas saja kendaraan bertarif 240 ribu dari Bandara hingga Depok, termasuk Tol dan surcas itu begitu membius semua orang yang masih belum menjadi resi, apalagi yang memang penganut hedonis. Namun, aku terperanjat ketika kembali terngiang “bermegah megahanlah kalian hingga ke liang kubur, jangan lakukan itu dan jangan lakukan itu, jangan lakukan itu dst”… rasanya tak ada peringatan Tuhan dalam Kitab Suci Umat Islam itu yang ada kata larangan dalam satu larik ayat kecuali di surat “bermegah megahan”.
Entahlah, mungkin aku sudah kadung ditakut takuti oleh ayat ayat itu, jadi buat mereka yang memang ingin bermegah megahan dengan cara apapun, platinum card, super eksekutif klub dan semua super kemegahan dunia, silahkan saja, toh kalian tidak mengganguku, meskipun mungkin mengganggu yang lain, silahkan nikmati hingga liang lahat.
Sepekan kemudian, mewakili kantor menghadiri pengukuhan Guru Besar Kyai Ala Bashir di IAIN Sunan Ampel, membuatku harus bangun menjelang fajar, kukejar pesawat ke Surabaya dengan taxi jam 03.30, tepat 04.30 aku cek-in dan ternyata pesawat terlambat hampir sejam. Sarapan kue di pesawat tak membuat mataku kehilangan rasa kantuk, di setengah perjalanan mataku terpejam namun tak nyenyak.
Tiba di Surabaya, kendaraan sewaan yang mengantarku, kuminta mencari warung soto Madura, kami nongkrong di warung soto madura “Wawan” dipinggiran jalan A.Yani mengundap soto daging, krupuk dan teh panas manis. Nikmat sekali…
Waktu yang masih cukup, kugunakan menulis posting ini diparkiran IAIN Sunan Ampel sambil mendengarkan alunan Conny Francis yang luarbiasa indah, hanya selapis di bawah suara Ummi Kultsum, Aldila mengalun indah …. disusul suara Nat King Cole.
Sungguh nikmat mendengarkan suara suara indah itu di hari sabtu, sesudah perut kenyang mengundap soto madura dan menunggu pengukuhan guru besar seorang sahabat, muslim intelektual yang sangat rendah hati, bersahaja dan seorang keturunan Kyai besar pula. Selamat Profesor K.H. Ala Bashir, atas prestasi akademik anda.
Pidato pengukuhan yang ditulis dari hasil penelitian tentang radikalisme kaum padri di Sumatra Barat, menambah wawasanku tentang Islam Padri disana.
Nanang
17/5/08
IAIN Sunan Ampel
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
No related posts.