06 Jun, 2008
Setelan JAS, Safari, Batik dan Budaya Kita
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pernak-pernik
Tuntutan pekerjaan membuatku harus menemani seorang pakar dan praktisi sekolah Internasional menjelaskan konsep United School Internasional (USI) program milik Sampoerna Foundation kepada seorang Bupati, wakilnya dan kepala DPRD serta jajaran pimpinan eksekutif Kabupaten dan Legislatifnya di pedalaman Sumatra.
Seperti biasa, acara terlambat dimulai karena menunggu pak Bupati dan kulempar pandangan ke seantero ruang rapat Kabupaten yang modern, rapi, indah dan dingin itu, maklum daerah ini punya minyak dan gas di perut buminya. Lebih 30 pimpinan pemerintahan hadir dalam rapat, namun tak kulihat satupun yang berdasi, kecuali pakar temanku yang berkebangsaan inggris itu. Akupun, karena sedang trend di Jakarta, mengenakan baju batik bekas hadiah panitia nikahan, akupun sendirian berbatik. 90% pejabat tersebut berpakaian setelan safari berwarna gelap dengan lengan pendek.
Safari lengan pendek, warna gelap tersetrika rapi, di jaman alm Presiden Soeharto menjadi simbol keperkasaan pejabat tinggi pemerintahan. Mulai Presiden, hingga pejabat kepala seksi yang eselon 4 di Jakarta dan daerah menggunakan Safari. Saat itu, batik yang terkenal hanya bermotif Korpri PNS dan inipun simbol kekuasaan. Mereka yang bersetelan Safari dan saat upacara berbatik Korpri, pastilah pejabat pemerintah dan sangat berkuasa.
Setelan Safari akhirnya diikuti oleh pengusaha, mulai dari yang gurem, hingga tajir. Pengusaha pribumi berhidung pesek, hingga keturunan arab yang mancung, dan keturunan cina yang bermata sipitl, hingga India yang tinggi besar brewokan, bersetelan Safari. Jika berpakaian selain itu, rasanya seperti, bercelana pantalon tanpa bercelana dalam, risi, kurang sreg.
Saat itu, yang membedakan siapa pengusaha dan siapa penguasa bisa ditebak hanya dari sikapnya berdiri saat keduanya bertemu. Jika dia berdiri dengan kedua tangan menutupi kelamin, biasanya dia pengusaha. Penguasa senang melipat tangan kebelakang dan dagu agak dinaikan.
Simbol keperkasaan sebagai penguasa dalam cara berpakaian ini, pelan tapi pasti ditiru pejabat daerah. Gubernur dan Bupati, Walikota, Sekda, Kepala Dinas, Kanwil hingga kepala DPRD Tkt-I dan II juga bersafari, sikap penguasa lokal inipun diikuti oleh pengusahanya, bahkan saat alm Soeharto tuntas memimpin indonesia selama 25 Tahun, tuntas pula gaya bersafari ini. Lurah dan Kepala Desa hingga Carik (Kepala Tata Usaha Desa), bahkan Jagabaya (Kepala Sekuriti Desa) serta pengusaha lokal sudah pula berbaju Safari dan PNS nya berseragam batik Korpri jika upacara bendera.
Jaman berubah, reformasi Tahun 1998 mencampakkan simbol simbol keperkasaan dan kekuasaan serta menjadikannya bahan tertawaan, bahkan motif batik Korpripun diganti. Pejabat Tinggi membuang baju safarinya jauh jauh dan mengganti dengan baju koko dilapis setelan jas. Sebagian lagi senang berbaju putih bersih dengan dasi, persis seperti profesional di pasar modal. Baju Safari dengan sangat cepat menghilang, secepat kepergian pemerintahan lama !!
Awal Tahun 2003, banyak pejabat mulai menyukai batik dari lengan pendek hingga panjang. Tentu jika pejabat, baju batiknya pasti sedikitnya berharga 250 ribu sebuah, itu termurah. Banyak pejabat yang berbaju batik sutra seharga jutaan dan trend ini menjadi pemandangan sehari hari di Jakarta. Aku juga ikut menjadi pencinta batik katun murahan yang jika sering dipakai dan dicuci, warnanya luntur. Perempuan Jakarta juga sedang gandrung, mabuk kepayang dengan batik, senang rasanya hati memandangi wajah wajah cantik eksotik puak melayu berbatik dan cerdas pula.
Perubahan gaya berpakaian yang egaliter dan menunjukkan keberpihakan kepada produk lokal dan artistik itu belum terasa menular ke Kabupaten kecil di utara Palembang itu, para pejabatnya masih berpakaian safari dengan budaya yang orba banget. Meskipun Bupatinya sudah berbaju koko putih jenis teluk belanga dan berpeci hitam, serta fasih berbahasa Inggris. Nampaknya, cara bangsa berpakaian menujukkan perilakunya.
Tabik
20/6/08
Nanang
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
No related posts.