Sejak beberapa Tahun terakhir ini, apalagi sejak begitu banyak bencana menimpa negeri ini, seremoni pertobatan dan mengingat Tuhan masal terjadi dengan marak. Bahkan untuk menyumpal banjir lumpur sedahsyat itu, masyarakat rame rame meminta Tuhan melakukannya ….. salahkah sikap seperti itu ?
Tidak ! Tetapi miris, karena semakin sering pengingatan dan pertobatan masal itu dilakukan dengan gegap gempita, nasib rakyat kecil bukannya semakin baik, bahkan antrian minyak tanah makin panjang, tempe dan tahu makin tak terjangkau, gaji bulanan tak cukup dibelikan beras dan lauk, airkopi semakin pahit dan belulang semakin terlihat jelas dalam balutan kaus usang.
Seorang ibu gara gara cerita temannya, begitu gandrung dengan pelatihan sejenis meningkatkan kecerdasan spiritual dan emosi, tetapi ketika dia membaca buku yang mampu terjual begitu banyak itu dan ditanya suaminya apa isinya, dia tersenyum malu. Ternyata, isi buku tidak seperti yang dia harapkan. Jargon pelatihan kecerdasan spiritual dan emosi adalah sebuah kemasan baru cara mengajak manusia bejat kembali ke jalan kebenaran, semacam cara berkhutbah yang dahulu gratis, namun dengan cara ini, harus membayar.
Karena untuk kembali ke jalan yang benar, manusia harus mengeluarkan uang, karena jalan kebenaran ternyata laku dijual, maka sekali lagi, rakyat kecil akhirnya tertinggal, tak mampu membayar untuk meniti jalan ke surga, sebuah harapan terakhir yang sia sia, sementara hidup di dunia sudah bak neraka.
Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan sejenis penguatan emosi dan spiritual itulah yang membuat manusia berduit merasa bersih dari dosa, setelah membayar kepada penyelenggara pertobatan dan mampu menangis tersedu sedu. Kelompok manusia seperti ini pada akhirnya ikut mendorong kebenaran tesis Karl Marx, agama adalah candu yang membuat manusia lupa esensinya sebagai manusia.
“Kita tidak berbuat apa apa untuk meniadakan suasana yang melahirkan orang orang seperti itu, malahan kita mendorong tumbuhnya lembaga lembaga yg menumbuhkan mereka…juga menganggapnya perlu, mendorongnya dan mengaturnya….” Begitu Leo Tolstoy menyindir masyarakat Rusia di akhir abad ke 19, dan berakhir dengan pengucilan dirinya oleh pemuka agamanya.
Zikir dan pertobatan masal serta pelatihan penguatan spiritual dan emosional tersebut jika menjadi trend dan arus besar, bisa jadi hanya akan membelah kepribadian manusia, semestinya sebagai manusia merdeka yang sudah terdidik dengan sangat baik, mereka akan mengutamakan esensi ruhani yang sesungguhnya, tanpa kehilangan rasionalitas.
Akan tetapi dengan candu ini, mereka hanya akan lebih mengutamakan simbol kesalehan kasat mata, meskipun tidak salah, seperti:seragam, tempat ibadah yang mewah, tur spiritual berulang kali dan pelan tapi pasti, meninggalkan kesalehan hakiki, seperti integritas pribadi, keberanian, kemerdekaan dan kemandirian bersikap dan berfikir rasional, kerja keras dan bersahaja dalam menjalani hidup.
Pendidikan umum dan pendidikan agama kita yang semakin hedonis dan mengekor pertumbuhan ekonomi nampaknya telah gagal, karena secara sistemik telah membuat semua anak bangsa hanya ingin menjadi Kaisar kaya raya dan sangat berkuasa seperti Zulkarnaen Yang Agung dan melupakan kemuliaan AlMasih as.dan Muhammad saw. yang berdiri sampai mati disisi kaum tak berpunya.
Nanang
email: nanang@sepedauntuksekolah.org
Related posts:
- Revitalisasi Pendidikan Guru/LPTK, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Sebagaimana posting di milis ini, pemerintah mulai menunjukan keseriusan dalam...