12 Oct, 2008
Sepakbola adalah Cermin Masyarakat Kita
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pernak-pernik
Sepekan lalu, sebuah stasiun TV menayangkan pemukulan seorang manajer sebuah klub sepakbola Indonesia kepad seorang wasit yang dianggap tidak adil ketika memimpin pertandingan timnya. Wasit hanya bisa pasrah dan penoton juga pasrah menyaksikan. Bayangkan jika seorang Jose Maurinho menempeleng kepala Wasit tidak terkenal di liga Primer Inggris itu, aku yakin Maurinho pasti meringkuk di penjara dan karirnya tamat. Begitukah Indonesia ? Tidaklah, … kan wasit sama saja dengan penegak hukum yg seringkali bebas dipermainkan penguasa.
Wasit atau penegak hukum memang seringkali bisa disogok, sehingga hasil permainan dan perkara yg mereka pimpin bisa berat sebelah. Ketika wasit dan penegak hukum tegas dan adil, penguasa yang bertikai dan bermain tidak puas, mereka protes habis2an dan seringkali tidak mau menerima keputusan wasit penagak hukum.
Wasit adalah raja dan keputusannya benar atau salah harus dipatuhi. Jika wasit salah, komisi disiplinlah yang harus tegas menghukum wasit jika memang sengaja, jika tidak sengaja, wasit kan juga manusia bisa salah. Adil atau tidak keputusan wasit saat itu, pemain harus patuh.
Wasit yg dalam masyarakat kita adalah penegak hukum harus tegas dan tidak bisa disogok, serta membela keadilan. Oleh sebab itu, polisi, jaksa, penasehat hukum dan hakim harus lugas, tegas dan adil serta pintar dan sangat mengerti bagaimana kaidah hukum berlaku. Jika para penegak hukum mempermainkan hukum untuk kepentingan sendiri, maka warga akan hilang percaya dan main hakim sendiri.
Organisasi sejenis FPI merupakan akibat lemahnya penegakan hukum dan kelambatan pelaksanaan. Mereka akan razia miras, jika polisi tidak melakukannya bahkan menjadi beking. Pelacuran, Judi dan semua perilaku bejat yg pada galibnya adalah melanggar aturan permainan hidup.
Main hakim atas praktek menjalankan ritual keyakinan juga akan terjadi, jika polisi tidak tegas menindak mereka yang dengan kekerasan memaksa pihak yang tidak sepaham untuk menghentikan praktek yg mereka yakini. Polisi harus menindak kelompok yang merusak dan mengancam kelompok yg melaksakan ritual kejawen seperti baru saja (12/10) di tayangkan TV.
Jika kelompok tersebut merasa paling benar dan memiliki Islam, bukankah islam sendiri mengajarkan kasih sayang, bahkan ucapan awal seorang muslim adalah “Dengan Nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang”, bukankah uluk salam dalam islam jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia berbunyi “Semoga kedamaian, kasih dan berkah NYA selalu tercurah untuk kalian semua” ?
Polisi harus tegas, lugas dan tidak pandang bulu, jika tidak sejarah akan berulang, pemaksaan atas nama agama yang berujung kepada peristiwa berdarah dimasa lalu akan terulang. Sesama kaum Sunni saling serang, apalagi Sunni ke Siah dan sebaliknya. Kesemuanya hanya dengan modal keyakinan yg jumud dan tidak diikuti dengan rasionalitas.
Apalagi, Indonesia bukan negara Agama, tetapi negara yang memberi kebebasan dan melindungi warganya untuk menganut agama sesuai keyakinan dan kesepakatan itu adalah keputusan sadar dan tentu hasil istikharah para bapak bangsa yang kesalehannya sebagai Muslim tidak usah diragukan. Siapa yg meragukan Kyai Hasyim Assyari sang hadratussyech, atau KH. Achmad Dahlan, Tio Sam Hong nya Muhammadiyah yg seperguruan dg Kyai Hasyim Asyari. Belum lagi Agus Salim, Maramis dan sebut saja yg lain.
Semoga saja gerakan “pemurnian agama” yg semakin lama semakin meruyak itu, tidak menjadi seperti gerakan Padri di Minang atau gerakan Wahabi di Saudi Arabia yang sebetulnya berakar pada ketidakadilan penguasa dan politisasi agama, demikian kata beberapa buku sejarah.
Islam di Indonesia sudah lebur dalam budaya Indonesia dan menjadi sebuah ritual agama yang kaya dan menarik. Jika ada yg agak nyleneh dari arus utama NU dan Muhammadiyah atau aliran besar lain, seharusnya biarkan saja dan negara harus melindungi. Jika toh menjadi besar dan pengikutnya semarak, seharusnya penganut arus utama mawas diri, mengapa “jualan mereka” menjadi tidak laku ? Jika arus utama yang mapan itu mampu menjawab kebutuhan penganutnya, lambat laun yg nyleneh itu akan hilang. Kuncinya penegak hukum harus adil dan tegas, Wasit harus lugas dan tidak main main.
Depok
12/10/09
Nanang
(asli ahlussunnah waljamaah, anak dari Bpk Muhammadiyah dan cucu dari kedua Kakek yang NU)
Related posts:
- Setelan JAS, Safari, Batik dan Budaya Kita Tuntutan pekerjaan membuatku harus menemani seorang pakar dan praktisi sekolah...
- Gagalnya Pendidikan (Agama) Kita? Sejak beberapa Tahun terakhir ini, apalagi sejak begitu banyak bencana...