AhmadRizali.Com

15 Oct, 2008

RSBI: Rintisan Mengubah Paradigma

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pendidikan|RSBI

Lebih dari dua jam tanpa berkomentar, kecuali bertanya, saya ikut rapat dengan 2 senior officer dari sebuah Foundation yang membantu beberapa SMAN terpilih menjalankan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dengan mengadopsi program IGCSE (level O) dari UK. 2 konsultan senior expatriat dari UK yang sangat mengenal bagaimana level O dipraktekkan baik dinegerinya maupun di asia dan manta direktur sekolah Internasional serta seorang expat USA mantan direktur sekolah Internasional, intensif berdiskusi, apakah IGCSE bisa dijalankan di SMAN tersebut.

Ketika mengunjungi Denpasar mereka menemukan kebingungan dari guru disana, karena otoritas depdiknas yg menyelia sekolah itu untuk urusan RSBI berpatokan kepada panduan RSBI Tahun 2007 yg diterbitkan mendiknas. Penyelia itu menginginkan agar KTSP dan Kurikulum IGCSE (Cambride) dibedah dan diaduk menjadi satu. Khas KTSP, irisan dan khas Cambridge harus diajarkan. Basis penyelia itu adalah, KTSP first, Cambridge to enrich !

Dia tidak salah, karena selama sekolah itu masih berada di Indonesia dan bukan sekolah Internasional, makan diwajibkan oleh UU Sisdiknas mempraktekkan kurikulum yang disebut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diterbitkan oleh BSNP dengan penyeliaan Pusat Kurikulum.

Ketiga expat itu puyeng dan salah satu dari mereka berkata setelah bertemu otoritas kurikulum di Jakarta, “Terlalu berat dan tidak mungkin mereka bisa lulus ujian level O, jika anda mengaduk dua kurikulum itu dan mengajarkannya sekaligus, karena pada dasarnya, meski umumnya isinya tidak banyak berbeda, tetapi cara penyampaian berbeda”. Bahkan, penyampaian dalam bahasa Inggris adalah mutlak, selain seringkali harus kontektual untuk negerinya.

Saya berpendapat, pelaksanaan RSBI adalah masalah mengubah paradigma. Mengubah paradigma adalah ibarat mengubah OS (operating system) sebuah komputer. Bagaimana mungkin sebuah paradigma mengajar yg berpusat kepada guru dan deterministik (misalnya windows unt PC), menjalankan sebuah kurikulum dengan paradigma berpusat kepada murid, mengutamakan proses dan underministik (misalnya aplikasi telepon seluler).

Deterministik dalam konteks tulisan ini adalah sebuah paradigma, hitam-putih, salah-benar, tertentu-tidak tentu atau ON-OFF, biner. Singkat kata, harus ada yg didetermine, ditentukan. Oleh sebab itu, semua tes yg menggunakan pendekatan deterministik adalah salah dan benar serta lebih mengutamakan isi. Proses adalah hanya alat untuk menuju hasil yg deterministik/ditentukan itu.

Sedangkan paradigma IGCSE adalah pendidikan yg sudah berpusat kpd guru, mengutamakan proses dan membentuk cara menalar, tidak penting apakah hasilnya benar atau salah. Meskipun ada pula proses salah benar, tetapi tidak dominan.

Bayangkan sulitnya mengajarkan pelajaran dengan cara diskusi, ketika sejak PAUD, guru sudah mengajarkan bahwa mewarnai kulit gajah itu abu2, belang zebra itu hitam putih, pemandangan itu sudah ditetapkan 2 gunung dengan matahari ditengah dan didepannya ada sawah dan ditengah sawah ada jalan raya dihiasi tiang listrik. Ketika SD, metode pembelajaran tidak berubah, bahkan hingga Perguruan Tinggi, tidak ada sebuah proses menemukan dan belajar mengkonstruksi dengan bimbingan guru.

Mengajarkan IGCSE dengan paradigma seperti itu adalah seperti memasang program aplikasi di OS yg tdk sepenuhnya kompatibel. Sehingga, ketika “succesfully installed” tidak dijamin bisa dipakai. Kurikulum IGCSE “seakan2 berjalan” dengan baik, namun kenyataannya tidak berjalan sebagaimana mestinya dan dijamin bisa berkelanjutan.

Selain mengubah paradigma yang pas, penguasaan esensi materi mata pelajaran dan penguasaan bahasa Inggris juga menjadi kunci. Esensi mata pelajaran mungkin tidak bermasalah karena guru bisa dipilih dengan baik, namun, mencari guru dengan dua kemampuan tersebut sekaligus sungguh sulit.?Sehingga dapat dipastikan, dengan miskin metodologi mengajar yg mendorong murid aktif dan rendahnya skill berbahasa Inggris, target lulus ujian IGCSE atau CIE sulit dicapai.

Usai rapat, konsultan ahli IGCSE itu membaca muka saya yang terlihat cemas dan berkata ” Anda terlihat cemas…”, saya hanya mengiyakan dan menimpali “Betul, karena bukan perkara mudah mencakokkan kurikulum IGCSE kepada guru yang melaksanakan KTSP saja belum mampu,…”. Dia hanya tersenyum dan berkata “Iya, tetapi kita toh harus memulai” dan saya jawab ” Betul, ceburkan saja semua guru ke praktek langsung bagaimana kurikulum IGCSE diajarkan, agar mereka semua langsung praktek tanpa kebanyakan teori, sembari mengubah paradigma berfikirnya”.

Ketika keluar dari ruang rapat saya tercenung, sungguh besar PR pendidikan di negeri ini, produk deterministik adalah anak bangsa yang sulit menerima keberagaman, karena cara berfikir dengan paradigma yang seragam atau ON-OFF dan semuanya hanya bisa selesai jika ada reformasi Pendidikan Guru dan konsisten dilakukan. Sertifikasi saja, yang merupakan program ambisius pemerintah, tidak mampu menjawab PR ini, apalagi jika pendidikan profesinya masih seperti dulu, melulu dijejali teori dan prakteknya tanpa pendamping dan penyeliaan best practice. Pantas saja pak Satria bilang ” RSBI itu subject to failure,…”. Pendapat yang lugas, tetapi mendekati kebenaran,…

Depok
14/10/08
Nanang

Related posts:

  1. PENDIDIKAN DAERAH DI ERA OTONOMI Pendidikan di tingkat Kabupaten/Kota (Kab/Kota) di era otonomi daerah semakin...

13 Responses to "RSBI: Rintisan Mengubah Paradigma"

1 | Zulfikri Anas

February 4th, 2009 at 2:44 pm

Avatar

Kehadiran SBI merupakan sikap “under estimate” terhadap pendidikan sendiri. Dari dulu kita menyuarakan sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu mengembangkan potensi yang ada dalam diri setiap anak didik, dan ppotensi yang khas yang kita miliki. Apabila pengembangan konsep SBi didasarkan atas standar yang dimiliki oleh negara asing, sampai kapanpun kita akan tetap menjadi “pengikut” atau “subordinate” dan ini yang menjadi cita-cita mereka. Suatu saat nanti, mereka akan menjadi pengendali mutu pendidikan, kita semua menjadi pengikut. Kita lupa bahwa kita punya potensi luar biasa dalam hal sistem pendidikan, jaman dulu, padepokan, pesantren, dan sejenisnya yang tidak terkontaminasi oleh konsep schoolling, mampu menghasilkan orang-orang yang bermutu.

Jika ingin anak-anak kita berkiprah di dunia internasional, bukan berarti kita ikut “format” mereka, karena sepanjang kita mengikuti format mereka, sela a itu pula kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Kita ingat Raja Ali Haji, Hamka, Agus Salim dll, adalah orang-orang yang tidak ada tandingannya di manapun. Hamka dkk membuktikan bahwa dia memiliki potensi yang khas sehingga tidak dapat dicari tandingannya, dunia internasional mengakuinya. Raja Ali Haji mungkin tidak bisa berbahasa Inggris, namun hasil karyanya mendunia. Orang-orang seperti Hamka dkk. tidak terlahir dari sistem pendidikan “boneka”, Beliau terlahir dari budaya asli yang kita punya.

Seharusnya, kita kita menyadari kekhasan potensi bangsa Indonesia, kondisi alam, dan pabila kita mampu mengembangkan dengan optimal melalui sistem pendidikan yang berakar pada budaya bangsa kita, maka kita akan mampu melahirkan anak-anak bangsa yang mampu “menaklukan dunia”. Sebagai contoh, seharusnya jika bangsa-bangsa di dunia ingin mencari orang-orang yang ahli tentang kelautan dan kehutanan (bilogi laut, hukum laut, politik kelautan, ekonomi kelautan, Indonesialah gudangnya. Jangan seperti sekrang, bangsa Indonesia menyewa konsultan kelautan dari Amerika yang tidak punya laut. Dan mereka sangat dihargai serta dibayar mahal. Ironis! Stop!, berhentilah “menghambakan” diri, berhentilah mencemplungkan diri ke dalam sistem pendidikan kapitalis. SBI adalah sekolah yang “bertarif” Internasional dan tidak jaminan secara kualitas anak-anak yang lulus dari situ, kecuali jadi “boneka” negara lain.

Salam

2 | Nanang

February 9th, 2009 at 8:35 am

Avatar

Bung Zul

Esensi tulisan anda semuanya saya setujui, tetapi tentu menuju kedepan tidak harus selalu “memuja romantisme” masa lalu. Ali haji, Hamka, bahkan tan Malaka dan Soekarno, buat saya adalah masa lalu.

Anda benar Pesantren memang berakar di indonesia, tetapi ada salah jika pesantren dan tokoh2 itu tidak terpengaruh “asing”. Pesantren itu dipengaruhi oleh sistem pondokannya Tagore sedangkan “pendidikan” tokoh2 bangsa itu dipengaruhi oleh pendidikan barat yg notabene belanda.

Buat saya, RSBi atau tidak, tetap saja Pendidikan ini harus betul betul mendidik bangsa ini bernalar, sehingga menjadi cerdas. Jika menjad ibernalar harus melewati “RSBI” yg memakai cara cambridge, saya pribadi tidak akan menolaknya.

Bukankah Bakso, Tahu, Kecap dan banyak sekali produk, termasuk berbagai sistim pendidikan di indonesia juga merupakan serapan dari sistim asing ?

Anda juga silap, Amerika (jika yg anda maksud USA) tdk punya laut ? wah,… mereka punya pantai di barat dan di timur jazirahnya sangat panjang,…

Tabik

3 | Zukfikri Anas

February 23rd, 2009 at 1:31 pm

Avatar

Bpk Nanang,…

Dalam beberapa hal saya sangat setuju dengan anda, bahwa dalam hidup ini kita tidak bisa sendirian, saya juga paham dengan asimilasi budaya, saya juga juga tidak ingin “memakaikan” baju kita waktu kecil dulu kepada anak yang hidup saat ini, alias tidak akan kembali ke masa lalu. Mungkin ukuran baju itu pas, namun zamannya sudah beda. Yang saya soroti adalah “proses menghambakan diri” dengan menggunakan standar “orang lain” lalu “under estimate” terhadap bangsa kita sendiri. Seolah kita tidak mampu mengembangkan standar sendiri.
Saya juga tahu persis, yang menjadi persoalan pokok dunia pendidikan kita adalah “proses mendidik”. Seperti Anda ketahui, di republik ini “umumnya” proses pembelajaran dan penilaian kemampuan anak menekankan pada otak kiri. Dalam beebrapa hasil pengematan saya di sekolah “RSBI” kondisi ini tidak berubah. Dalam kondisi seperti itu, kita ingin “menyamai” mereka? yang terjadi justeru yang terjadi justeru kita menjadi “sub-ordinate”. Kita boleh lihat Korea, semboyan mereka “we are not American, we are Korean. Kita boleh belajar teknologi, atau apapun ilmu yang dikuasai oleh orang asing, namun dalam membangun bangsa kita tetap berakar pada budaya bangsa. Itulah Korea. Dengan cara itu mereka mampu bangkit. Ya, mungkin anda juga pernah ke sana, anda lihat, berapa ribu kendaraan bersiliweran tiap hari, kita tidak menemukan kendaraan Jepang, kendaraan eropa ada, tapi sangat-sangat jarang, dalam sepuluh hari, paling kita ketemu satu, dua saja.

Saya tahu juga tentang sistem pendidikan di Inggeris, dengan sistem “O” level, dan “A” levelnya, serta sistem yang lainnya. Beberapa kali saya berkesempatan untuk melakukan observasi kelas di Inggris dan di Australi, dan wawancara dengan beberapa orang gurunya, saya berkesimpulan, sebagian besar pendekatan dalam proses pembelajaran mereka “mirip” dengan pesantren zaman dulu. Anda sebut contextual learning, focus on individual development, dan sebagainya. Semua itu ada di pesantren zaman dulu, dan sangat jarang ditemui dalam pendidikan moderen kita saat ini, termasuk di RSBI. Anda tahu di RSBI kita yang menerapkan kelas ekslusif?, dengan segala atributnya?, Dan ini sangat melecehkan banyak manusia dan diskriminatif!

Dalam cara pembelajaran boleh aja kita adopsi, tapi jangan “menghamba”, sekolahnya ada di bumi pertiwi, tetapi acuansepenuhnya ke negeri orang, apalagi memohon-mohon untuk diakreditasi oleh lembaga asing! Inilah kapitalisme pendidikan!.

Tentang Amerika yang tidak punya laut?, saya juga tidak sebodoh itu, di mana pulau mereka bercokol kalau bukan di laut?, Maksud saya, jika dibandingkan dengan kita yang arealnya lebih banyak laut dari pada daratan, seharusnya kita bukan menyewa konsultan dari sana, justeru sebaliknya, konsultan kelautan mestinya dari kita. Anda tahu, beberapa hari yang lalu di TV dikupas, betapa malangnya nasib bangsa kita. Kita seharusnya makmur jika kita mampu mengolah dengan baik dan seharusnya 94% dari sumber APBN kita dari hasil laut, tapi apa daya, saat ini kita hanya mampu memberdayakannya sampai 18% saja, Jepang dan Korea kira-kira 46-54%. Dan semua itu, berakar pada pendidikan!

4 | Zulfikri Anas

February 24th, 2009 at 10:05 am

Avatar

Pak Nanang Yth

Ya, saya juga paham dengan assimilasi dan akulturasi Budaya, tidak akan ada orang yang hidup di muka bumi ini yang steril terhadap pengaruh dari luar. Yang saya soroti adalah “konsep” RSBI yang ada sekarang, kita memposisikan diri sebagai sub-ordinate dengan menggunakan kurikulum luar. Bertaraf internasional bukan berarti kita “mengidentikan diri” atau “tunduk” pada standar/sistem mereka. Kita tahu bahwa kelebihan pendidikan di negara maju adalah proses pembelajaran yang mengolah semua bagian otak, sementara “RSBI” yang ada di kita saat ini masih terjebak pada pengembangan otak kiri saja. Dalam manajemenpun cenderung mejnadi kelas ekslusif dan diskriminatif.

Kita boleh belajar dari Korea yang memiliki semboyan, belajar ilmu apapun boleh dari negara maju seperti Amerika atau Eropa pada umumnya, namun dalam hal pengembanganya kita tidak lepas dari kekhasan budaya kita. Dalam berbagai forum mereka selalu mengungkapkan We are not American, we are Korean. Teknologi boleh di adopsi, namun kekhasan kita harus terlihat. Mungkin Anda pernah ke Korea, berapa ribu kendaraan bermotor segala jenis berkeliaran di jalan, semuanya buatan Korea, buatan Eropa ada satu dua, tapi Jepang tidak ada sama sekali. Demikian juga dengan Komputer, produk-produk mereka mendapat tempat tertentu di belahan dunia maju.

Artinya, bersaing dengan negara maju bukan berarti kita tunduk pada sistem dan standar mereka, melainkan memaksimalkan kekhasan potensi yang kita miliki. Jika kita mengidentikan diri dan menggunakan standar mereka, sampai kapanpun kita tidak akan pernah mampu bersaing.

Dalam beberapa kesempatan saya melakukan observasi pembelajaran di Australia, Inggris, dan Korea, apa yang menyebakan mereka unggul adalah pola pembelajaran kontekstual, berpusat pada siswa, dan layanan individual. Seperti kita ketahui, semua ini telah digunakan oleh pendidikan pesantren jaman dulu, bukan yang sekarang. Jauh sebelum bangsa Eropa masuk ke negara kita, semua ini telah dijalankan.

Saya tidak ingin mengajak anak-anak sekarang untuk “memakai baju kita waktu kecil dulu”, meski ukuranya pas, namun jamannya sudah beda. Artinya saya tidak mengajak kita kembali ke masa lalu, tetapi sebagai peristiwa di garis kehidupan, kita boleh mempertimbangkan hal-hal yang positif dan patut menjadi guru.

tentang Amerika yang tidak punya laut, tentunya saya tidak “senaif” itu, di mana pulau mereka bercokol kalau bukan di laut?. Yang saya maksudkan adalah, negara kita lebih dominan dan kaya dengan sumber daya laut, mestinya kita sejahtera, dan jika ada negara maju yang butuh konsultan di bidang kelautan, mestinya datang dari kita, bukan sebaliknya, karena bumi kita lebih banyak lautnya dari daratan.

Baru-baru ini bahas di salah satu stasiun TV , jika kita mampu mengolah sumber daya laut dengan maksimal, ia akan memberikan komtribusi 94% dari sumber APBN, wah, betapa makmurnya kita, akan tetapi apa daya, kita hanya mampu mengolah sedikit saja, sehingga kontribusi hasil laut kita hanya sampai 18% saja dari sumber APBN, sementara jepang dan Korea berkisar antara 46 sampai 54%.

Itu semua berawal dari cara mendidik anak-anak kita yang melupakan kekhasan potensi yang kita miliki sehingga anak-anak kita tidak tergerak hatinya untuk mengolah sumber daya alam tersebut. Sebagian besar anak-anak kita lebih bersifat “cari aman” dalam hidup.

Salam
ZA

5 | Nanang

February 25th, 2009 at 9:22 am

Avatar

Bung Zul

Sebetulnya tidak ada yg khilaf dari apa yg anda beberkan disini bung Zul, tetapi saya sedang berfikir bagaimana caranya meyakinkan pembuat keputusan bisa melakukan apa yg ada dalam pikiran sampeyan, ttg proses pembelajaran, tentang laut, tentang segala macam yg saya yakin 95% aku setuju.

Di Indonesia ini, seringkali das sein dan das sollen itu jauh sekali deltanya, meski fakta alamiah memang harus ada, tetapi menciutkan delta itu sungguh berat.

Mungkin anda tidak percaya, dalam tataran eselon-I di Depdiknas, wah dengan gayeng kita bisa berdiskusi dengan mereka menerima ide ide yg kita sampaikan, tetapi ketika turun ke jajaran implementasi dalam hal ini eselon 2, 3 bahkan 4, semuanya nyaris melenceng !!!

Saya dan pak Satria pernah melakukan “muhibah” untuk mengkaji konsep RSBI itu dan mendatangi pembuatnya satu persatu, mereka semua bersembunyi, padahal yg kami inginkan adalah, bagaimana caranya konsep itu dibuat (dgn menterjemahkan UU Sisdiknas tentunya), bagaiana operasionalisasi di lapangan dst..dst…

then,…

dalam sebuah Konvensi Nasional Pendidikan di Bali, sebagaimana yg saya tulis di blog ini, puncaknya adalah, para tetua dan pakar di bidang pendidikan di Indonesia, begitu ignorance ttg konsep itu, bahkan konsep IGCSE (UK system) saja mereka sangat awam !!! So, buat saya kalau mau mencontoh dan memodifikasi, kenali dulu esensi konsep itu, sementara konsep yg lebih “canggih” seperti yg sampeyan tawarkan, wah,… sorry to say, nanti dulu bung Zul, sampeyan akan menangis kalau mengerti isi perut benteng pendidikan kita (atau sampeyan juga dari sana ?….)

Kita harus bertemu bung dan kita bisa lakukan banyak hal karena PR pendidikan di negeri ini segunung dan rasanya terlalu naif kalo bisa selesai dengan cara cuma diskusi seperti ini (bukannya saya tdk suka diskusi lho,…tetapi lets do something real, dan saya yakin anda pasti sudah banyak melakukan sesuatu, mari kita sinergikan)

terimakasih komentarnya Bung

Wasalam ww

6 | Zulfikri Anas

February 26th, 2009 at 3:08 am

Avatar

Ya, saya “menangis” betapa implementasi pendidikan kita “mengingkari” makna menidik itu sendiri. Di salah satu sisi para “stakeholder” pendidikan tampil di media (TV, Koran dsb) seperti (maaf) “malaikat” penyelamat, tetapi rupanya itu hanya dalam forum resmi saja. Yang kita inginkan adalah konsistensi antara pembicaraan resmi dalam rapat atau konferensi dengan tindakan. Di bumi ini, dunia pendidikan telah kehilangan nurani. Kita selalu mem-blow-up hal-hal yang bersifat kuantitatif, bukan kualitas. Saya dan beberapa teman mencoba membuat “SBI” yang berasal dari sekolah “manapun”, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Yang menjadi “sumber utama penyakit” dunia pendidikan kita adalah “proses mendidik” yang ingkar terhadap makna menididik. Jika proses ini kita perbaiki, Insya Allah, semua institusi pendidikan akan melahirkan anak-anak yang potensial dan kompetitif serta berada dalam “bargaining position” yang tinggi di tengah bangsa-bangsa di dunia.

Saya setuju dengan Pak Nanang, ini sangat ideal dan mungkin hanya ada dalam mimpi kita. Namun, setidaknya selama kita dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk ikut berkecimpung dalam masalah ini, kita akan berbuat sekecil apapun itu. Saya dan teman-teman dari kelompok Ker-LIP sering bbekerja sama meskipun tidak terlalu intensif, namun beberapa hasil telah terlihat. Beberapa tahun yang lalu kita garap SD Hikmah Teladan di Cimahi, Bandung. Alhamdulillah sekarang sekolah tersebut banyak menjadi arena untuk magang bagi guru-guru baru dan daerah. Hanya saja sudah 2 tahun ini saya tidak lagi kontak langsung dengan mereka, tapi sesekali saya masih berhubungan. Saat ini kami mencoba menggarap sebuah SMA yang berlokasi di kampung petani yang hidup “pas-pasan”, dan animo untuk pendidikan sangat rendah, dan anak-anak dari kampung itu sulit diterima di sekolah “unggulan”. Kami mencoba menjadikan semua “kelemahan” itu sebagai potensi yang “hidden”.

Memang agak tertatih-tatih, namun beberapa perubahan telah tampak. satu hal yang kami tanamkan adalah, ketika orang-orang “sibuk” berlomba melengkapi sarana belajar yang “wah”, kami justeru “memompakan semangat” betapa besarnya karunia Illahi dengan menyediakan alam sebagai sumber dan sarana belajar. Kami juga sedang “garap” sebua konsep training guru, dengan moto ” menjadi guru atau tidak sama sekali”. Hal pertama yang akan disentuh adalah nurani, kemudian baru teknis-teknis pembelajaran dan penilaian yang memudahkan pekerjaan guru.

Kelihatannya kita perlu ketemu, ya paling tidak berbagai pengalaman, atau mungkin kerja bareng. Ya, sebelah kaki saya ada di lingkungan “dapur” pendidikan, namun saya juga anggota masyarakat dan sebagai orang tua, dan sebagai orang yang meraka menjadi “korban” sistem pendidikan masa lalu, dan kita berharap kesalahan itu tidak abadi. KTSP menjanjikan sesuatu dan menghmebuskan sedikit angin segar. Kita tunggu konsistensi para “pemangku kepentingan” untuk merealisasikan janinya ini. Salam
ZA

7 | Nanang

March 3rd, 2009 at 8:59 am

Avatar

Bung Zul
Di tengah usia 30an hingga awal 40an saya mengerjakan apa yg sampeyan kerjakan, ternyata,… capek dan hasilnya kagak ada (dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada manusia seperti butet manurung dll), akhirnya saya menceburkan diri ke lingkaran dalam pembuat dan eksekutor pendidikan itu sendiri dan fokus di pendidikan formal, wah,… sungguh besar pusaran disana.
Ketika capai, kami kunjungi orangtua seperti Mochtar Buchori kadang Daoed Joesoef untuk “ngecas” semangat dan bekerja lagi, ternyata memang “masalah pendidikan di Indonesia mustahil diselesaikan oleh orang seorang, bahkan oleh masyarakat berpendidikan keguruan dan sejenisnya”.
Saya masuki ranah2 paling rawan: pendidikan guru, kurikulum, pembiayaan, birokrasi akhirnya sampailah pada kesimpulan, pendidikan kita harus dibenahi dari atas hingga bawah dan dari dari atas dan dari bawah, bagaimana ? Mulai dari konsepsinya hingga pelaksanaanya dan harus dipegang oleh RI-1 sendiri atau minimal RI-2, karena juga menyangkut infrastruktur dan pengaliran keuangan, plus alokasi bujet. Disinilah persoalan menjadi berjalin berkelindan,….
Seringkali, konsep sudah betul, ketika diminta persetujuan legislatif berubah menjadi sama sekali baru dan tidak ada baunya sama sekali, kompromi terjadi dan titip menitip proyek,… begitulah.
Saya ingin menutup posting ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada teman teman yg bergerak di basis dan bertahun tahun disana (bahrudin dari Qoriah Thayibah sahabat saya juga, Yanti Kelip jg sahabat saya,…), saya berpendapat, gerakan itu masih ibarat air disamudra MAIN STREAM Pendidikan Formal kita, sehingga, jika kita mampu membenahi MAIN STREAM itu, dampaknya akan berantai, saya memilih dengan memulai dari Guru !!
Demikian dan mohon maaf jika responku loncat loncat hehehe
Salam

8 | Zulfikri Anas

March 3rd, 2009 at 3:10 pm

Avatar

Hidup adalah upaya untuk merampungkan langkah-langkah yang selalu terbengkalai, sampai suatu saat harus diakhiri. Karena itulah dalam hidup ada pertemuan dan perpisahan. Saya percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan orang yang pantas untuk dipertemukan pada saat yang tepat, sebaliknya, akan “memisahkan” orang yang pantas untuk dipisahkan, juga pada saat yang tepat.

Satu hal lagi, saya sangat percaya juga bahwa Tuhan memberikan beban tidak melebihi batas kemampuan manusia. Ini bermakna, sebelum persoalan diberikan kepada kita, Tuhan memberikan kemampuan terlebih dulu. Tuhan tidak akan memberikan beban “kecil” kepada orang yang berkemampuan “besar”, sebaliknya tidak akan memberikan beban “besar” kepada orang yang berkemampuan “kecil”. Untuk itu, kita perlu bersyukur ketika dihadapkan pada persoalan “besar” itu pertanda bahwa kita termasuk orang yang dikaruniai potensi “besar”. Hanya saja, sering kali kita menzalimi diri, begitu dapat persoalan, bukannya menggali potensi, malah membesarkan persoalan dan dengan sendirinya mengecilkan potensi yang ada. Akibatnya, beban itu menjadi berat, lalu quit karena tidak sanggup lagi. Pada hal semua persoalan ada jalan keluarnya, dan hebatnya lagi, jawaban dari semua persoalan itu ada dalam orang yang berhadapan dengan masalah tersebut. Untuk menjadi mudah keluar dari persoalan, kita harus ahli di bidangnya. Inilah salah satu sumber mmasalah, kita memang kekurangan orang “ahli” yang mampu dengan mudah mencari solusi, jika ada, tidak punya cukup energi untuk “melawan” kekuatan dari orang-orang yang kehilangan nurani. Kita punya banyak “orang pintar” yang serba tahu dan serba mampu , semua diurus, apapun dilakukan, kecuali tugas pokoknya.

Terakhir, mungkin kita perlu merenungkan mengapa kita diberi kesempatan “hidup” dalam situasi yang “carut-marut” ini? Ini semakin meyakinkan saya bahwa Illahi telah menitipkan “kekuatan” pada kita. Jika kita tidak dianggap mampu menghadapi semua ini, tentunya kita tidak diberi kesempatan untuk hidup di zaman yang begini. Semoga ini memberi semangat tanpa henti dalam diri kita.

Saya setuju, diskusi ini harus diakhiri, semoga suatu saat nanti kita dipertemukan lagi. Mohon maaf , jika ada hal-hal yang kurang berkenan dalam diskusi ini.

Salam,

Sampai ketemu entah kapan.

9 | Nanang

March 4th, 2009 at 4:44 am

Avatar

Sampai jumpa Bung

Semoga Allah tetap memberi kedamaian, kasih sayang dan berkahNya kepada anda sekeluarga dan kita semua,… amin.

Nanang

10 | goblog

June 4th, 2009 at 5:09 pm

Avatar

oh ya, ini selingan saja. katanya siswa-siswi sekarang sudah banyak yang kehilangan identitas kebangsaannya. sebagai contoh: lagu-lagu perjuangan pada tidak hafal, pembukaan uud’45 juga, apalagi isinya (sebab yang sekarang isinya sudah diganti hamburger dan sosis atau friedchicken). yang paling parah… sila-sila pancasila saja tidak hafal. apalagi untuk memaknai dan menghafalkan.
sebab di jaman sekarang mungkin pancasila uud atau apalah namanya sudah tak perlu.
sebab sudah ada blackberry yang bisa semuanya. minus satu: kebanggaan sebagai anak negeri…

11 | goblog

June 4th, 2009 at 5:13 pm

Avatar

oh ya lupa. tolong jangan laporkan ke polisi komen saya ini , pak. sebab, nanti saya bisa dijerat dengan pasal pencemaran nama baik. dan atau melanggar uu informasi dan transaksi elektronik. trus setelah pemberkasan nyampai di kejaksaan… tiba-tiba saya ditahan sebab menghadapi tuntutan penjara di atas lima tahun.
ampuuuuunnnnn………………….

12 | setiadi

April 9th, 2010 at 9:11 am

Avatar

Bang Zul dan Mas nanang, senang sekali mengikuti irama diskusi anda berdua, semoga saya bisa seperti anda atau bahkan lebih. pemikiran-pemikiran anda sangat dinamis dan mencerahkan. Kenalkan saya setiadi, yang sangat butuh pencerahan seperti yang ‘Bang dan Mas’ tuliskan. Untuk boleh saya dikirimkan email dan no. telp. Semoga Abang dan Mas berdua menjadi bagian orang yang ditaqdirkan Allah mampu merubah wajah pendidikan kita.

salam hormat,

setiadi

13 | Ahmad Rizali

April 9th, 2010 at 3:15 pm

Avatar

Alhamdulillah mas Setiadi, jika anda menikmati diskusi itu,… anda bisa email ke nanang60@yahoo.com, sedangkan telp bisa ke 08161124709, salam

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...