AhmadRizali.Com

17 Oct, 2008

Boros?

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pernak-pernik

Sudah hampir sepekan aku bergelut di sebuah perusahaan plat merah terkaya di negeri ini, jika sebelumnya jam 06.30 aku masih pakai kolor dan nyruput teh panas, agak manis dan kental sambil menulis karangan bebas untuk posting di milis atau bahkan media cetak, sekarang aku musti sedikit peduli dengan aturan perusahaan itu, 06.30 aku sdh mandi dan siap siap mengejar KRL.

Sebelum aku memburuh di sebuah Foundation lokal paling profesional yang bergerak di bidang pendidikan, aku bekerja serabutan sebagai konsultan dan ronin bergiat di urusan pendidikan. Kadang kala ngantor di kementrian, kadangkala di warteg, bahkan kafe starbuck atau perpustakaan.

Karena terbiasa bekerja dengan sumberdaya terbatas, semua harus dilakukan se sangkil dan se mangkus mungkin, jika tidak tepat guna, ya tidak dikerjakan. Bahkan dalam berkendaraan, sebisanya tanpa pendingin dan jika ada jalur KRL dan TransJakarta, sudah pasti mobilku kutinggal di rumah.

Ketika aku bekerja untuk Foundation itu, aku terperanjat. Bagaimana tidak, mencetak buram untuk surat atau laporan saja harus pake kertas baru, 70gram pula, dan bukan dg mode draft dan tidak mau. Kadangkala menggunakan, kertas dengan kop surat Foundation yg nyetaknya pasti mahal.

Berteleponpun, sangat enteng. Berkicau urusan yg tak karuan juntrungannya dengan biaya Foundation, plus makan siang ayng setengahnya tak dimakan padahal sudah dibayar. Termasuk, birokrasi memesan moda transpor yg sdh pasti termahal, pdhl ada alternatif. Menginapun ketika dalam tugas keluarkota, disediakan hotel berbintang 4 yang sungguh nyaman. Ini adalah fasilitas seorang direktur di kementrian.

Bekerja menjadi agak rikuh. Nyaman, tentulah secara fisik namun psikologis kurang sreg. Namun, pemilik dana berkata bahwa mengelola filantropik haruslah setara dengan mengelola bisnis berorientasi untung. Oleh sebab itu, pengelola Foundation itu adalah mereka yang pernah menjadi bankir, konsultan keuangan, profesional hukum dlsb. Dari cara berpakaian dan berdandan, terlihat tidak lecek, seperti baju tak disetrika.

Boroskah ? Entahlah, jika pada akhirnya hasil yang diperoleh menjadi berarti dibanding biaya yang dibayar. Dan, nampaknya, citra tidak kumuh itu memancing pendonor lain untuk percaya bahwa Foundation itu bonafid. Mengalirlah sumbangan untuk disalurkan, bermilyar milyar dari anak negeri dan warga mancanegara.

Nah, boros itu barulah aku yakin terjadi di perusahaan plat merah itu. Bayangkan, nyaris semua staf senior dan junior bersikap seperti pegawai pemerintah yang loyo, berpakaian tidak necis, mangkir dan sering telat. Namun, jika saat pulang sangat disiplin, artinya tepat waktu. Apakah mereka dibayar murah ? Tidaklah, mereka termasuk karyawan perusahaan plat merah yang dibayar terbaik dengan fasilitas terbaik. Bahkan level ke 3 dibawah Dirut saja berumah setingkat mentri di area Rasuna Said.

Dalam produktivitas kerja, waduh sungguh berbeda dengan Foundation tadi. Mungkin mereka dibayar sama, dengan fasilitas yg berbeda tentu. Namun, ketika kita melihat keseriusan kerja officer yg bersifat klerikel itu itu di Foundation, akan bingung melihat spirit yg hilang di perusahaan tersebut. Bayangkan, perusahaan ini harus memperoleh untung dan mengelola resource tak terbarukan di negeri ini.

Konon, dahulu lebih parah lagi. Jadi, tak terbayangkan oleh saya, bagaimana duit di buang buang dan habis diperas oleh penguasa orba melalui perusahaan plat merah ini. Dan sekarang, budaya boros dan lemah syahwat dan kurang darah serta koruptif itu masih terasa, meski juga terasa, raksasa ini sedang menggeliat dan mengucek ucek matanya. Di luar, rubah, beruang, hyena dan burung kondor sedang berebut daging yang nyaris habis.

Pantas negeri ini sulit sekali maju !!

Nanang
16/10/08

NB: Usai bincang2 dengan Radio 68H di UtanKayu Jakarta, dimana posting ini kutulis sembari menunggu acara dimulai, aku memperoleh honor 152 ribu rupiah. Kupanggil Taxi dan meluncur menuju Depok di jam 21.15 itu. Boroskah ? Iya, ketika diukur saat usiaku masih muda, untuk usiaku yg sudah menjelang setengah abad, tidak juga.

No related posts.

No Responses to "Boros?"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...