18 Oct, 2008
Resesi Dunia, Pendidikan Kita dan KlubGuru
Posted by: Ahmad Rizali In: Klub Guru|Pendidikan|Resesi Dunia
Penerima Nobel Ekonomi Tahun 2008, Paul Krugman meramalkan bahwa resesi di Amerika akan berkepanjangan dan akan menyerupai resesi di Tahun 1930 (Koran Tempo, Okt 08), resesi ini akan menyebabkan hilangnya jutaan lapangan kerja di Amerika dan Eropa, terutama Inggris Raya. Dengan demikian, tenaga kerja di negara Barat akan semakin murah dan pengusahanya mencari terobosan peluang bisnis, termasuk bisnis Pendidikan.
Untuk Indonesia, hal ini musibah sekaligus berkah. Musibah, karena dampaknya juga terasa, sekaligus akan terjadi migrasi tenaga kerja dari negeri barat ke Indonesia dalam berbagai bisnis termasuk bisnis pendidikan yang terkait dengan Internasionalisasi seperti Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) itu. Guru lokal terdesak dan guru asing mulai mengisi posisi kosong tersebut. Cambridge kurikulum akan semakin didorong untuk digunakan dengan segala pirantinya, lunak maupun keras.
Musibah itu akan terjadi jika, Provinsi dan Kabupaten/Kota masih menggunakan paradigma usang dalam berfikir dan menyikapi RSBI dan mengelola Pendidikan. Seakan akan RSBI adalah sebuah harga mati, jika anak didiknya ingin meneruskan sekolah ke luarnegeri. Padahal, dengan kemampuan bahasa asing yang terlatih baik, mereka pasti mampu bersaing di negara lain.
Musibah akan terjadi jika, sekolah masih korup dalam menggunakan dana publik, sehingga pengelolaan sekolah belum mengikuti tatakelola yang baik dan mutu yang baik tak pernah berhasil diraih. Apalagi, jika paradigma semua sivitas akademika sekolah masih tetap deterministik, bahwa kebenaran itu adalah milik guru dan murid harus menerima dan pasrah bongkokan tanpa melalui proses menemukan, dalam bentuk diskusi dan dialog.
Resesi itu akan menjadi berkah jika, guru sudah berparadigma seperti bu Muslimah di film Lasykar Pelangi yang “no thing use less” dengan semangat tak berhingga mendidik murid muridnya menjadi bernalar dan menikmati pendidikan di sekolah yg kusam dan reot itu hingga mereka menjadi sesuatu. Semangat seperti itulah yang “menarik” berkah Tuhan turun ke bumi ini.
Resesi akan menjadi berkah, manakala semua benda dan apapun dilingkungan kita menjadi alat pembelajar, seperti upaya pak Tjandra Heru Awan yang mampu menciptakan berbagai alat bantu belajar sains dari barang bekas dan sangat murah. Jika semakin banyak guru terinspirasi kecanggihan pak Tjandra, maka pemerataan mutu pendidikan bukan sekedar omong kosong belaka.
Resesi dunia menyebabkan barang Impor menjadi lebih murah dan barang lokal akan tepuruk di pojokan kumuh. Jika barang lokal terdesak, maka pengangguran lokal juga bertambah, karena pabrik tutup, barang tak dibeli, akibatnya bisa dipastikan angka putus sekolah akan meningkat dan tujuan pembangunan milenium yang menyatakan bahwa di Tahun 2015, semua anak usia sekolah lelaki dan perempuan harus tuntas menyelesaikan pendidikan dasar, dalam konteks Indonesia artinya SMP.
Mari kita sikapi resesi dunia yang konon akan terasa di Indonesia pada Tahun 2009 itu dengan cara hidup yang benar, befikir benar dan bersahaja dalam sikap hidup, sangkil dan mangkus, seperti menggalakan penggunaan kertas bekas, memanfaatkan lampu Tuhan di siang hari, menggunakan kendaraan bermotor jika hanya perlu dgn lebih memilih berjalan kaki dan bersepeda serta semua sikap yang benar dalam hidup, sedikit mengurangi kenyamanan tidak apalah.
Bayangkan, jika 1000 guru menganjurkan gaya hidup seperti itu dan 50 muridnya mengikuti, sudah 50.000 kepala berubah, apalagi jika 2,7 juta guru yang mempraktekannya, dahsyat !!!
Lantas, bisakah dimulai dari KlubGuru ?
Depok
17/10/08
Nanang
Related posts:
- Gagalnya Pendidikan (Agama) Kita? Sejak beberapa Tahun terakhir ini, apalagi sejak begitu banyak bencana...
- Revitalisasi Pendidikan Guru/LPTK, Apa yang Bisa Kita Lakukan? Sebagaimana posting di milis ini, pemerintah mulai menunjukan keseriusan dalam...