Saya pengagum orang besar pembuat sejarah, biasanya hanya seorang pemberani sajalah yang dicatat dalam sejarah. Sejak jaman Fir’aun yang berani mengaku Tuhan, lantas Musa yg berani melawan “Tuhan”, hingga jaman Hitler yang berani menjarah Eropa dan terakhir George Bush yg berani menjarah Iraq, serta Munir pemberani yg menantang militer.
Nabi dan para waliyullah serta negarawan yang arif bijaksana adalah pemberani putih yang tercatat untuk kemslahatan umat manusia. Sedang Firaun hingga Hitler adalah pemberani hitam yang merusak kemanusiaan. Keduanya saling mengalahkan. Ketika pemberani hitam menang, dunia muram dan kemanusiaan terluka, sebaliknya jika pemberani putih menang, dunia berseri bak musim semi di negeri utara, kemanusiaan tersenyum riang.
Pemberani dalam dunia sains, sastra, seni, matematika dan perdaiaman sering memperoleh hadiah nobel. Ada Nelson Mandela, ada Paul Krugman, Leo Tolstoy, Feynman. Mereka semua berani melakukan hal baru dan konsisten dalam duniannya, mereka adalah ujung tombak pemberi inspirasi, tidak takut gagal dan dicemooh.
Dalam dunia musik Indonesia genre Ndangdut ada pemberani bernama Rhoma Irama. Sejak awal Tahun 1970 an, nyaris 40 Tahun lalu, ketika mengibarkan bendera ndangdut, dicemooh oleh Bens Leo dlm majalah Aktuil sebagai (maaf) “musik tai kucing”. Rhoma berani jalan terus dan jadilah dia legenda hidup, raja diraja genre musik ndangdut yg tak tergantikan.
Ndangdut hidup subur di Indonesia yang secara budaya selalu merasa tertindas, padahal sebetulnya merdeka dan hanya mentalnya saja masih budak. Ndangdut merupakan katarsis rakyat miskin yang perempuan istri sering digebuki suami, suami yang pergi tanpa kabar berita, cinta pemuda kere kepada gadis berpunya, pokoknya semua kehebohan dunia ketiga.
Joget ndangdutpun ibarat olahraga jalan kaki, tak perlu kursus seperti tari jawa yang rumit dan penuh mistik, atau balet yang perlu kelenturan dan fisik prima. Jodet ndangdut yg diperlukan hanya keberanian dan suasana hati. Rakyat dengan suasana hati yang rusuh, akan berjoget merem melek versi dia sendiri. Singkat kata, ndangdut dan jogetnya adalah sub kultur yang paling egaliter dan bebas.
Raja Ndangdut pemberani itu, bersama dengan orkesnya yang anggotanya tidak pernah ganti, dan istrinya yang banyak, jalan terus. Ratusan lagu dia ciptakan, film dibuat, dia jadikan dirinya jagoan dalam persepsi penggemar Ndangdut. Di jaman keemasan, disetiap stadion dimana sang Raja menggelar konser di seantero nusantara, seringkali jebol namun aneh, tidak ada keributan.
Sang raja makin bercokol, bahkan singgasananya tidak mampu direbut siapapun, hingga saat ini. Dia berkuasa melebihi alm. Presiden Soeharto yang cuma 32 Tahun. Sejak A.Rafiq hingga Alam, Trio Macan, Basofi Sudirman, Elvi Sukaesih hingga Dewi Persik dan Inul, dilibas habis. Raja pandai memilih pasangan, siapa tak kenal Elvi Sukaesih ratu pertama bang Haji. Suara Rita Soegiarto yang tak tergantikan itu juga polesan bang Haji. Istri2 bang Haji juga tak ada yang buruk muka.
Barusan Indosiar menyiarkan konser ndangdut bang Haji di USA, di sebuah hajatan besar di Universitas Pittsburg dan kota kota lain. Bang Haji yang juga fasih berbahasa Inggris mantab menggoyang bule bule itu berjoget ria. Dia adalah seorang pemberani, terlepas perilaku dia yang baik dan buruk dan seorang pemberani berhak memperoleh penghargaan untuk dicatat dalam sejarah.
Hidup Ndangdut !!
Hidup Indonesia !!
Tabik
17/10/08
Nanang-pengagum Bang Haji Rhoma
(menulis posting sambil mendengarkan lagu “syahdu” karangan bang Haji)
Related posts:
- Ndangdut dan Kebijakan Publik Jika lagu keroncong diklaim sebagai lagu asli Indonesia dan nasibnya...