19 Oct, 2008
Film Lasykar Pelangi: Bagus, tetapi…
Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Laskar Pelangi|Pernak-pernik
Sesudah gagal mendapatkan tiket untuk menonton film laris Lasykar Pelangi pekan lalu, anakku berhasil mendapatkannya di Depok Town Square semalam. 99% penontonnya bukan muda mudi pacaran, tetapi keluarga. Bapak, Ibu anak beranak. Tak terlihat tampang bergajul dan “punk” yang mengantri memasuki gedung bioskop bertempat duduk sedikit itu.
Aku pikir bioskop pemutar film ini akan tepat waktu, sebagaimana di jamanku saat mahasiswa dahulu, di Rivoli yang suka menyetel film India, atau di Metropole-Megaria Menteng yang bonafid. Meskipun sudah tertera di tiket, bahwa film akan diputar pukul 19.45, ternyata pintu baru dibuka pukul 19.55 dan sesaat kemudian film dimulai. Tak ada iklan apapun diawal dan akhir film, dahsyat.
Sekuel demi sekuel dimainkan, beberapa adegan mengharukan, seperti ketika Lintang kecil yang keriting, tanpa alas kaki, bercelana pendek dan berkaus usang, namun bermata tajam, wajahnya bercahaya, dengan sepeda yg terlalu besar untuk ukuran tubuhnya di sapa oleh bu Muslimah, adegan dialog singkat ini mendebarkan.
Adegan perpisahan Lintang putus sekolah di akhir film juga kurang greget dan semestinya bisa dibuat lebih mendebarkan. Sementara adegan lain cukup menghibur, terutama untuk anak anak, meskipun menurutku datar saja. Untunglah, saya belum membaca novelnya, jika tidak mungkin akan kecewa. Istriku berkomentar, novelnya memang lebih bagus. Bagaimana mungkin, imajinasi bebas kita dikalahkan oleh imajinasi yg diterjemahkan oleh sutradara.
Saya tidak melihat artis top yang bertaburan itu bermain bagus, kecuali alex komang, mesti muncul hanya beberapa kejap, bermain sangat bagus sebagai ayah Lintang. Tora, Mathias Mucus dan Cut Mini biasa biasa saja.
Saya setuju dengan cak Satria, sohibku, Cut Mini terlalu cantik untuk seorang bu Muslimah, meski cocoklah lidahnya dengan logat Belitong itu. Sementara, dua jempol patut diacungkan untuk semua pemain anak anak asli belitong dan akting mereka dahsyat sebagai anak yg belum berpengalaman bermain film.
Film ini menjadi histeria publik karena ceritanya yang sangat kuat, jika tidak, bisa kesulitan Riri Riza menggarapnya menjadi sebuah film bagus. Setting lokasi disaat senja dan pagi yang sangat indah juga membantu banyak.
Meski banyak yang kecewa, karena Depdiknas tidak berkomentar dan berkiprah sedikitpun atas film ini, ternyata diam diam, Mendiknas membagi tiket kepada ratusan jajaran seniornya untuk menonton film ini. Apalagi Mendiknas kan seorang Muhammadiyah dan mungkin bisa ikut mempromosikan apa yg sudah dilakukan organisasi itu dalam bidang Pendidikan.
Jika kita menelusuri bagaimana geliat rakyat kecil yang ingin bersekolah, film ini adalah cermin yg bening. Apatah Muhammadiyah yang bergerak umumnya di perkotaan, NU justru secara faktual lebih mengalami dan memiliki ribuan “lasykar pelangi” yg di dididik oleh “bu muslimah” lain di pelosok perdesaan, di seantero Indonesia.
Tidak sedikit yang ketika menonton film ini menjadi terharu, karena merasa “gue banget”, termasuk penulis yg lulusan SDN 03 Mawar?Kencana, Banjarbaru, Kalsel dan di usia dewasa memperoleh berkah menginjak berbagai kota Dunia dan mencicipi pendidikan di sana. Bahkan, ada seorang sahabat yg masa kecilnya di pedalaman jawa dan ketika SD bersekolah nebeng lori tebu, saking miskinnya dan mampu lulus menjadi Master dari sebuah Universitas bereputasi di Amrik, menganjurkan aku menonton film ini. Kami saling tau masa kecil masing masing.
Film Lasykar Pelangi merupakan potret ada dunia lain “out there” untuk anak kota besar termasuk anak anak saya, tetapi film ini akan menunjukkan “gue banget” untuk anak anak perdesaan yang pada dasarnya masih mengalami kondisi seperti itu, ketika bersekolah. Tidak usah jauh di pedalaman Papua seperti film Denias, atau Sumatra, seperti pengalaman Butet Manurung, namun pergilah ke Bekasi Utara, Muara Gembong atau Padeglang yang belum ratusan Km jauhnya dari Ibukota, namun masih bisa ditemui kondisi sekolah yag reot dan tidak diperdulikan.
Tetapi, begitu banyak pula SDN yang terkesan berlebihan dalam fasilitas, terutama jika sudah diberi merk Internasional. Kelas ber AC, kursi empuk Ergonomis, “kapurless teaching”, bahkan setiap hari sepatu muridnya berganti, berangkat diantar kendaraan dingin, jika liburan, plesir ke luar negeri nan jauh disana, tidak seperti lasykar pelangi yang bekerja membantu orangtuanya memburuh.
Lasykar Pelangi bagus, tetapi akan lebih bagus lagi jika pemerintah tidak hanya berkaca kepada film ini, tetapi sadar dan bersikap bahwa ketimpangan itu ada dan masih sangat banyak terjadi. Dan, guru seperti bu Muslimah dan Kepala Sekolahnya itu juga banyak berserakan di seantero Nusantara dan tanpa menunggu bantuan dan penghargaan pemerintah serta sertifikasi, tetap berkarya untuk mencerdaskan anak bangsa.
Lasykar Pelangi bagus, jika semangat guru seperti bu Muslimah dan pak Kepsek yang memberi nasehat “dalam hidup, biasakan untuk memberi sebanyak banyaknya, bukan menerima sebanyak banyaknya” ada dalam diri guru Indonesia yang sudah terpenuhi fasilitas sekolahnya. Karena biasanya bangsa ini, ketika terjepit bisa “Lasykar Pelangi” banget, namun ketika sudah tercukupi segalanya, termasuk gajinya, akan menjadi “sisa sisa lasykar pajang” yang tetap hidup, namun loyo tak bernyawa dan bertenaga.
Depok
19/10/08
Nanang
Related posts:
- Banjir 2007: Hati masygul tetapi tidak terkejut Nyaris 25 Tahun yg lalu, ketika penulis sedang senang senangnya...