29 Oct, 2008
Tujuan Pembangunan Satu Alaf (Millenium Development Goals-MDGs), so what?
Kembali aku tertakdir untuk makan siang lezat gratis, ditempat dingin, dilayani petugas berdasi kupu2 dan bertemu kembali dengan para tokoh penggiat program “tanggung jawab korporasi-CSR” dalam acara peluncuran Laporan hasil MDGs di Indonesia yg diprakarsai oleh Bappenas, UN dan Metro TV, sekaligus penganugerahan “MDGs Award” kepada para pihak yg bergiat menyukseskannya.
Di sini aku merasa asing, meski yg mereka lakukan aku tidak asing, bagaimana tidak, mereka melakukan pekerjaan menaikkan APM/APK SD,meningkatkan gizi balita dan ibu menyusui, melestarikan lingkungan, konservasi enerji dlsb, termasuk “Income Generating Activities”, semua itu duniaku. Hanya saja, sekarang yg berbicara adalah para bos purel dan CSR officer dan pejabat tinggi pemerintah yg wangi dan berjas.
Ada Frans Welirang, bicara apa yg dilakukan oleh Indofood, ada Direktur Aqua Danone, seorang lelaki perancis yg fasih berbahasa Indonesia, WaliKota Sukabumi, Walikota Tarakan, Deputi Menko Kesra, Bappenas, Wakil UNDP, wakil PBB dan mantan Duta MDGs Erna Witoelar dan beberapa CEO perusahaan besar, hadir.
Mereka berbicara pencapaian angka partisipasi murni (APM) SD dan angka partisipasi kasar (APK) SMP, tanpa peduli mutu SD/SMP itu, kondisi gurunya, dampak UN dll. Mereka bicara pencapaian statistik penyumbang Indeks Pembangunan Manusia (HDI) dan apa yg dilakukan. Setengahnya adalah “lipstik” perusahaan, meski ada yg benar2 serius.
Saat MDGs award tiba, banyak pria metroseksual pesolek dan perempuan cantik molek muncul. Ada pesohor Perucha Yusar Yahya, perenang cantik jaman saya muda, dulu. Sekarang tambun, masih tersisa kecantikannya. Hadir pula Nugie dgn lagu “Lentera Jiwa”, Dedi Miing dan Wanda Hamidah, politikus PAN dan Olga Lydia penyiar TV dan beberapa pesohor lain yg menjadi duta duta MDGs, agar manusia peduli nasib si miskin.
Enak juga ketika diri kita tidak mengenal dan tidak dikenal, kemana mana hanya tersenyum, mata dan telinga “full capacity” melihat, mengamati dan mendengar celotehan mereka di sisi meja penganan dan meja bundar peserta.
Pukul 16.30, aku tidak betah dan pulang, sambil merenung renung menuju halte busway, aku merasa lapar, untung tak ada gerobak penjual mi ayam, jika ada, bisa jadi aku mampir mengudap penganan tak jelas gizi dan kebersihannya itu, tanpa peduli sdg berpakaian necis, berdasi rapi (agar diterima menjadi anggota komunitas CSR itu).
Rasanya malu ati, bicara nasib orang miskin dalam situasi makanan dan minuman luber, pakaian necis dan wangi, serta kendaraan besar dan nyaman, serta bergaji besar dan tak pernah berkeringat (beneran), tetapi itulah fakta kehidupan, mau apalagi.
Depok
29/10/08
Nanang
No related posts.