AhmadRizali.Com

02 Nov, 2008

Reunion: Dimana Posisi Kita ?

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Re-Union

Re Union, konon berarti berkumpul kembali, jika reunion SD, ya berkumpulnya kembali sesama teman sekolah dasar dahulu. Saya SD di Kalsel agak pedalaman, SDN 03 Mawar Kencana,Banjarbaru.SMPN 11 di Surabaya, kemudian ke STMPembangunan Surabaya. Semua bukan sekolah favorit dan rata rata muridnya agak kere. Bahkan umumnya sekolah baru, semisal STMP, aku angkatan-2, ujicoba.

Tadi, aku reunion dg teman teman lama dari Universitas Indonesia, yg konon Universitas terbaik di negeri ini, yang pasti fisik kampusnya memang terbaik, hutan kampusnya juga terbaik. Kemarin, ikut melihat beberapa tokoh Reunion di ITB, sejawat Arifin Panigoro. Saat reunion, apalagi sudah nyaris 30 Tahun, kita bisa mengukur diri, sudah sejauh mana melangkah.

Ada yg mengukur diri dengan simbul kendaraan, tadi ada yg ber CC 6 liter, ada pula yg naik motor; ada pula dengan lokasi rumah, nah yg ini sungguh sulit diukur;yang paling sering adalah jabatan. Tadi ada yg sdh menjabat dirjen, ada yg deputi KPK, direktur BUMN, anggota DPR, macam macam.

Prof. Sri Edi Swasono, suami Meutia Hatta, mantu proklamator itu, pernah bercerita beda puak melayu dengan puak Tionghoa ketika bertemu dlm reuni. “Kami yg puak melayu, selalu saling bertanya, bekerja dimana dan sudah menjabat apa? Saudara kita puak Tionghoa akan saling bertanya, sudah mengerjakan apa dan apa yg akan dikerjakan lagi”.

Prof Edi sangat jitu dalam memberi contoh praktek budaya bangsa kita. Meskipun, tdk semua yg disampaikan Prof.Edi benar adanya. “Bekerja dimana”, berarti seumur hidup tetap upahan dan ukurannya adalah setinggi apa menjabat, sementara itu “Mengerjakan apa” berarti menciptakan sesuatu dan komitmen dgn sesuatu itu dan menjadi juragan untuk sesuatu itu, inilah enterprenership.

Saya sering bingung jika ditanya anakku “Abah bekerja dimana?” dan lebih mudah jika ditanya “Abah bekerja apa?”, Nah kujawab “Program Developer nak,…”, ketika dia bingung, kuteruskan “Konsultan Pendidikan,…” nah, darisini, ibunya langsung bisa ikut menjelaskan.

Ketika Reunion tadi, aku juga bingung ketika ditanya “sekarang bekerja dimana mas,…?” Kujawab sekenanya dan ini tergantung yg bertanya, kadangkala CBE, atau KlubGuru, atau Sampoerna Foundation, Pertamina Foundation bahkan Depdiknas. Yg sudah kenal kelakuanku akan bertanya “Lu ngerjain apalagi Nang..?”

Reunion juga ukuran seberapa banyak usia kita sudah kita pakai berbuat sesuatu yang berguna, entah untuk keluarga, almamater kita, bahkan negeri ini dan kemanusiaan. Ada yg makin tua, namun tak juga mau berbagi, namun ada yg belia namun sudah seabreg yg dibagi kepad sesama. Mungkin itu “takdir” yg dipilih atau dipilihkan Tuhan.

Reunion juga ukuran untuk melihat jejaring yang kita tebar dan kita jahit di masa muda. Masihkah jejaring itu tersambung, ini silaturahim dan mata air rejeki. Ada mantan pacar yg sudah peot, ada yg masih cantik. Ada yg masih kekar berambut hitam tanpa semir, ada yg sudah keperakan semua dan tambun susah bernafas.

Ketika Reunion, kita juga masih bisa melihat teman2 kita semasa mahasiswa yg bengal dan bergajul, biasanya sudah tenang dan saleh, namun yg ketika mahasiswa bersikap santun, pelit, baik hati, brangasan bahkan penjilat, biasanya tidak berubah, cobalah amati.

Reunion dan hadir disana adalah bagian dari upaya kita menunjukkan eksistensi, tetapi jika yang kita “eksiskan” toh hanya berguna untuk diri sendiri dan keluarga, rasanya tak cukup untuk alumni sebuah Universitas pemegang nama negara.

Seharusnya, alumni UI atau ITB dan perguruan tinggi mapan lainnya bisa memberi lebih, bukankah dari dulu negara selalu memberi lebih kepadanya ? Tak elok jika rejeki Tuhan, baik harta, teman, kecerdasan dan jejaring serta takdir hidup di Jakarta dan kota besar lain, hanya dipakai untuk diri sendiri dan keluarga, bahkan selalu berlebih.

Tabik
Nanang (www.ahmadrizali.com)
2/11/08

No related posts.

No Responses to "Reunion: Dimana Posisi Kita ?"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...