Tuan Gafar karena pengalamannya dalam urusan kemasyarakatan dan relasinya yg luas, disewa oleh sebuah perusahaan energi berskala besar untuk mengurusi CSR-nya. CSR itu singkatan dari Corporate Social Responsibility, tempat dimana perusahaan berupaya menunjukkan sikap humanisnya. Di negara kampiun kapitalis, makin bagus CSR dikelola, makin mahal harga sahamnya.
Tuan Gafar diangkat menjadi pejabat CSR setingkat Vice Presiden (VP), di atasnya adalah setara direktur atau senior vice presiden (SPV). Salah satu hak istimewa Tuan Gafar adalah parkir mobil diplataran yg tak kehujanan dan kepanasan, bahkan banyak priviles lain didapat.
Dasar orang udik, Gafar tidak senang dengan kemacetan Jakarta, sehingga jarang menunggang Kijang-nya menuju kantor dan lebih suka ber KRL dan kadangkala dicampur dengan ojek, sesekali berTaxi. Jika membawa Kijang, dia parkir di Ragunan, lantas disambung menumpang bus trans jakarta, berdempetan dg karyawan yang berkantor di Kuningan Rasuna Said.
Ternyata, kelakuan Gafar oleh kolega dan anak buahnya, dianggap memalukan Institusinya “kok VP naik KRL, pak Gafar mesti dibelikan kendaraan yg representatif dan dikasih supir” begitu kolega barunya berucap.
Itu kejadian nyata dan meskipun saya tidak heran dengan pendapat koleganya yg notabene punya wewenang melengkapi kendaraan pak VP, namun saya agak heran, mengapa naik KRL ber AC dari stasiun yg juga tidak jorok masih dianggap tidak representatif ?
Arifin Panigoro bercerita, bahwa nilai yg dianut di negara Eropa sudah berubah, bermewah mewahan dengan kendaraan sdh memalukan, karena perilaku itu hanya milik putra putri kepala negara yg terusir karena korup dan pejabat korup negara berkembang.
Kemewahan mereka adalah naik kendaraan umum, seperti naik kereta bawah tanah yang di Paris dan London termasuk terbaik di dunia, kadang mereka mengendarai mobil, namun bermesin kecil. Jadi persepsi kolega tadi masih “jadul”.
Mungkin kolega tuan Gafar dan bawahannya terbiasa dengan simbol simbol itu, persis di dunia militer, jika sudah Jendral, wajib berkendaraan sedan minimal bermesin 2 liter dikawal ajudan dan supir. Untuk Panglima lain lagi protokolnya.
Jika protokol itu wajib, kasian juga tuan Gafar. Itu kan seperti orang Badui diwajibkan pake sepatu, atau suku dani berkoteka disuruh bersarung dan santri yg terbiasa sarungan diwajibkan bercelana. Risi dan kurang sreg, serta kagok plus tidak “merdeka” gitu.
Lagian VP kok naik KRL, nyusahin diri aja, pake ngantri di Trans Jakarta pula. Untung kolega dan bawahannya belum tau bahwa Gafar juga senang bersepeda ke kantor, alamak !! VP perusahaan buesar kok ngonthel, ada ada saja.
Nanang
4/11/08
Depok
Related posts:
- Akhirnya Bensin Naik Juga, so what ?!! Pemerintah akhirnya menaikan harga eceran BBM rata rata 29%, namun...