Istilah KKN itu sudah top sejak awal Tahun 1970 an, kependekan dari Kuliah Kerja Nyata. Mahasiswa tingkat akhir diwajibkan tinggal di desa dan membantu desa tersebut apa saja yg diminta oleh pak Kades. Ada yg membantu membuat statistik demografi desa, ada yg membuat saluran air bersih bahkan ada yg membantu pak Kades dg mengawini putrinya.
Universitas Gajah Mada (UGM) adalah kampiun KKN jenis ini. Mahasiswanya tidak canggung ber KKN di desa, bahkan hingga di pelosok sumatra, kalimantan dan papua. Mungkin karena, saat itu, umumnya mahasiswa UGM berasal dari desa. Almarhum Prof. Kusnadi Hardjasoemantri, rektor UGM yg legendaris itu, adalah jawaranya KKN UGM unt menjadi guru di desa desa.
Di UI jaman itu juga ada KKN, tetapi KKN di Universitas yg aslinya sudah borjuis itu cuma jadi lipstik dan pemantes saja. Bayangkan, mahasiswa/i UI yang KKN di kepulauan 1000 dan datang kesana cuma sepekan sekali. Akhirnya KKN dihapus dari UI, entah di UGM.
Di akhir Tahun 1990 akronim KKN berubah jadi buruk, karena diplesetkan menjadi Kolusi, Korupsi dan Nepotisme. Yg membuat jadi buruk dan paling bersemangat alumnus UGM juga, tuan Amin Rais. Akhirnya KKN ditakuti.
Cerita KKN, sebetulnya tidak buruk buruk amat, apalagi jika cuma nepotisme, mengangkat saudara atau kerabat atau teman menjadi pejabat, asal mereka kredibel dan tepat memegang jabatan itu. Klan Kennedy di USA melakukan itu.
Bahkan bukalah kitab suci alQur’an, nabi Musa yg perkasa itu melakukan “nepotisme” dengan meminta Tuhan mengangkat Harun, saudaranya sebagai wakilnya ketika berurusan dengan raja Firaun dan Tuhan mengabulkannya.
KKN juga sering diplesetkan dengan NKK, yg dulu adalah berarti Normalisasi Kehidupan Kampus jaman Mendikbud Daoed Joesoef. Arti NKK sekarang adalah Nulungi Konco Konco (menolong teman teman), bentuk lain dari KKN juga.
KKN, NKK sudah mulai tidak ngeTop lagi, karena sudah kalah ngetop dengan KPK, superbodi yang sibuk memberantas korupsi. Dlm sebuah pidatonya dlm peluncuran modul Pendidikan Anti Korupsi, Antasari Azhar melempar guyonan, tentang begitu ditakutinya KPK.
“Nama saya Antasari Azhar, bapak bisa panggil saya Antas atau Azhar, tetapi jangan panggil KPK”, hehehehe… ngerti nggak maksudnya ?
Tabik
Nanang
7/11/08
No related posts.