Yahoo memberitakan, belum pernah terjadi dalam sejarah USA sejak 100 Tahun lalu, calon partai demokrat memperoleh dukungan sebesar dukungan kepada presiden Obama. Belum pernah terjadi pula tingkat kegairahan warga USA dalam memilih sebesar pemilihan presiden saat ini.
Obama adalah fenomena yang muncul disaat yang tepat, ketika dunia sudah sebal tidak ketulungan dengan ulah para pemimpin tua seperti George Bush yang dengan pede tidak merasa pernah bersalah, bahkan selalu menyalahkan. Bush memang pemberani sekaligus tebal muka.
Jika warga dunia diminta memilih, mungkin Obama menang 90%, mutlak, dan dunia berpesta memperoleh “pemimpin” baru yang tampan eksotik berkulit hitam dan santun. Warga USA ingin berubah dengan rasa pemerintahan dan politik baru.
Lantas mengapa WNI terutama di Jakarta begitu keranjingan dengan Obama dan surat yang bersliweran di dunia maya tak habis habisnya membicangkan pidato presiden baru itu ?
Mungkin Obama sudah sepopuler pesohor lain. Oprah Winfrey saja mendukungnya dan konon penyanyi gaek kesayanganku si “I love U just d way U are” Billy Joel juga mendukung habis Obama, termasuk aktor Tom Hank dan Leonardo Di Caprio.
Atau mungkin, dalam kesadaran terdalamnya, bangsa kita menginginkan sosok seperti Obama. Energik,muda, tampan dan cerdas,pluralis dan terdidik dengan baik, serta ditampilkan berpolitik dengan santun. Amerika memang kampiun dalam mengemas dan pencitraan pribadi.
Mungkin pula, karena Obama pernah punya ortu tiri WNI yang berkulit sawo matang dan bahkan masa SD nya pernah mengenyam SD Indonesia yang saat ini sistemnya berantakan itu.
Dengan masa lalu Obama seperti itu, WNI berharap Obama menoleh kepada masa lalunya yang mesti sekejap pernah dia lalui, dengan sedikit menoleh WNI berharap posisi Indonesia menjadi lebih istimewa dimata dunia.
Kita memang masih mengidap sindroma masa lalu. Majapahit masih sering dipujapuji, kehebatan tokoh pra, kemerdekaan dan pasca kemerdekaan masih sering dibicangkan. Bahkan seringkali, tokoh yg “asal” Indonesia saja cukup membuat kita merasa menjadi bangsa yg hebat. Sebutlah, Daniel Sahuleka, penyanyi asal ambon yg WN Belanda, begitu sering dibincangkan asal Indonesianya.
Sungguh naif jika kita berharap perubahan negeri ini berasal dari luar, dalam arti, mentang mentang Obama pernah SD di Menteng Jakarta, lalu dia lebih mengistimewakan Indonesia, tidak. Bahkan mungkin Obama akan malu dan berlagak tidak kenal dengan Indonesia karena kelakuan bergajul warganya.
Aku ingat ucapan Dr. Arif Rachman, pesohor dan pakar pendidikan itu “Guru jangan berharap dimuliakan oleh masyarakat, jika mereka tidak mulai untuk memuliakan dirinya sendiri”. Guru, Organisasi dan Bangsa sama saja, kemuliaan itu berasal dari dalam dan akan datang jika pada dasarnya memang mulia.
Buatku, siapapun presiden USA, Obama kah, Mc Cain kah, tidak terlalu penting. Yang sungguh penting, siapakah Presiden Republik Indonesia di Tahun 2009 nanti. Jika Obama yang mencalonkan diri, tentu kupilih. Namun, sudah nasib kita yang sistimnya sulit mendorong kaum muda yang kredibel dan energik untuk menjadi Presiden.
Tuan Obama, ajari kami untuk memunculkan presiden seperti anda yang penuh harapan cemerlang dimasa depan, bukan kaum gerontolog bersyahwat besar yang tak sadar diri sudah impoten.
Tabik
8/11/08
Nanang
No related posts.