Syahid, konon berarti manusia yg mati sebagai martir dan langsung masuk surga. Dalam setiap keyakinan selalu ada konsep suhada ini, jika keyakinan itu percaya ada kehidupan sesudah hidup ini.
Histeria eksekusi mati terpidana pelaku bom Bali, trio Amrozi dkk, mulai mengalahkan histeria Obama yang sudah usai. Semua saluran TV dan Radio memberitakan pra, saat dan pasca eksekusi, bahkan awalnya gelombang penolakan eksekusi juga bermunculan. Ada yang memunculkan ketiga trio itu sebagai syuhada, orang yang mati syahid.
Entah apa alasan yg melatarbelakangi ide men “syuhada” kan trio yg oleh pengadilan yang berkepanjangan itu diputuskan sebagai aktor peledak bom yg membunuh ratusan manusia dari berbagai bangsa yang tak bersalah itu.
Mungkin karena sikap militan, ketegaran dan sikap “cool” Imam Samudra yang tampan, bermata tajam dan dahyat itu. Mungkin ketenangan Amrozi yg bertampang artis sinetron itu. Atau justru sikap Muchlas yang selalu memberikan pernyataan bahwa sikapnya berdasarkan keyakinan yang benar.
Seorang teman aktivis perempuan yang militan dan belum lama ini wafat karena kangker otak, sangat mengagumi militansi Imam Samudra, terlepas 100% dia berang dengan sikapnya itu. “Bayangkan jika banyak manusia yang mengusung kebaikan seperti membantu sekolah, warga miskin dll memiliki militansi seperti dia” Ujarnya sebelum wafat.
Negeri ini sebetulnya penuh potensi militan seperti trio itu, akan tetapi lebih banyak dimiliki oleh manusia bejat, seperti yang kita miliki di senayan itu. Mereka umumnya sungguh berani (militan) mengaku tidak korup, meski sudah terbukti menerima uang.
Negeri ini butuh militan yang berani berjuang di sektor manasaja, apakah di pemerintahan, swasta, LSM bahkan pendidikan. Entah sebagai dosen, guru dll. Militan untuk tetap terus memperjuangkan nilai nilai kebenaran, menolak diatur diknas untuk memanipulasi UN, menolak curang dalam sertifikasi, menolak menandatangani kwitansi fiktif dan semua ketidakpatutan yang bak kangker ganas menggerogoti negeri ini.
Akan tetapi, banyak manusia sangat pandai dan bersih di negeri ini yang pengecut. Takut miskin, takut dipecat dari pekerjaan, takut segala macam yang belum tentu menyengsarakan mereka, karena sepertinya gusti Allah akan menelantarkan mereka.
Jika manusia seperti trio itu berani tanpa berkedip menghadapi maut, padahal sebagian besar orang menganggap sikapnya tidak benar, lantas manusia seperti apakah kita ini. Apatah maut yg harus dihadapi, ancaman pemecatan oleh atasan saja sudah membuat hati kita mengkeret.
Pantas Imam Samudra dkk. diam diam kita kagumi, mereka tak berkedip berhadapan dengan maut, bahkan menolak meminta ampun agar nyawanya tidak dicabut kepada penguasa yang dia anggap bejat, mungkin karena militansi mereka memang sudah langka di negeri ini, terlepas dari sikap mereka yang kita kutuki.
Tabik
9/11/08
Nanang
(“mereka musuh yg patut dikagumi karena militansinya….”)
No related posts.