22 Nov, 2008
Konaspi-6: Napsu Besar Tenaga Kurang
Posted by: Ahmad Rizali In: Konaspi|Pendidikan|RSBI
Konvensi Nasional Pendidikan (Konaspi)-6 yang berlangsung di Hotel Aston Denpasar usai sudah, konvensi menelurkan berbagai rekomendasi kebijakan Pendidikan kepada pemerintah, yang menurut seorang teman wartawan sangat normatif dan sulit dilaksanakan.
Penulis tidak terkejut dengan isi rekomendasi yang tidak bernas tersebut, karena selama konvensi berlangsung, meski terasa ada greget dari peserta muda untuk melakukan sesuatu yang kongkrit dan keingin merivitalisasi, namun terasa ada ganjalan dalam merumuskan rekomendasi tersebut dan akhirnya hanya terlibat dalam diskusi wacana yang absurd.
Sebagai contoh, dalam komisi Pendidikan Bertaraf Internasional yang penulis ikuti. Isi makalah dan diskusi melebar, jika tidak ingin disebut melantur tanpa ujung pangkal. Diskusi tidak fokus, bahkan masih berkutat dalam definisi, apakah Pendidikan Bertaraf Internasional itu ? Pendidikan Bertaraf Internasional bukan Sekolah berBahasa Inggris (SBI) dan sejenisnya.
Hal di atas mengherankan, karena Bali adalah kawasan yang paling (penuh warga) Internasional di Indonesia dan tidak sedikit sekolah Internasional berada di sana. Mengapa tidak ada upaya panitia untuk mengundang pakar mereka untuk berbagi. Tetapi justru mengundang pemakalah yang awam dan tidak mengetahui esensi Pendidikan Bertaraf Internasional, kecuali menafsir bebas panduan Mendiknas dengan basis teoritis.
Dari makalah dan diskusi, terasa keinginan peserta untuk memberi rekomendasi yang bernas kepada pemerintah dan memang seharusnya begitu. Karena, nyaris semua rektor UN eks IKIP hadir dan para Profesor terhormat seperti Raka Joni,Conny S, Sudijarto,Tilaar dan yang sekaliber itu hadir dalam konvensi.
Konvensi juga punya inisiatif untuk mengundang pihak luar dunia pendidikan seperti Gubernur Gorontalo, penulis dan rektor Univ (enterpreuneur) Ciputra sebagai pemakalah tamu, namun masih sangat terasa bahwa konvensi ini ibarat pesta di sebuah pulau tertutup nun jauh disana.
Meski Dirjen Dikti sudah memberi tantangan dan tawaran kongkrit, termasuk penulis yang mewakili Pertamina Foundation dan dari Univ Ciputra, namun terasa tidak “ngamper” (tidak ada arus atau respons positif) dari peserta atas tawaran tersebut.
Dalam penyelenggaraan, meski panitia sudah berupaya profesional, karena hotel Aston itu termasuk baru berdiri, maka terjadi tiba tiba padam listrik, bahkan ada peserta yang kehilangan Laptopnya diruang sidang ketika ditinggal. Tingkat kehadiran peserta dalam sidang komisi yang “hanya” 20-25% juga memprihatinkan, sebuah sikap yang tak elok, apalagi hajatan ini kan milik gurunya guru dan dibiayai oleh negara ?
Saat bareng dengan seorang deputi KPK dalam sebuah bincang bincang untuk TV Swara, penulis membisiki pak Deputi kondisi itu yang memalukan itu, karena bincang bincang itu tentang Pendidikan Anti Korupsi, tentu relevan untuk dikaitkan dengan situasi yang terjadi di Konaspi-6.
Konaspi-6 telah usai, dana negara sudah dibelanjakan milyardan. Hotel Aston pasti untung, beberapa kios suvenir bergembira, rental kendaraan juga tersenyum, katering juga senang, sehingga apapun yang terjadi, adanya Konaspi-6 sudah menyenangkan warga Bali dan ikut menggulirkan ekonomi?Bali.
Meski napsu besar tenaga kurang, setidaknya adalah sisi baik Konaspi-6 ini, paling tidak penulis dibayari Gratis menginap di Hotel Aston, walaupun tidak pergi kemanapun.
Tabik
Depok
22/11/08
No related posts.