Memasuki bandara Internasional Ngurah Rai Bali, sudah terasa bahwa, satu provinsi dari negeri ini memang eksotik.Gapura,hiasan, pakaian dan nuansa sekitar bahkan lagunya, Bali banget. Aku senang Bali, karena kehidupan mereka selaras dengan alam, nyaris setiap rumah di Bali ada tanaman dan hijau.
Agama Hindu dan ritualnya, hidup dalam keseharian manusia Bali. Setiap rumah membuat pemujaan kepada sang Hyang Widi dan setiap saat ditaro sesajen dan bau dupa mengembang, sangat transenden. Budaya Balipun, penuh dengan ritual agama, sangat eksotik.
Untuk manusia Indonesia beragama Islam yang ingin melaksanakan agamanya yang konon semurni di jazirah arab jaman Nabi SAW dulu, mungkin terasa tidak nyaman berada di Bali. Di seantero sudut kota dan desa berdiri patung dan pemujaan. Jika patung diartikan berhala, maka akan mereka sebut sebagai sirik dan sebutan lainnya.
Entahlah, apakah aku berIslam yang tidak murni, meski kakek nenekku NU yang sudah berhaji jaman belanda dahulu dan ayahku Muhammadiyah dan aktivis Masyumi, serta masa kecil dan remaja mempraktekkan Islam di sekitar masjid Ampel, menurutku manusia Bali sangat religius dan menjalani kehidupan di dunia fana ini dengan santai, gembira dan indah. Urusan kebenaran akhirat, biarlah Tuhan nanti yang memutuskan.
Tidak hanya Bali yang menunjukkan keberagaman keyakinan bangsa ini. Dua hari sebelumnya, sabtu dan ahad ketika menyusuri Manado hingga Tomohon, terasa juga religuisitas manusia Manado. Salib bertebaran di pucuk pucuk Gereja, sementara nona2 cantik berjalan beriringan menuju gereja membawa alkitab.
Ketika membuka Konvensi Nasional Pendidikan ke-6 di Hotel Aston Denpasar, Undiksha (Univ Penddkn Ganesha) eks IKIP Denpasar, menampilkan tarian Ganesha yang apik. Gamelan ditabuh live, 6 perempuan bali yang cantik dan berbeda kecantikannya dengan nona Manado, plus seorang pemuda yang berkostum dewa ganesha, menari dengan sangat baik.
Beruntung aku duduk di depan, tempat yangg terbiasa dikosongkan oleh peserta, mungkin untuk menghormati tokoh, atau tetua atau memang tidak pede duduk di depan karena terbiasa menjadi pengikut yang selalu diminta duduk dibelakang. Aku dengan leluasa menikmati kekayaan tarian Bali.
Tari bali itu bak gelombang samudera yang menerpa batu karang dan pecah di pesisir, enerjik dan progresif, termasuk gamelannya. Berbeda dengan Tari Jawa, meski sama indah dan bagus serta rumitnya, yang mengalir baik angin semilir dan air yang gemericik dan menontonnya harus penuh kesabaran.
Meskipun cuma melalui lorong lorong kecil, atau di Jakarta sering disebut jalan tikus, kami seringkali menemukan kios2 produk kerajinan yang eksotik, kata pemandu sekaligus supir, surga kerajinan itu di Ubud.
Jika mau menikmati, Bali memang “surga” di dunia untuk siapa saja, tidak hanya untuk umat hindu. Pantas jika Bali akan dimatikan oleh teror bom. Ternyata Bali tidak mati oleh teror, bahkan semakin kokoh budayanya yang berbaur dengan budaya barat tanpa rikuh.
Tabik
20/11/08
Nanang
www.ahmadrizali.com
No related posts.