Ketika membaca resensi buku ttg kiprah CIA yang ditulis oleh seorang wartawan NYT ahad kemarin saya sudah menduga, pasti timbul kontroversi, karena menyebutkan Adam Malik (alm), mantan wapres RI itu sebagai agen rekrutan CIA, benarkah ?
JK yang sedang jadi wapres membela koleganya. Dia bilang garis politik Adam Malik (AM) yang awalnya Murba dan kiri luar itu sangat berbeda dengan garis politik Amerika yang kanan luar. Putri AM juga menolak ketika di wawancara TV sambil jalan kaki. Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI itu juga menyangsikan. “Itu baru dari sumber tunggal dan belum dikonfirmasikan kepada sumber sumber lain” Ujar AWA dalam balutan skeptisme ilmuwan.
Buat saya, apakah AM itu agen CIA, KGB atau Mossad bahkan agen minyak tanah sekalipun, tidak begitu penting, karena itu adalah catatan sejarah dan manusia seperti AM bisa saja salah langkah, sebagaimana dia juga bisa benar dalam melangkah.
Mereka yang langsung menolak, mungkin ingin tetap menempatkan AM pada koordinat posisinya sebagai negarawan pejuang yang tanpa cela. Dengan tuduhan sebagai agen CIA, hilanglah semua sikap kepahlawanan dan kenegarawanannya. Bukankah menjadi agen CIA artinya menjadi penghianat ?
Jika AM memang agen CIA, apakah lantas Indonesia menjadi tercela karena mantan Wapresnya pernah berkhianat ? Bisa iya dan bisa saja tidak.
Manusia seperti AM bukanlah Nabi dan orang suci yang terbebas dari kesalahan. Dan ketika akan melakukan kesalahan justru diingatkan oleh Tuhan. Apalagi AM adalah tokoh politik yang segalanya mungkin terjadi.
Untuk memastikan Agen atau tidaknya AM, seharusnya sejarawan ikut mencari bukti bukti yang akan menjernihkan tuduhan tersebut. Jika memang AM terbukti agen CIA, tidak ada salahnya diakui dan tentu tidak perlu rasa hormat kita kepada beliau langsung luntur 100%, karena Soekarnopun pernah dinyatakan sebagai kolaborator Jepang dan Soekarno tetap seorang negarawan besar.
Jika AM tidak terbukti, kita boleh bersyukur, karena mampu membuktikan bahwa AM memang seorang pejuang negarawan yang tanpa cela dan tidak selalu informasi dari negara lain, meskipun itu wartawan NYT, adalah sebuah kebenaran, bisa saja hal itu sekedar pemancing kehebohan dan sensasi saja.
Berita tuduhan AM agen CIA yang pasti sudah menguntungkan Gramedia sebagai penerbit buku terjemahan itu, saya haqqul yakin buku itu pasti sedang diperebutkan oleh pembeli, sementara Kejaksaan Agung juga sudah pasang kuda kuda untuk melarangnya beredar.
Sebetulnya Kejaksaan seperti kurang kerjaan melarang peredaran buku itu, jika toh bagian tuduhan AM agen CIA itu salah, bagian lain buku itukan belum tentu salah ? Apalagi kehebohan itu, sudah mendorong warga Indonesia yang malas membaca, kembali mencari dan membaca buku yang terhitung cukup tebal dan memperoleh hadiah pulitzer itu.
Jadi, buatku apakah AM agen CIA, KGB atau Mossad bahkan agen minyak tanah atau agen Koran tidak cukup penting untuk diperdebatkan panjang lebar dan hanya cukup untuk menjadi sebuah inspirasi dalam menulis posting ini, krisis dunia itulah yang harus kita debatkan dan sikapi dengan kongkrit, bagaimana menurut anda ?
Tabik
Nanang
ahmadrizali.com
(yakin AM bukan agen CIA)
No related posts.