Di pertengahan Tahun 1960, ibu guruku di TK IWKA (Ikatan Wanita Kereta Api) Kota Malang kulihat sebagai perempuan paling cantik dan baik hati sesudah ibuku. Aku diajaknya ikut lomba menyanyi di RRI Malang yang sekarang menjadi Hotel terbaik di sana.
Mengapa aku begitu senang dengan bu Guruku itu ? karena kurasa saat itu dia sangat baik hati dan memberiku dorongan untuk berani melakukan sesuatu yang baru, tidak ada kata salah atau benar.
Saat ikut lomba menyanyi, karena suaraku tidak terhitung istimewa, akupun kalah. Bu Guru tidak kecewa,bahkan tetap memperperlakukan aku dengan baik, bahkan lebih baik karena sudah berani ikut.
Ketika SD, juga di IWKA, aku didorong untuk berani loncat kelas, dari kelas 1 menjadi kelas 3, karena ada murid kelas 2 yg tidak mau naik kelas 3. Awalnya, enggan juga karena akan berpisah dengan teman teman sekelas.
Guru SD di SDN kota kecil Banjarbarupun selalu mendorongku untuk berani melakukan sesuatu, baik mengikuti cerdas cermat, atau sekedar ikut bermain kasti, dimana aku sangat lemah, karena badan yang terhitung kecil.
Di SMP, STMP bahkan di Perguruan Tinggi, guru yang selalu memberi Inspirasi adalah Guru yang selalu memberi kesempatan kepadaku untuk berani melakukan sesuatu yang baru dan berani bersikap, namun juga mengajarkan untuk berani menerima resiko dari sikap yang diambil.
Namun, guru seperti itu dapat dihitung dengan jari di satu tangan. Umumnya, guru, bahkan hingga saat ini adalah mereka yang kurang mendorong muridnya untuk berani berbuat kesalahan dan bangkit lagi. Guru kebanyakan adalah guru yang selalu ingin muridnya langsung benar.
Proses belajar adalah proses berbuat kesalahan dan memperbaiki, salah kembali dan diperbaiki kembali. Jika tidak pernah melakukan kesalahan, kapan sang murid mengetahui dan menghayati kebenaran ?
Guru saat ini adalah, mereka yang mendorong muridnya menjalankan keinginan dan impian gurunya, impian kepsek bahkan impian Walikota. Sehingga murid dipaksa untuk “mengisi” cetakan yang dibuat oleh gurunya, bukan mengajak dan membimbing muridnya membuat cetakan yang diinginkan oleh sang murid.
Guru Bahasa Inggrisku saat STM, bukannya melarang kami mendemo kepsek karena lapangan bola disewakan, tetapi justru mengajari kami dengan sabar, bagaimana demo yang tertib, sopan dan tidak anarkis. Padahal saat itu Tahun 1978, dimana Demo adalah sesuatu yang haram.
Guru pembimbing saat Mahasiswa juga hanya pura pura mengomeli, meskipun aku lebih memilih ikut ekspedisi Mapala ke gunung salju di papua daripada mengikuti PKL (Praktek Kerja Lapangan) untuk menyelesaikan kuliah lebih cepat, padahal peserta PKL mengantri.
Kepada semua guruku itulah aku berhutang budi, karena mereka yang membuatku berani menghadapi kehidupan, betul betul membuatku berani hidup, memberi arti kepada kehidupan dan memuliakan kehidupan, ujar pak Mochtar Buchori.
Mereka adalah guru yang disebut “Great Teachers” yang memberi Inspirasi dan lebih dari sekedar guru super yang mampu mendemonstrasikan ketrampilannya sebagai guru. Pak Tjandra Heru Awan adalah a Great Teacher yang inspiratif.
Namun, umumnya guru kita masih dalam taraf medioker yang hanya mampu menceritakan bahan ajar, itupun sangat membosankan, ada sedikit yang bagus dan mampu menjelaskannya apa yang diajarkannya.
a Great Teacher Inspires
a Superior Teacher Demonstrates
a Good Teacher Explains
a Mediocre Teacher Tells
Tabik
Selamat Hari Guru
25/11/08
Nanang
No related posts.