Workshop sering diterjemahkan menjadi lokakarya, dulu WS Rendra mengartikan sebagai bengkel kerja, mungkin karena itulah teaternya dia sebut bengkel teater. Dalam lokakarya, selain ada penceramah kunci, diskusi panel, porsi terbesar adalah kerja langsungnya.
Kemarin, selama dua malam dua hari aku ikut di sebuah lokakarya unit sekretaris perseroan setingkat direktorat dari sebuah perusahaan terbesar di Indonesia di hotel bintang 5 di kawasan Tangerang.
Tarif perkamar per hari 900.000 perak, beberapa pejabat setingkat manajer, VP dan Sekper memperoleh kamar sendirian, di bawah tingkat itu berbagi, sekamar berdua. Karena hotel bintang 5, ya mewah lah dalamnya. TV-nya jenis tipis terbaru lbh 30 inci, selain teko pemasak air panas, dilengkapi teko pembuat kopi khusus.
Kamar mandi dan WC nya lebih mewah daripada kantor kepala sekolah manapun, saking kinclongnya sang toilet, sayang rasanya ketika kugrojok dengan tinja. Tentulah kamarmandi itu lengkap dengan air panas dan bak mandi yg bisa dipakai berendam tiduran. Kagok juga, biasa mandi dengan diguyur pake gayung air dingin, sekarang digrujuk dengan butiran halus “shower” air hangat, bak sensasi mandi air hujan dikala bocah.
Tahukah anda siapa konsultan yang menjadi fasilitatornya? Sebuah perusahaan konsultan dunia yang tentu bayarnya ditera dengan US dolar dan karena mendunia, workshop kali ini menggunakan dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Mengapa kupasang Inggris di depan, karena 70% pake bahasa itu, mungkin mengikuti kebiasaan presiden kita saat ini.
Inti workshopnya adalah bagaimana berubah dari cara berfikir dan bersikap lama yang tak berguna lagi menjadi cara berfikir dan bersikap baru yang lebih tepatguna dan mendunia. Karena ini workshop bisnis, maka contoh2nya adalah bisnis yang sukses mengubah diri.
Bagian paling menarik dalam workshop ini adalah pembuatan film tim dan “oscar night”. Peserta dibagi dalam grup 6-8 orang dan ditugasi membuat film dgn pemeran semua anggota grup, disediakan kostum apasaja lengkap dengan kamera plus kamerawan. Tema yg diberikan adalah “film tentang perubahan atau transformasi”.
Selama 3 jam peserta berkutat membuat rencana inti,plot, skenario, berbagi peran, ada yg bermain merangkap sutradara, berlatif peran, menghapal teks dan shooting. Film berdurasi 3 sd 10 menit harus langsung jadi. Amazing !! Kerjasama tim langsung terbentuk tanpa diminta dan hasil film itu ditampilkan dalam Oscar Night.
2 jam lebih semua peserta workshop terpingkal pingkal menonton akting teman dan diri sendiri. Ada peserta yg terlihat kalem, ternyata di dalam film termasuk mereka paling gila. Yg cerewet jadi pendiam tapi berakting bagus. Ekspresi peserta terlepas 100% tanpa sungkan, padahal lebih sepertiga sudah berusia mendekati setengah abad, disanalah energy kreatif mengalir.
Semua grup yang berjumlah 8 itu dengan orsinilitas yang kreatif mampu memproduksi film transformasi perusahaan tersebut dengan segala indikator dan karakteristik perubahannya. Inilah sebuah contoh proses mendidik yang terlibat intens dalam menemukan sesuatu bersama dan jarang digunakan dalam pembelajaran.
Pakai kamera kan mahal ? Tidak selalu harus menggunakan alat mahal, yang diperlukan adalah cara kreatif yang mampu melibatkan semua peserta untuk aktif menemukan esensi tema itu. Bukankah bermain peran adalah salahsatu metode pembelajaran yang diajarkan di sekolah calon guru ?
Workshop itu ditutup dengan fisik lelah dan mata setengah terpejam, namun semangat yang berkobar kobar, karena terlibat intens dan ikut menemukan esensi perubahan. Bayangkan, jika peserta yang lebih 50 orang itu cuma diceramahi seperti cara PNS, pasti akan banyak yg tertidur, karena usai bekerja hingga kamis, langsung diteruskan dengan pembukaan malam harinya dan terus tanpa henti hingga sabtu malam.
Tabik
30/11/08
Nanang
Related posts:
- Boarding School:sebuah pendidikan alternatif Semakin banyak pasangan suami istri (pasutri) di kota besar yang...