04 Dec, 2008
Mohammad Ihsan: Pak Tjandra Heruawan Sedang Sakit. Ayo Membantu…
Posted by: Ahmad Rizali In: Pernak-pernik
RSUD Saiful Anwar Malang, Ruang 21 Kamar Nomor 6, hari Rabu (3/12/ 2008), sekitar pukul 13.30 WIB.

Pak Tjandra Heruawan (guru SMAN 10 Malang) dan Mohammad Ihsan (Sekjen Klub Guru Indonesia). Meski sakit, tetap berusaha tersenyum.
- Tjandra, Mengajar dengan Hati (Liputan6.com)
- Tjandra Heru Awan: Alat Praktek Barang Bekas (Pena Pendidikan)
- Lihat Tumpukan Kardus, Langsung Terbayang Rumus (Dapat Hadiah Ibadah Haji dari Medco Foundation)
- Tjandra Heru Awan, Pecipta Alat Peraga Sederhana, Namai Karyanya Molina, Molibandul dan SS10N (Fisika.net), dan banyak lagi lainnya
Pak Tjandra adalah sosok yang humoris. “Saya ini guru yang TOP, mas”, katanya suatu kali. “Tuwek (tua), Ompong, Populer”. Kami berdua pun tertawa lebar. Pak Tjandra lalu memamerkan giginya yang sudah tak ompong lagi karena dibelikan Pak Shofwan, Kepala Diknas Malang.
“Terasa sakit pak?” saya bertanya. “Bagian mana yang sakit?”
Pak Tjandra menunjuk pinggang kirinya.
“Sering kambuh sakitnya?”
“Iya. Apalagi pas batuk. Sakit sekali”. Saya terdiam.
“Saya berdoa, Ya Alloh berilah saya rizki dan kesehatan. Tapi begitu diberi sehat, saya racuni dengan nikotin. Begitu dapat rizki, saya membakarnya”.
Sebelum ini Pak Tjandra memang perokok. Tapi sudah berhenti sejak Ramadhan lalu. Tumor yang bersarang itu boleh jadi karena rokok yang dihisapnya selama bertahun tahun semenjak kecil.
“Iya, mas. Alhamdulillah saya juga sudah sampai Madinah”. Pak Tjandra memang mendapatkan hadiah beribadah haji dari Medco Foundation. Saya melihat ekspresi kegembiraan saat beliau menceritakan perjalanan hajinya, dimana beliau katanya bisa bertaubat di tanah suci.
Sebenarnya salah satu maksud saya membesuk Pak Tjandra kemarin adalah ingin mendapatkan kejelasan secara lengkap status sakitnya. Seberapa parah. Apa yang harus dilakukan. Apa yang masih kurang. Apa yang perlu dibantu. Tapi bahkan Pak Tjandra sendiripun jarang ketemu dokternya. Hanya perawat yang sering ke ruangan Pak Tjandra.
Saya ingat beberapa hari sebelumnya sempat telpon, “Kapan operasinya, Pak Tjandra?”. Di rumah sakit sebelumnya (Pak Tjandra menyebutnya rumah sakit tentara), keputusannya memang harus segera dioperasi, tapi karena fasilitas di rumah sakit tersebut tidak memadai maka dirujuk ke RSUD Saiful Anwar.
Jawaban Pak Tjandra cukup mengejutkan, “Nggak tahu mas, mungkin karena saya pakai Askes jadi penanganannya juga lambat”
“Nggak coba dirawat di Surabaya?”. Saya kembali bertanya.
“Biaya dari mana, mas?”, jawabnya.
Saya terdiam.

“Apa memang nggak sakit lagi habis minum Panadol?” tanya saya.
“Berkurang memang. Tapi sampai kapan?”.
Pak Tjandra melanjutkan guyon, “Eh pas saya nanya ke dokter sampai kapan minum Panadol?, dokter sudah ngomong: PASIEN BERIKUTNYA?”. Kekeke, Pak Tjandra terkekeh. Saya tersenyum kecut.
Perasaan saya campur aduk jadi satu. Pak Tjandra yang sederhana boleh saja memaklumi bahwa layanan Askes yang dimiliki memang hanya “mentok” segitu. Tapi guru sehebat beliau, sungguh layak mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Ruangannya perlu lebih nyaman agar bisa istirahat dengan baik. Dokter seharusnya juga visit setiap saat, dan bukannya jarang-jarang seperti sekarang. Perawat juga perlu menjaganya dengan layanan prima. Itu baru bisa didapatkan jika Pak Tjandra “naik kelas”, tidak di sal umum seperti saat ini.
“Lihat ini”, perawat menunjukkan blok-blok putih di foto rontgen. “Inilah tumor itu. Apalagi sudah ke paru-paru”.
“Berapa estimasi biaya kalau harus disinar atau kemoterapi?” Saya menanyakan karena opsi itulah kelihatannya yang akan dipilih rumah sakit.
Perawat menjelaskan mahalnya obat untuk kasus seperti ini. Yang ini (dia menyebut nama obat, tapi saya lupa karena nggak faham medis), harga sebotolnya ada yang 1 juta, ada yang 2,5 juta.
“Apakah layanan Askes mengcover obat itu?”, tanya saya.
“Kalau ada di Askes, pasien gratis. Kalau tidak ada, pasien membeli di luar”.
Saya teringat sebuah nama: Pak Shofwan, kepala Diknas Malang. Saat bertamu ke kantornya dulu, beliau memajang alat peraga bikinan Pak Tjandra. Beliau juga pernah membelikan gigi Pak Tjandra. Siapa tahu beliau dan jajaran Diknas tergerak membantu, karena sudah tak terhitung Pak Tjandra membuat harum nama Malang. Pak Tjandra adalah juara nasional. Bukan sekali, tapi empat kali. Saya langsung SMS kadiknas Malang, dan alhamdulillah pagi ini dapat balasan kalau SMS saya diterima.

Pak Tjandra dan Andy F. Noya di acara “Kick Andy”
Nomor rekening: 7880877661
Atas nama: Mohammad Ihsan
Semoga kebersamaan kita mendapatkan kemudahan dari Alloh. Semoga upaya ini bisa meringankan beban Pak Tjandra dan keluarga. Sungguh menyenangkan jika Pak Tjandra kembali sehat dan terus membagi ilmunya kepada kita. Untuk pendidikan yang lebih baik.
Mohammad Ihsan
Sekjen Klub Guru Indonesia
No related posts.