AhmadRizali.Com

04 Dec, 2008

Mohammad Ihsan: Pak Tjandra Heruawan Sedang Sakit. Ayo Membantu…

Posted by: Ahmad Rizali In: Pernak-pernik

RSUD Saiful Anwar Malang, Ruang 21 Kamar Nomor 6, hari Rabu (3/12/ 2008), sekitar pukul 13.30 WIB.

Begitu memasuki ruangan tersebut, sosok pria yang saya kenal baik langsung menyambut dengan senyuman. Dua jempol tangannya diacungkan.
“Assalamu alaikum”, saya menyapa.
Saya menghampiri pria tersebut, menjabat tangan dan memeluknya. Saya ingin menggenggam tangannya lebih erat lagi, tapi saya mengurungkannya karena tangan tersebut sedang diinfus.

Pak Tjandra Heruawan (guru SMAN 10 Malang) dan Mohammad Ihsan (Sekjen Klub Guru Indonesia). Meski sakit, tetap berusaha tersenyum.
Pria yang tergolek sakit itu adalah Pak Tjandra Heruawan, “guru hebat” SMAN 10 Malang. Saya pertama kali menyaksikan kehebatan Pak Tjandra di Kick Andy. Selang beberapa waktu kemudian, dua sahabat baik saya, Ahmad Rizali dan Satria Dharma, mengenalkan secara langsung ketika kami sama-sama di Malang.
Jika Anda belum sempat nonton Kick Andy tersebut, video acara ini beredar luas di internet, salah satunya di Youtube (klik untuk melihat arsip video Kick Andy). Coba juga ketikkan “Tjandra Heruawan” di Google, informasi kiprah guru fisika yang satu ini tersedia cukup banyak untuk dibaca, di antaranya:
-    Tjandra Heru Awan, Guru Kreatif Pencipta Peraga Fisika dari Barang Bekas (Indo Pos, 23 November 2007)
-    Tjandra, Mengajar dengan Hati (Liputan6.com)
-    Tjandra Heru Awan: Alat Praktek Barang Bekas (Pena Pendidikan)
- Lihat Tumpukan Kardus, Langsung Terbayang Rumus (Dapat Hadiah Ibadah Haji dari Medco Foundation)
-    Tjandra Heru Awan, Pecipta Alat Peraga Sederhana, Namai Karyanya Molina, Molibandul dan SS10N (Fisika.net), dan banyak lagi lainnya

Pak Tjandra adalah sosok yang humoris. “Saya ini guru yang TOP, mas”, katanya suatu kali. “Tuwek (tua), Ompong, Populer”. Kami berdua pun tertawa lebar. Pak Tjandra lalu memamerkan giginya yang sudah tak ompong lagi karena dibelikan Pak Shofwan, Kepala Diknas Malang.

Tapi, kini Pak Tjandra sedang sakit keras. Di ginjalnya bersarang tumor, bahkan sudah menjalar hingga paru-paru. Saya melihat sendiri bahwa itu sungguh sakit, karena sesekali saat kami berbincang beliau berhenti bicara, lalu meringis kesakitan dan memejamkan matanya. Seperti menahan serangan sakit yang amat sangat.

“Terasa sakit pak?” saya bertanya. “Bagian mana yang sakit?”
Pak Tjandra menunjuk pinggang kirinya.
“Sering kambuh sakitnya?”
“Iya. Apalagi pas batuk. Sakit sekali”. Saya terdiam.

“Ini peringatan dari Alloh, mas Ihsan”. Beliau mengisahkan cerita kenakalannya waktu muda. Ada penyesalan mendalam. Tak sadar air matanya mulai menetes.
“Saya berdoa, Ya Alloh berilah saya rizki dan kesehatan. Tapi begitu diberi sehat, saya racuni dengan nikotin. Begitu dapat rizki, saya membakarnya”.
Sebelum ini Pak Tjandra memang perokok. Tapi sudah berhenti sejak Ramadhan lalu. Tumor yang bersarang itu boleh jadi karena rokok yang dihisapnya selama bertahun tahun semenjak kecil.
“Sabar ya Pak”, saya menghibur. “Orang yang diberi sakit, lalu bersabar, itu akan melebur dosa-dosanya di masa lalu”.
“Iya, mas. Alhamdulillah saya juga sudah sampai Madinah”. Pak Tjandra memang mendapatkan hadiah beribadah haji dari Medco Foundation. Saya melihat ekspresi kegembiraan saat beliau menceritakan perjalanan hajinya, dimana beliau katanya bisa bertaubat di tanah suci.

Sebenarnya salah satu maksud saya membesuk Pak Tjandra kemarin adalah ingin mendapatkan kejelasan secara lengkap status sakitnya. Seberapa parah. Apa yang harus dilakukan. Apa yang masih kurang. Apa yang perlu dibantu. Tapi bahkan Pak Tjandra sendiripun jarang ketemu dokternya. Hanya perawat yang sering ke ruangan Pak Tjandra.

Saya ingat beberapa hari sebelumnya sempat telpon, “Kapan operasinya, Pak Tjandra?”. Di rumah sakit sebelumnya (Pak Tjandra menyebutnya rumah sakit tentara), keputusannya memang harus segera dioperasi, tapi karena fasilitas di rumah sakit tersebut tidak memadai maka dirujuk ke RSUD Saiful Anwar.
Jawaban Pak Tjandra cukup mengejutkan, “Nggak tahu mas, mungkin karena saya pakai Askes jadi penanganannya juga lambat”
“Nggak coba dirawat di Surabaya?”. Saya kembali bertanya.
“Biaya dari mana, mas?”, jawabnya.
Saya terdiam.

PRESTASI: Tumpukan sertifikat penghargaan serta kliping koran dan majalah tentang kiprah Pak Tjandra menunjukkan pemiliknya memang seorang guru hebat
Ah, Pak Tjandra. Guru sehebat beliau harusnya dapat pelayanan prima. Saya memperhatikan ruangan dimana beliau dirawat. Sempit. Panas. Tak ber-AC. Tak ada fasilitas yang memadai. Mungkin kelas layanan Askes yang dimiliki Pak Tjandra hanya cukup untuk ruang opname seperti itu.  Tapi Pak Tjandra memang sosok yang “neriman”. Melihat kelambanan pelayanan rumah sakit bukannya mengeluh, malah dijadikan lawakan.
“Saya sudah bawa setumpuk dokumen dari rumah sakit sebelumnya bahwa ini penyakit serius, tapi kata dokter saya cuma disuruh minum Panadol”. Beliau tertawa. Saya ikut tertawa, meski dalam hati saya menjerit.
“Apa memang nggak sakit lagi habis minum Panadol?” tanya saya.
“Berkurang memang. Tapi sampai kapan?”.
Pak Tjandra melanjutkan guyon, “Eh pas saya nanya ke dokter sampai kapan minum Panadol?, dokter sudah ngomong: PASIEN BERIKUTNYA?”. Kekeke, Pak Tjandra terkekeh. Saya tersenyum kecut.

Perasaan saya campur aduk jadi satu. Pak Tjandra yang sederhana boleh saja memaklumi bahwa layanan Askes yang dimiliki memang hanya “mentok” segitu. Tapi guru sehebat beliau, sungguh layak mendapatkan pelayanan yang lebih baik. Ruangannya perlu lebih nyaman agar bisa istirahat dengan baik. Dokter seharusnya juga visit setiap saat, dan bukannya jarang-jarang seperti sekarang. Perawat juga perlu menjaganya dengan layanan prima. Itu baru bisa didapatkan jika Pak Tjandra “naik kelas”, tidak di sal umum seperti saat ini.

Saya belum mengutarakan maksud ini secara langsung kepada Pak Tjandra. Tapi kepada perawat yang saya temui di ruangannya, saya menyampaikan bahwa soal dana biarkan kami, para sahabat seperjuangan Pak Tjandra, yang akan memikirkannya.
Saya sedih mendengarkan penjelasan perawat. Rekam medik Pak Tjandra menunjukkan sakitnya sungguh parah. Di hasil foto terlihat tumor sudah menjalar kemana-mana. Saya baru paham, penundaan operasi, bukanlah karena layanan Askes seperti info Pak Tjandra, tapi karena memang kondisinya tak memungkinkan dilakukan operasi.
“Lihat ini”, perawat menunjukkan blok-blok putih di foto rontgen. “Inilah tumor itu. Apalagi sudah ke paru-paru”.
“Berapa estimasi biaya kalau harus disinar atau kemoterapi?” Saya menanyakan karena opsi itulah kelihatannya yang akan dipilih rumah sakit.
Perawat menjelaskan mahalnya obat untuk kasus seperti ini. Yang ini (dia menyebut nama obat, tapi saya lupa karena nggak faham medis), harga sebotolnya ada yang 1 juta, ada yang 2,5 juta.
“Apakah layanan Askes mengcover obat itu?”, tanya saya.
“Kalau ada di Askes, pasien gratis. Kalau tidak ada, pasien membeli di luar”.
Saya langsung mengatakan pada perawat yang cukup baik menemani saya siang itu, “Pak, mohon pastikan bahwa Pak Tjandra mendapatkan pelayanan yang terbaik. Jikapun ada biaya yang ditimbulkan, biarkan saya dan kawan-kawan yang membantu mencarikannya”. Saya lalu pamitan. Pulang.
Di rumah sakit itu saya berpikir keras, siapa yang bisa dimintai bantuan?.

Saya teringat sebuah nama: Pak Shofwan, kepala Diknas Malang. Saat bertamu ke kantornya dulu, beliau memajang alat peraga bikinan Pak Tjandra. Beliau juga pernah membelikan gigi Pak Tjandra. Siapa tahu beliau dan jajaran Diknas tergerak membantu, karena sudah tak terhitung Pak Tjandra membuat harum nama Malang. Pak Tjandra adalah juara nasional. Bukan sekali, tapi empat kali. Saya langsung SMS kadiknas Malang, dan alhamdulillah pagi ini dapat balasan kalau SMS saya diterima.
Para siswa dan alumni yang pernah diajar beliau mungkin perlu juga membantu. Para guru dari berbagai kota di Indonesia yang pernah mendapatkan inspirasi langsung dari training beliau perlu turun tangan. Apalagi banyak guru yang sudah menikmati tunjangan profesi, sementara Pak Tjandra tak mungkin ikut sertifikasi karena beliau bukan lulusan S1. Solidaritas sesama guru perlu dibangun. Saya dan teman-teman di Klub Guru Indonesia siap menggerakkan solidaritas dan kebersamaan antar guru ini.

Pak Tjandra dan Andy F. Noya di acara “Kick Andy”
Andy F. Noya mungkin perlu juga menyampaikan para pemirsa Metro TV kalau salah satu bintangnya di Kick Andy sedang sakit keras. Medco Foundation dan Sampoerna Fundation yang terbiasa mensponsori kegiatan Pak Tjandra mungkin juga perlu tergerak. Semua dari kita perlu bergerak membantu, meski Pak Tjandra tak pernah meminta.
Beberapa SMS dan email di milis mendorong pengurus Klub Guru memfasilitasi penggalangan dana untuk bantuan pengobatan Pak Tjandra. Oleh karena itu, melalui tulisan ini, jika ada yang ingin menyumbang untuk Pak Tjandra, bisa mentransfer melalui rekening:
Nama Bank: BCA Cabang Kayun, Surabaya
Nomor  rekening: 7880877661
Atas nama: Mohammad Ihsan
Para penyumbang silahkan konfirmasi via SMS ke 0818334141 atau email mohammad.ihsan@yahoo.com (nama penyumbang, jumlah dan tanggal transfer). Daftar penyumbang akan terus diupdate agar kita sama-sama tahu seberapa banyak dana yang sudah terhimpun melalui upaya ini.

Semoga kebersamaan kita mendapatkan kemudahan dari Alloh. Semoga upaya ini bisa meringankan beban Pak Tjandra dan keluarga. Sungguh menyenangkan jika Pak Tjandra kembali sehat dan terus membagi ilmunya kepada kita. Untuk pendidikan yang lebih baik.

Cukuplah janji Alloh dalam sebuah hadits Nabi, bahwa siapa saja yang mau meringankan beban hamba-Nya di dunia, maka Alloh akan juga meringankan beban dirinya kelak di hari akhirat. Semoga amal kebaikan kita dicatat sebagai amalan baik yang diganjar pahala. Amien.
Surabaya, 4 Desember 2008

Mohammad Ihsan
Sekjen Klub Guru Indonesia

No related posts.

No Responses to "Mohammad Ihsan: Pak Tjandra Heruawan Sedang Sakit. Ayo Membantu…"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...