Suatu saat, aku menguping diskusi di sebuah radio swasta tentang bagaimana sesorang harus bersikap agar tidak moody, bergantung mood atau angin2an. Si pembicara yang berlogat jawa kental itu humoris dan katanya jika seseorang berhadapan dengan masalah, yg harus mereka sigap pikirkan adalah STEP.
STEP itu akronim dari STOP, artinya jangan larut dalam masalah, bahkan pergunjingan, lalu segera THINK, pikirkan apa gunanya untuk terus ikut dan larut dalam masalah.?Lantas EVALUATE, evaluasi mendalam jika tetap terlarut, bahkan sisi baik buruk dan sesudah itu segeralah PROCEED, dalam arti laksanakan langkah yang terbaik.
Semua itu adalah pembicaraan teoritis dari konsultan Dunamis yang merupakan praktisi “ajaran” Stephen Covey. Sehingga, dalam keseharian, jika tidak terlatih akan sangat sulit dipraktekan. Cobalah sendiri, bagaimana sikap kita ketika asyik ikut bergunjing tentang istri muda seorang ustadz kondang atau Syech tajir yang mengawini anak dibawah umur.
Demikian pula masalah kemacetan di Jakarta, tidak banyak pembawa mobil pribadi yang mau STOP bermacet ria, lalu berfikir mengapa tidak cari alternatif jalan, pindah moda transport hingga bekerja dirumah saja. Lalu menghitung hitung untung ruginya dan segera bertindak.
Umumnya, pengamal macet di jalan justru mem pernyaman interior dan fasilitas di dalam mobilnya. Lampu baca,TV,stereo set dipasang,majalah bahkan mungkin game disediakan dan jika sebelumnya menyetir sendiri, sekarang sewa supir dan beli mobil otomatik.
Tidak terbayangkan dampaknya, jika saat fase THINK mereka memikirkan manfaatnya jika pindah kendaraan umum, berapa energi terselamatkan, emisi gas buang berkurang dlsb. Tetapi, itu ketika berfikir outward looking dan beda jika Inward looking, yg selalu berfikir begitu sulitnya berkendaraan umum.
Saat sudah fase EVALUATE pun, sangat sulit untuk PROCEED rencana yang baik dan benar, coba tengok perokok. Gencarnya kampanye bahaya merokok pasti membuat perokok mengerti akibat buruk rokok buat dirinya, namun sudahkah memPROCEED dengan berhenti merokok ?
STEP harus dibiasakan sejak kecil sehingga menjadi sebuah kebiasaan, perilaku (habit) dan dalam kelompok menjadi sebuah kultur. Namun, warga Indonesia masih belum terbiasa untuk THINK.Think memerlukan akal sehat dan bernalar,sementara pendidikan kita kurang mendidik bernalar.
EVALUATE juga butuh nalar yang baik, sehingga mampu berfikir jernih dan tajam sehingga dapat memilah dan memilih mana aksi terbaik yang harus di PROCEED.
Jadi, lagi lagi urusan pendidikan bernalar yang menjadi kunci jawaban mengapa masih terjadi tawuran, menyerobot lampu merah, menjarah, menggebuki manusia lain yang tdk bersalah, bergajulan di jalan raya hingga guru memperkosa murid.
Lantas jika pendidikan sudah benar apakah semua beres ? Belum !! Perlu “polisi” yang harus menindak pelanggar yang lalai dan menghukumnya. Sayang sekali, di negeri ini akal sehat berangsur angsur menghilang, sementara “polisi” beneran juga tidak cukup untuk melakukan penindakan dan kadangkala jumlah pelanggar saking besarnya, sehingga membuat polisi jeri.
Jadi, mari kita amalkan STEP dalam kehidupan sehari hari.
Tabik
Nanang
4/12/08
No related posts.