Jutaan muslim dan muslimah hari ini kemping di padang arafah, mekah, saudi arabia dan yakin akan peroleh pahala, atau tiada dosa secuilpun jika usai kemping yang disebut wukuf itu. Karena pahala berhaji yang ditandai dengan wukuf itu sangat besar, maka jutaan manusia muslim dan muslimah setiap tahun berkunjung menjadi penziarah ke sana.
Janji pahala masuk surga itu mendorong manusia berebut pergi haji. Pemerintah kerajaan saudi memberi kuota sekitar sekian % dari populasi tiap negara muslim, sehingga setiap Tahun dan Indonesia mengirim lebih dari 220 ribu jamaah dan ratusan ribu orang ini ada yang dengan segala cara, bahkan yang melanggar hukum, berupaya pergi.
Di Depok, Jabar, jika anda lunas membayar 5 bulan sebelum musim haji Tahun ini, akan didaftar untuk berangkat di Tahun 2011, inden selama 3 Tahun, bayangkan persaingan manusia menuju ke sana.
Manusia muslim muslimah tajir yang sudah pernah haji, berebut lagi untuk pergi, bahkan ketika cara mereka yang tergolong tipu tipu diketahui dan namanya dibatalkan oleh otoritas Haji, mereka unjukrasa. Keinginan masuk surga memang mengalahkan segalanya.
Jika kepergian haji yang 30 juta per orang adalah ukuran kekayaan warga Indonesia, maka sebetulnya di Indonesia cukup banyak orang kaya yang bisa menyantuni jutaan saudaranya yang selalu berfikir makan apa besok, ketika hari ini dengan gembira bertemu makanan.
Seorang ulama Suni besar yang sangat dihormati berasal dari Mesir pernah berujar, jika muslim menjalankan ajarannya dengan benar, maka Mekkah di musim Haji sebetulnya akan sepi, karena umumnya penziarah haji berasal dari negara miskin dan seharusnya yang kaya membantu saudara yang kekurangan lebih utama dari melakukan haji. Untunglah beliau yang bicara, sehingga tidak ada protes, namun beritanya ditelan angin.
Jika 30 juta dikalikan 220.000, maka kita temukan angka sekitar 6,6 Triliun, itu hanya yang pasti berangkat. Jika potensinya adalah 3 kali lipat, artinya ada potensi dana masyarakat 20 Triliun, dahsyat sekali kan ? Apakah saya ingin berkata, jangan pergi haji ? Tidak, saya ingin berkata tunda pergi Haji sekarang dan santuni dulu saudara kita yang miskin.
Haji memang menarik hati manusia muslim, sehingga konon ketertarikan itu membuat mereka seperti kecanduan untuk “menyetrum” diri dengan kekuatan supranatural dan itu adalah berlebihan, berlebihan dalam segala sesuatu, bahkan berlebihan dalam beragama menurut fikih juga terlarang.
Dalam hiruk pikuk Haji, banyak manusia berbuat curang, baik penyelenggara haji, hingga pesertanya. Jika, kuota di suatu daerah penuh dan daerah lain kosong, peserta bisa ikut daerah tersebut dengan KTP aspal yang entah apakah fikihnya membatalkan Haji. Padahal fikih prakondisi haji itu ketat, tetapi manasiknya sangat mudah, kata seorang Kyai ternama.
Contohnya, pergi Haji tidak boleh dalam keadaan berhutang, fisik ataupun psikis, oleh sebab itu mereka yang akan pergi mesti melunasi dulu utang2nya. Namun, doa dalam Haji tidak musti pake bahasa arab, padahal dalam sholat, itu wajib.
Haji memang menarik hati, karena untuk masyarakat perdesaan, menjadi simbol status, semakin terhormat posisinya dalam pergaulan. Apalagi jika sudah mengenakan atribut ke hajiannya, bahkan di beberapa daerah sontak ditahbiskan menjadi manusia paling mulia, meskipun awalnya dan masih bejat.
Haji juga menjadi cara untuk “katarsis” tingkat tinggi, dengan pergi haji, bahkan dengan uang tidak jelas, mereka merasa semua perbuatan bejat hanyut digelontor kemurahan si pemilik Ka’bah dan sisa dana itu bisa dipakai urusan sosial.
Terlepas dari semua cara manusia menyikapi Haji, buatku ibadah Haji adalah pamungkas dari semua ibadah, bayangkan doa dalam tatacara berhaji bebas dalam bahasa kita, lelaki perempuan membaur, kiblat bisa arahmana saja, tetapi satu titik, pakaian cuma selembar, semua menuju kenisbian hal yang kasat mata, menuju hal yang azali.
Ibaratnya, pergi Haji itu siap mati saat itu juga. Oleh sebab itu jangan heran jika di jaman kakek dan nenek saya, pergi Haji diantar oleh ratusan manusia bak mengantar mayat keliang lahat dan tangis tangisan perpisahan selalu mengiringi kepergian berhaji.
Tetapi, semua itu adalah pendapatku yang mengetahui Haji secara teoritis, karena baru ingin pergi Haji dan tentu kebenarannya menjadi nisbi dan sangat personal.
Hanya yang menyuruh pergi Haji itulah yang serba benar.
Tabik
Nanang
Idul Adha 2008
No related posts.