AhmadRizali.Com

21 Dec, 2008

Obituari: Pak Tjandra sang Guru (1)

Posted by: Ahmad Rizali In: Orbituari

Tugas mengkaji kelayakan sekolah mitra membuatku keluar masuk ruangan kelas, laboratorium dan perpustakaan SMAN 10 Malang yang pinggiran itu. Ketika memasuki lab fisika dan memasuki sebuah ruang kecil untuk persiapan praktek, aku bertemu seorang guru lelaki bersahaja, berseragam PNS kota Malang dan kami langsung berbincang.

Beliau dengan bersemangat menjelaskan alat bantu pelajaran fisika buatannya dari barang2 bekas kalender, aluminum foil bungkus coklat,magnit bekas kipas angin, roll bekas selotip, bolam pijar bekas, stirofoam dan semua sampah, termasuk botol bekas air kemasan. Aku terkesima, lebih dari sejam kami berbicang, lebih tepatnya aku mendengarkan guru langsing dan ompong ini menjelaskan kegunaan alat bantu itu.

Ibarat cerita silat, peristiwa itu seperti menonton seorang pendekar sakti yang sedang memainkan ilmu pedang (kiam sut) dicampur kekuatan tenaga dalam (lweekang) nya, yang ada hanya keindahan yang dahsyat dan kesiuran hawa lweekang beliau, tenaga kasar (gwakang) hanya terasa sedikit.

Ketika aku pulang, pak Tjandra Heru Awan, nama guru itu tak pernah hilang dari pikiranku dan aku jadi merasa berdosa jika tidak mampu “menjual” beliau agar berbagi ilmunya ke seantero Indonesia. Apalagi, beliau juga bercerita sudah ditaksir profesor dari Jepang dan Johanes Surya penggagas TOFI, tetapi beliau tolak.

Saat itu tiba, ketika bulan ramadhan Tahun 2004 pak Tjandra dengan biaya Sampoerna Foundation, diminta memberi pelatihan kepada guru2 SMA hingga SD di Kota Sekayu. Meski cara pelatihan beliau masih ngawur, karena belum pernah memberi pelatihan, sambutan guru sangat dahsyat, 2 hari selama masing2 7 jam guru tak mau beranjak dari ruang pelatihan.

Peristiwa di Sekayu Kab Musi Banyuasin Sumsel itu adalah awalku menjadi “manager” tak resmi beliau dan bersifat probono kadangkala merangkap fund raiser. Selanjutnya beliau memberi pelatihan di mana mana. Uniknya,setiap beliau diundang pelatihan dan tidak melalui inisiatifku, beliau selalu “minta ijin” kepadaku.

Pertama kali naik Pesawat Terbang

Saya minta beliau langsung berangkat dari Bandara Juanda di Surabaya dan bertemu di Bandara Cengkareng untuk transit dan langsung bersama ke Musi Banyuasin, tetapi ternyata sehari sebelumnya beliau sudah tiba di Jakarta naik Bus Malam dan kami bertemu di Bandara Cengkareng.

Baru ketahuan alasan beliau tidak mau langsung dari Juanda, karena belum pernah naik pesawat terbang. “Sam, ajarono ayas yo, soale ayas gorong tau,…” demikian ujar beliau sambil nyengir, artinya ajari saya naik pesawat, karena belum pernah. Pak Tjandra memang selalu berbahasa jawa ngoko walikan (terbalik) gaya kota Malang dgn ku yg juga kelahiran Malang.

Jadilah beliau pergi ke Palembang bareng denganku dan Dr. Iwan Pranoto dosen matematika ITB yg juga kami ajak ke Sekayu. Iwan cengar cengir dan tak habis2nya mengagumi keunikan pak Tjandra.

Bagaimana tidak, saya dan Iwan sampai kerepotan mencegah beliau berdebat dengan petugas TNI AU penjaga pintu masuk cek in room Bandara, gara gara beliau ngotot mau membawa magnet bulat bekas sebanyak 25 buah yang ketahuan dimasukan koper besarnya.

Isi koper itu adalah semua barang rongsokannya untuk “manggung”. Dengan muka memelas dan nelongso (bhs jawa), magnit yang sangat berarga itu ditinggal dan dilarang masuk bagasi karena pasti mengganggu sistim pesawat udara.

Sepanjang perjalanan di udara yang tak lebih 60 menit itu, pak Tjandra duduk di kursi dekat jendela dan beliau bak bocah yang tak habis habisnya mengagumi pemandangan dari udara & gerakan sayap pesawat, rasa keingintahuan seorang guru sejati.

Ingin karyanya di CD-kan dan pergi ke Kulon

Pak Tjandra manggung di seantero Nusantara, mulai Medan hingga Mataram, bahkan undangan banyak yang ditolak karena kesibukannya padahal beliau ditetapkan Kepseknya seperti MPP. Ketika ngobrol, beliau selalu mengutarakan keinginannya yaitu karyanya di CDkan dan disebarkan gratis kepada yang memerlukan dan pergi ke kulon (berhaji), aku berkata insyaAllah terlaksana.

Medco Foundation mendengar kehebatan pak Tjandra dan mengundang beliau memberi pelatihan kepada Guru2 dalam lingkar sekolah yang dikelola MF sekaligus rekaman untuk membuat CD. Tak lama terbitlah CD dan buku panduan membuat alat bantu sederhana itu, berjudul “Laga Sirangkas”,alat peraga sederhana dari barang bekas. Semua dibagikan percuma.

Diakhir rekaman dan pelatihan, MF melalui pimpinannya memberi hadiah pak Tjandra pergi ke kulon secara plus bersama istri dan uang saku. Guru sarjana muda Matematika IKIP Malang yang tak peduli sertifikasi itu menelponku sambil menangis, aku terharu dan berucap “rejekine sampeyan bes,…semoga haji mambrur”, dua cita cita beliau terlaksana dalam sekejap.

Related posts:

  1. Mohammad Ihsan: Pak Tjandra Heruawan Sedang Sakit. Ayo Membantu… RSUD Saiful Anwar Malang, Ruang 21 Kamar Nomor 6, hari...
  2. Kyai Abdul Basith, sang Ideolog Kyai Hanif uluk salam dengan takzim di depan rumah sangat...

No Responses to "Obituari: Pak Tjandra sang Guru (1)"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...  
(52)    sugeng santoso  Saya bangga jadi anggota tim Beliau sejak 96, dan banyak ilmu yg sy dapat dari Beliau....Tq P Rizali,...Sukses selalu, mdh mdhn Allah memberkahi keluarganya, amin......  
(51)    salamah  saya seorang guru SD dari sekolah pinggiran .... dan saya senang jika membaca kisah-kisah inspiratif dari para senior saya....... ...  
(50)    salamah  hebat sekali.........  
(49)    alat peraga  Salam kenal pak... semoga pendidikan di indonesia makin meningkat anda adalah inspirasi kita semua.. salam kenal alat peraga...