24 Dec, 2008
Bersepeda dari Monas ke Tanjung Barat jam pulang kerja: Menyebalkan !
Posted by: Ahmad Rizali In: Macet
Sepeda yg kutitipkan pak Sumadi di mobil Kijang kugenjot menyusuri jalan Pejambon. Untuk menyebrang dari parkiran motor di belakang Mako Kostrad ke jalur lambat depan kantor Deplu saja bukan main sulitnya, diperlukan kenekatan tersendiri, sulit berharap pengendara mobil dan motor Jakarta memberi jalan kepada pengemudi sepeda.
Macet sudah terjadi di depan kantor Depdag gambir, sepedaku beberapa kali tertahan beiringan dengan sepeda motor yang selalu tak berminat mengalah, seringkali bahkan dikendarai di jalur kaki 5 untuk pedestrian.
Kesulitan pertama, memotong jalan untuk berputar di Patung Tani, Menteng Raya. Untunglah lampu merah sebelum puteran membantuku untuk merapat ke mobil di tengah dan segera kugenjot sepedaku dengan cepat mengekor beberapa mobil yang juga akan berbelok, berbahaya !! mungkin supir mobil dibelakangku mengumpat karena aku terbirit birit di depannya menghalangi kecepatan mobilnya.
Dari puteran patung tani, tersendat kembali di depan markas Muhammadiyah, kulihat banner besar Amrozi dkk sudah diturunkan dari markas PII. Jalan kembali lancar dari depan kolese kanisius hingga depan Taman Ismail Marzuki.
Mataku mulai pedas dan nafas agak sesak, asap motor apalagi yg knalpotnya nungging, sungguh biadab.
Kesulitan kedua menghadang ! Belokan Jl. Raden Saleh dan harus belok kanan menuju jalan Surabaya. Sekali lagi kugenjot sepedaku mengikuti motor di tengah jalan dan selamatlah aku berbelok ke jalan Surabaya yang sepi. Hingga jembatan di atas sungai, menuju pasar rumput, lancar,nikmat sekali.
Namun, macet kembali menghadang pas di atas jembatan itu !! Hingga membelok ke Minangkabau aku terseok seok dan saat membelok ke kanan, cara sebelumnya kugunakan. Motor, sekali lagi biadab, seringkali dipotongnya jalanku, sehingga seringkali pula aku harus menarik rem bahkan berhenti. Metrominipun tak pula punya belas kasihan, tipis sekali menyelip sepedaku.
Meski sudah tak ada hambatan memotong jalan lagi, sejak ujung jalan Minangkabau hingga sesudah Volvo di menjelang stasiun Pasar Minggu, nyaris sepedaku tak bisa santai, jalan padat dan lajur paling kiri musti berebut dengan angkot, metromini dan motor. Kaki kiriku yang harus turun menyangga sepeda terjadi tak terhitung lagi.
Sesudah pintu utara stasiun pasar minggu hingga Tanjung Barat POM bensin, barulah aku bisa menggenjot sepeda dengan tenang, sesudah sedikit tertahan di puteran pasar minggu, di atas underpass.Perjalanan ku akhiri di masjid Tj Barat, di sana pak Sumadi menungguku.
Rute Monas Tj.Barat saat pulang kerja sungguh menyebalkan dan berbahaya dan bahkan mungkin lebih berbahaya daripada naik gunung mahameru di saat musim hujan. Namun, alam bisa diakrabi dengan cara bersikap santun kepadanya.
Rute berbahaya Monas Tj. Barat tidak bisa diakrabi, kecuali dgn cara tetap konsisten melihat ke depan dan berharap kendaraan bermotor di belakang kita berbelas kasihan untuk tidak menyambar kita. Jika ada yang bergajul, tamatlah sudah.
Mahfumlah, mengapa banyak yang kuatir dengan keselamatan pengendara sepeda di kota seperti Jakarta, karena pengendara motor, metro mini, bus kota, angkot bahkan mobil pribadi, memang masih menganggap pengendara sepeda sebagai halangan mereka untuk melaju.
Karena aku tadi praktis sendirian, rasanya berharap ada jalur sepeda di kota DKI dalam waktu dekat adalah bak mimpi di siang bolong, karena buat apa memberi jalur kepada dhuafa, pengendara sepede. Jalur yg ada saja sudah padat, bahkan sering macet.
Bersepeda dari Monas ke Tanjung Barat yang berjarak sekitar 20an Km itu memang berbahaya, oleh sebab itu menggairahkan, tetapi sungguh menyebalkan !!
Depok
23/12/08
Nanang
Related posts:
- Sensasi Masa Muda: Bersepeda Yuk !! Jika saat bersekolah dahulu kita selalu bersepeda dan 25 Tahun...