AhmadRizali.Com

26 Dec, 2008

MUSIM JUAL DIRI

Posted by: Ahmad Rizali In: Politik

Cobalah perhatikan di setiap per3an atau per4an jalan di kota anda, pasti ada yang berbeda, Di Depok, biasanya di tempat strategis itu terpampang iklan rumah atau kredit sepeda motor atau paling tidak undangan untuk menghadiri majlis taklim, sekarang tidak lagi !

Apakah rumah dan sepeda motor sudah tidak dijual dan taklim sudah membosankan ? Tidak juga. Iklan itu masih ada namun sudah tak terlihat, tertutup dan terkepung oleh poster, banner besar dan spanduk jual diri para caleg partai.

Di kota Tomohon dan kota Manado, Sulut, karena mayoritas warganya beragama kristen, caleg partai berbasis agama Islam yang perempuan tetap berkerudung, namun ada kompromi, sedikit rambut jambul masih boleh terlihat. Lain lagi dengan partai berbasis agama kristen di kantung muslim, foto calegnya berbaju koko dan berkopiah.

Adalagi partai yang awalnya sangat menampilkan simbul Islam, sekarang sudah mulai “menyerang”, calegnya dipajang di jalan besar berpakaian bak anak band, meski disampingnya, caleg perempuannya masih rapi berjilbab.

Partai ini juga berfikiran sangat maju, perempuan yang dulu habis habisan dihujat karena perilakunya yang tidak cocok dengan ideologi partai, sekarang diberi penghargaan dan ramai diberitakan di media.

Adalagi partai yang berpenampilan saleh, meski perilaku kadernya banyak yang salah. Dimusim perayaan agama, semua jargon kesalehan dipajang. Mungkin untuk mengesankan bahwa caleg yang mereka ajukan adalah manusia terpilih.

Musim jual diri adalah musim bisnis cetakan berkembang pesat. Tanyalah percetakan spanduk dan banner, terutama yang terbuat dari bahan non kain, sangat laku. Spanduk kain yang disablon tradisional hanya laku di pedalaman, sudah ketinggalan jaman.

Dengan teknologi, wajah caleg yang kusam bisa dipermak jadi lebih segar, bahkan ada caleg yang meminta wajahnya dipermak dan terlihat seperti rajin beribadah (Kompas,2008), politikus itu sangat sadar bahwa politik adalah persepsi.

Sebagaimana dunia bisnis, produk yang sudah dikenal, biasanya tidak terlalu gencar berpromosi agar lebih terkenal, tetapi masih promosi agar tetap tercitra dengan baik. Beberapa partai status quo tak terlihat gencar berpromosi, sementara partai gurem tanpa bandar besar juga sulit promisi.

Lihatlah partai cap kepala garuda, bintang segi tiga berlatar biru dan bulansabit kembar padi kapas atau partai yang berjargon nurani, sangat gencar menjual diri. Bandar mereka tentu tajir dan tentu sang bandar pandai berhitung dalam menaro uangnya agar mampu kembali. Buat apa membantu partai guremn yang pasti kalah.

Jika dulu dimusuhi, sekarang di tampilkan sebagai kawan dan guru bangsa, jika dulu diharamkan jadi imam dan sekarang dirangkul rangkul, jika dulu berpeluk pelukan dan sekarang bertempur di pengadilan dan jika dulu asyik main sinetron dan film sekarang menjadi calon legislatif dan gubernur, itulah politik.

Dalam politik, konon yang tetap adalah kepentingan. Politik juga membuktikan hukum ketidakpastian heisenberg yang dalam pembuktiannya perlu menggunakan “persamaan schroodinger” yang “mengerikan” itu. Dalam politik juga ada irasionalitas dan tentu uang.

Sekarang musim jual diri, dirinya dijual untuk menjadi tokoh politik dan yang bisa mengendalikan mereka hanya nurani dan masyarakat yang masih waras dalam bersikap dan berfikir. Dalam dunia politik, ketika sistim terbuka dan transparan saja masih mampu “menipu” pemilih dengan membentuk persepsi, apalagi ketika sistim tertutup, tidak transparan.

Musim jual diri adalah musim ketika mata dan pikiran kita dipenuhi polusi dengan foto foto “tokoh” yang tdk kita kenal dan tampil manis, ganteng, cantik, saleh dan tersenyum simpul sambil berkata “pilihlah aku jadi wakilmu,…”

Tabik
26/12/08
Nanang

No related posts.

No Responses to "MUSIM JUAL DIRI"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...