Cermati sebuah stasiun TV, ada acara bernama super mario. Bukan film kartun yang menampilkan mario bersaudara si tukang ledeng itu, tetapi acara yang menampilkan Mario Teguh (MT) memberi motivasi kepada pemirsa.
Temanku, seorang profesional muda bidang informatika, cerdas, mantan aktivis perempuan dan meski sudah bisa berbahasa inggris, masih perlu kursus bahasa perancis. Nah dia, termasuk ngefans dengan acara tersebut. Meski dia sudah super sibuk, termasuk mengelola rumah dan mengurus putera semata wayang, namun masih menyempatkan hadir di acara MT itu.
MT memberi tips kepada pengunjung studio TV dan pemirsa bagaimana lebih pede, berfikir positif, bersikap santun kepada kolega, bahkan bagaimana bersikap elegan kpd musuh. Pengunjung bertanya, interaktif dan termotivasi, akhirnya pulang dengan dada tengadah karena pede bertambah.
Masyarakat kota adalah urbanis, dengan kehidupan yang dipacu oleh sesuatu yang kasat mata dan bersifat material, serta penuh persaingan dan seringkali saling tohok dan “membunuh” berebut rejeki, sehingga perlu “cas aki”. Dengan mendengar motivator bicara “aki penuh”, keyakinan bertambah.
Motivator alami, seperti agamawan, masih didengar. Namun, kehidupan urban seperti di atas juga mereka alami. Seorang teman profesional merangkap mubalig bercerita, bahwa mimbar “basah” di kantung perkantoran tajir sering jadi rebutan mubalig, persaingan tersebut terasa oleh jamaah, dan berakibat menurunkan kepercayaan mereka dan akhirnya hadir dalam ritual agama hanya untuk menggugurkan kewajiban belaka.
Motivator necis dan cerdas seperti MT laku keras, bahkan dengan membayar sekalipun “jamaah” mau hadir dalam “pengajian” MT, apalagi disorot TV pula. MT juga piawai dalam mengaitkan isu keseharian profesional dengan upaya pencitraan diri pendengarnya, yang berujung sukses di dunia, akhirat ? walahualam.
Ketika tokoh, guru, orangtua, panutan, kyai, pastur, pendeta dan sahabat tidak mampu memotivasi kita, bahkan seringkali menjungkalkan impian kita. Ketika lingkungan kita tidak mampu menjadi guru dan motivator, maka motivator seperti MT diperlukan.
Leader atau pemimpin adalah motivator saat bekerja, leader yang hebat mampu memotivasi pengikutnya hingga mau disuruh nyebur ke lautan api sekalipun, mungkin karena mereka punya karisma.
Lia Eden, terlepas ke nylenehan ekstrim ajaran yang disampaikan, adalah seorang motivator. Banyak pengikutnya yang termotivasi dan menjadi abdi setia sang “ruhul kudus”. Ketika sang motivator ditangkap polisi, pengikutnya rela ikut bermalam di kantor polisi.
Guru adalah motivator untuk muridnya dan murid akan terpacu menjadi yang terbaik, jika guru hanya sanggup membuat bete muridnya, maka tak patutlah dia disebut sebagai guru karena sikapnya justru men-demotivasi murid dan rekan sekerja.
Bahkan, anakpun motivator, karena mereka adalah hadiah terbaik dari Tuhan kepada orangtuanya agar dididik untuk meneruskan risalah kebenaran. Banyak ibu dan ayah yang enggan hidup karena sang anak tewas, atau pasangan yang tak semangat hidup karena tidak dikaruniai anak.
Istri atau suami juga motivator, meski kadang kadang sikapnya membuat pasangannya sebal, tetapi begitulah manusia. Dengan beristri atau bersuami, manusia termotivasi untuk hidup lebih baik dan berguna untuk mereka.
Pendidikan dalam arti luas, seharusnya mendidik manusia mampu bernalar, dengan bernalar manusia akan mampu menangkap dan menafsir perilaku manusia dan tanda tanda alam dan menjadikannya motivator.
Banjir, gempa, puting beliung, longsor, kemiskinan, kemewahan, wabah, teror, kelaparan, bensin seret, tabung gas meledak, artis bercerai, presiden dilempar sepatu, sebut saja semuanya, mampu dijadikan i’tibar, kaca benggala dan dijadikan motivasi untuk berjuang agar kehidupan manusia dan mahluk lain mampu hidup lebih baik.
Ketika nalar manusia tumpul dan manusia yang menerima takdir mengasahnyapun tak mampu bertugas, maka makin banyak motivator tidak langsung, seperti MT bermunculan. Jika ada satu atau dua itu masih baik, tetapi jika peran dan jumlah mereka sudah mengalahkan guru, dai, atasan, ortu dan sahabat, artinya warga sedang seret motivasi dan butuh figur motivator ulung.
Alm Soekarno, presiden RI pertama itu kata ayahku adalah motivator ulung, hanya dengan berpidato melalui radio saja, jutaan orang berduyun duyun mengikuti anjurannya untuk menjadi sukarelawan dalam proyek “ganyang malaysia”.
Tetapi, mungkin memang jaman sudah berubah, motivator jadul bisa jadi sudah tidak laku saat ini dan rakyat saat ini memang perlu motivator perlente, cerdas, gagah dan hanya bicara nilai nilai universal seperti MT itu.
Tabik
28/12/08
Nanang
No related posts.