Saya anggota dari 5 milis dan aktif di milis cfbe dan klubguruindonesia, sisanya hanya anggota non aktif. Ketika saya cermati, ternyata ada betulnya kata seorang teman di milis itu, karena berada di dunia maya dan belum tentu akan saling kenal di dunia nyata, maka “postur saya adalah isi posting saya…”.
Jika saya lebarkan lagi, milis klubguru indonesia mewakili seperti apa postur guru indonesia (tentu yang anggota milis) dan bagaimana mereka bersikap, milis cfbe mewakili seperti apa penggiat pendidikan bersikap dst. Umumnya mereka sangat khas Indonesia yang formal, santun dan berupaya untuk tidak berdebat, apalagi bertengkar, karena konon Indonesia itu sangat menghargai harmoni.
Padahal tukar pikiran (asal dikembalikan lagi), debat bahkan bertengkar itu sangat sehat. Di sana emosi dan pikiran kita dilatih. Tukar pikiran, debat dan bertengkar itu asalnya adalah dari perbedaan, apa saja. Mulai beda pengalaman hidup, hingga beda keyakinan atas kebenaran.
Saya dengan pak Satria adalah mitra kerja dan jika sudah bertemu dalam rapat, kami sudah seperti anjing dan kucing. Tetapi bencikah saya kepada beliau ? Tidak ! Saya justru mencintainya sebagai seorang saudara tua, meskipun sesekali sebal juga karena ke ngeyelan suheng satu itu hehehe…
Ketika usai debat sampai muka panas, semenit kemudian kami bareng minum teh panas dan makan nasi goreng atau ikan bakar plus nasi hangat plus jus sirsak dan bicara urusan remeh temeh sambil tertawa. Pak Satrialah tujuan pertama aku berhutang ketika kantungku sedang kempis.
Itu di dunia nyata dan mudah berinteraksi, bagaimana di dunia maya ? Sebetulnya tidaklah berbeda jauh. Jika masih ingat, dalam kaidah manajemen, pembentukan kelompok itu melalui tahapan. Biasanya dimulai dgn sangat formal, semua nyaman, menahan diri, menampilkan yg terbaik saja dan inilah masa bulan madu.
Kemudian berlanjut dgn buka bukaan dan bertengkar, keluar aslinya. Jika mampu menyelesaikan masalahnya, karena sudah menerima kondisi kolega apa adanya, masuklah fase terakhir, kelanggengan hubungan.
Bangsa kita, sangat tidak suka bertengkar dan selalu menghindari pertengkaran, baik ketika masih bocah bahkan hingga dewasa. Padahal bertengkar dalam batas tertentu adalah wajar, tetapi harus selesai. Bertengkar harus menjadi fun dan joyful.
Awalnya, saya juga tak nyaman ketika membaca debat kusir dan pertengkaran di milis, tetapi lambat laun saya biarkan saja. Karena, siapa tau ternyata apa yg diposting dan terbaca geram, ternyata ditulis sambil tertawa ngakak. Kalo kita ikut marah, kan runyam.
Jadi, bertengkarlah dan sudahi. Jangan bertengkar lantas dendam. Berdebatlah dan akhiri dengan salaman. Jangan pula terlalu merendahkan diri apalagi merendahkan orang lain, jangan merasa ketika bertengkar, maka kepribadian kita memburuk. Rugi jika tidak memanfaatkan media tengkar di milis yang mengijinkan pertengkaran.
Saya sendiri seringkali tidak membalas ajakan debat, karena saya tidak pandai berdebat. Apalagi bertengkar, karena sudah capai setiap hari bertengkar di jalanan Jakarta dan di pekerjaan.
Jadi berdebat dan bertengkarlah, karena berdebat itu melatih logika dan nalar kita, bertengkar itu akan memacu adrenalin kita dan sehat, asal dengan kaidah debat dan pertengkaran yang sehat, apa itu ? definisikan sendiri…
Tabik
Nanang
30/12/08
No related posts.