Di Depok, Puncak, Monas, Ancol, Kelapa Gading, Surabaya, Medan dan Makasar serta sebutlah di kota kota besar lain, kembang api memenuhi udara saat pergantian Tahun 2008 menjadi 2009.
Di Banjarmasin, Martapura dan beberapa daerah lain, banjir masih menahan warga untuk bergembira. Di nun jauh di Gaza Palestina, kesedihan dan kengerian yang diakibatkan serangan Israel menyelimuti pergantian Tahun. Lebih 1500 warga dirawat apa adanya dan nyaris 400 warga tewas.
Hitunglah berapa dana sudah dihabiskan untuk hanya membeli petasan dan kembang api di kota tersebut serta jika dijumlahkan dengan kota besar dunia, berapa Triliun Rupiah dihabiskan demi sebuah kemeriahan itu.
Hingga usia menjelang setengah abad, aku masih belum mengerti mengapa manusia begitu antusias merayakan pergantian tahun itu. Bukankah pergantian Tahun ibarat penambahan Tahun dan artinya setahun sudah berkurang usia dunia ini menjelang kiamat ?
Peramal kondang dengan pede mengira ngira, siapa artis yang akan kawin, cerai bahkan mereka meramal bencana apa yang akan menimpa negeri ini. Semua disampaikan dengan enteng, se enteng berita infotainment yang membuat kita melayang dan permirsa percaya.
Jalan menuju dan pulang ke area wisata macet, TV menyiarkan kemacetan 10 Km lebih terjadi di pantai pangandaran. Entah daerah lain yang tidak terpantau, bisa jadi lebih panjang. Hitunglah enerji yang harus dibayar untuk keriaan awal Tahun itu.
Di Madiun dan Karawang keriaan agak ricuh, tetapi luarbiasa di Ancol dan TMII Jakarta yang selalu menampilkan dangdut dan rock, tak ada keributan. Bang Haji Rhoma kembali menggoyang DKI, raja dangdut ini memang tak tergantikan, selalu tampil di TMII atau Ancol sejak akhir Tahun 70an.
Adapula yang bersimpuh di mesjid At-Tin TMII, mesjid mewah yang dibangun alm. presiden Soeharto ini terlihat gemerlap. Ustd Arifin Ilham memimpin zikir, sambil sesekali mendengar lantunan suara Ebiet G. Ade. Kulihat di TV ada peserta terisak isak.
Aku dan anak bungsuku menikmati pergantian Tahun dengan menonton Harry Potter “The Goblet of Fire” sambil ditemani bakmi dan otak otak goreng serta secangkir teh nasgithel, sesekali aku mengunyah kacang kulit rasa bawang.
Anak sulungku patungan membeli seekor ayam dan beberapa ekor ikan bawal, mereka begadang sambil membakar lauk tadi dengan sesama remaja teman nya di halaman rumah. Si tengah, ikut ke Daruttauhid di Bandung dgn teman sekelasnya, dari acara yg kubaca, saat ini mereka diminta kemping solo di keheningan luarkota Bandung.
1 Januari 2009, semua stasiun TV menyiarkan keriaan semalam, di semua kota dunia, mulai Moscow, Paris hingga London dan NewYork, semua hingar bingar bermandikan kembang api. Hanya satu berita yang beda 180 derajat, Israel tetap mengebom Gaza dan menhan mereka bicara tetap akan menghabisi Hamas.
1 Januari 2009, di negeri Utara, salju akan turun semakin lebat dan tentu cuaca dinginnya luarbiasa. Meski Palestina tidak termasuk kategori negeri utara, tetapi udara di sana, dimusim seperti ini pasti dinginnya menyengat dan mematikan mereka yang terluka dan tak terurus dan tanpa pendingin.
1 Januari 2009, sampah berserakan dan petugas penyapu jalan dan taman sibuk membersihkan area keriaan semalam yang tampak kumuh dan kotor, mereka dapat uang lembur dari majikannya.
1 Januari 2009, aku masih belum mengerti mengapa jutaan manusia gembira ria menyambut Tahun 2009, apakah karena sudah lepas dari kesulitan di Tahun 2008 dan berharap Tahun 2009 nasibnya lebih baik ?
Entahlah, tetapi yang pasti ramalan statistik berbicara bahwa di Tahun 2009, nyaris ratusan ribu pekerja akan dipecat karena perilaku boros Amerika yang membawa krisis, perilaku seperti berfoya foya saat pergantian Tahun itulah.
Tabik
Nanang
1/1/09
No related posts.