Libur adalah istirahat bekerja dan istirahat bekerja itu sudah ada sejak manusia masih menjadi pemburu hingga bekerja dalam revolusi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Istirahat itu seperti profesi tertua yang tidak pernah punah, Guru, ada sejak manusia pertama hingga nanti menjelang kiamat, tidak seperti tukang solder panci yg sudah sekarat.
Cara istirahat libur di jaman manusia pemburu, mungkin hanya di gubuk dan goa saja sambil bercengkerama dengan sesama anggota, anak dan istri. Istirahat libur di jaman TIK ini punya berjuta pilihan, tetapi jika diklasifikasi hanya 3 pilihan, menghabiskan waktu di alam ciptaan Tuhan, di tempat ciptaan manusia atau campuran keduanya.
Mal dan tempat tertutup lain serta suasana alam yang diciptakan manusia, sering menjadi pilihan utama. Atau, menyalurkan naluri “berperang” dengan mainan seperti paintball dan sejenisnya. Apalagi di musim hujan, tentu Mal dg segala fasilitasnya jadi prioritas.
Ketika manusia kota sudah penat bekerja di keseharian, seringkali menjadi malas untuk sedikit berkeringat dengan berlibur di alam bebas. Trekking hingga mendaki gunung atau sekedar kemping di lereng gunung dengan sesekali menelusuri jalan setapak, bukanlah pilihan bahkan dianggap beban.
“Ketika di kota, yang kulihat adalah horison buatan manusia namun ketika di sini, sejauh saya memandang yang kulihat adalah horison buatan Tuhan”
Itulah kutipan favorit saya 25 Thn lalu dari majalah Reader Digest, ketika seorang eksekutif kaya bertanya kepada seorang pemuda dan masih mahasiswa, ketika memandu perahu mengarungi jeram jeram di sungai di Kolorado, mengapa dia di tempat sepi itu, padahal teman sebayanya sibuk gembira di cafe kota saat berlibur.
Kutipan itu masih absah, bahkan semakin relevan untuk kondisi alam yang semakin rusak ini.
Dengan berlibur dan melihat horison buatan Tuhan, tentu yang kita lihat tidaklah superfisial belaka, cobalah tonton acara kanal discovery atau BBC tentang alam, ada rasa dahsyat dihati kan ? Bagaimana jika tontonan itu benar benar ada di depan anda.
Ketika putra tertuaku masih duduk di SD kelas 3, kami berlibur berdua dg cara kemping di lereng gunung salak, cangkuang. Kala magrib, gunung salak terkuak temaram dan kami nongkrong sambil memasak di depan tenda, udara dingin. Ketika gelap, beberapa kunang kunang menempel di dinding tenda dan anakku menangkap serta mengejar kunang2 itu dan lantas tak habis habisnya bertanya. Filmis banget kan ?
Sastrawan Taufik Ismail bercerita ttg kecintaannya kepada alam adalah didikan ayahnya yg sering mengajaknya mencari getah damar di hutan sumbar sana dan dia bercerita sering menemukan padang rumput dengan aneka ragam bunga yang bermekaran.
“Saat itu, ayah tak pernah bilang..Taufik lihatlah betapa indahnya bunga bunga itu, tetapi ketika beranjak dewasa saya merasakan sesuatu yg lain dengan pengalaman itu, begitu berharga” demikian Taufik bercerita.
Namun, berlibur di alam dan berjalan jalan menapaki horison Tuhan bukanlah perkara mudah, karena yang menghambat adalah paradigma berfikir manusia itu sendiri. Capek lah, bahaya lah, kurang kerjaanlah, nanti sakitlah dan semua alasan yang mendukung kegagalan cara libur seperti itu.
Jika belum bisa terlalu jauh menjelajahi gunung dan hutan hujan tropik yang indah. Pernahkah mencoba menjelajahi hutan di UI Depok, bagi yang berumah di Jadebotabek ? Gratis. Kelilingi area itu dan siapkan ransel membawa makanan, ajak putra putri kita yang balita atau masih SD. Di sana ada danau, hutan, ular, kadang biawak dan bajing.
Ketika anak sudah terbiasa menjelajahi daerah terbuka seperti itu, meski buatan manusia, maka pilihan liburan menjadi beragam dan mungkin akan berakhir ke kecintaan pada alam. Sayang sekali jika kita jadi manusia yang hanya “Mall hunter” karena memang tak pernah terpikir dan mau mencari alternatif berlibur yang bermakna.
Tabik
Nanang
2/1/09
No related posts.