Cobalah tengok TV saat wartaberita, setidaknya ada 1 berita tentang acara budaya yang dekat dengan urusan tak kasat mata dan nasib masa depan. Ada ruwatan, ada sedekah bumi dan banyak lagi jenisnya, setiap daerah mengembangkan cara yang konon diwariskan oleh nenek moyang mereka.
Saking serunya acara tersebut, berduyun duyun warga, turis lokal, turis asing melongok dan terkagum kagum, mungkin mereka berfikir “dalam era yg demikian dahsyat, masih ada ritual seperti itu”, atau juga berfikir “negeri ini mungkin ingin seperti jepang, yg memelihara tradisinya”, entahlah.
Semua acara tersebut adalah harapan kepada Tuhan, siapapun itu, agar kehidupan menjadi lebih baik, tak ada bencana, panen melimpah, ikan laut mbludak dan kehidupan jadi lebih enteng. Pelakunya butuh motivasi untuk hidup.
Mengapa upaya “makelar” atau “perantara” seperti itu semakin marak ? Apakah perantara sejenis motivator agamawan sudah tidak laku, atau mereka sudah terlalu sibuk melayani politikus, asyik berpolitik, matre atau alasan tak elok lain sehingga semakin tidak peduli dengan “gembalaannya”. Akhirnya, sang gembalaan memilih jalannya sendiri.
Bangsa ini memang sangat kuat penggunaan perasaannya dan belum terlatih menggunakan nalar. Mungkin, perasaan itulah yang mendorong mereka lebih menyukai segala ritual yang sebetulnya adalah motivator, karena betulkah Nyi Roro Kidul atau Dewi Sri akan membantu, siapakah dia ? sekedar simbolkah ?
Bahkan, oleh sebagian saudara kita, ritual itu tak lebih dari sebuah kemusyrikan atau menuhankan selain Tuhan dan tentu wajib diberantas. Namun, mereka yang dengan alasan “memurnikan ajaran” ini juga tidak mampu memberi alternatif yg memotivasi dan meyakinkan warga polos itu.
Ketika motivator yang berbasis nalar gagal memainkan perannya dan yang lain belum juga datang, maka alam akan menemukan jalannya sendiri (Jurassic Park). Warga yang pada dasarnya dekat dengan alam, akan bersekutu dengannya dengan membuat ritual ritual mereka, tanpa perlu alasan yang bernalar.
Dengan ruwatan, sedekah bumi, larungan dlsb, hati rakyat kecil jadi lebih adem dan dekat dengan Tuhan yang mereka yakini, meskipun harus berebut tinja seekor kerbau putih sekalipun. Menurut penganut agama samawi itu sebuah kesalahan besar tak berampun.
Namun, bisakah kita yang merasa bernalar baik dan berkeyakinan yang benar itu mulai berfikir dengan cara mereka yang bahkan sering lebih arif dan bersama sama mendidik nalarnya, dan jika proses itu berjalan dengan lancar, maka akal sehat yang bernalar akan mulai datang, secepat tabu yang mulai hilang.
Tabik
Nanang
4/1/09
No related posts.