AhmadRizali.Com

10 Jan, 2009

Genosida Palestina, Mi Instan, Roti dan Tempe

Posted by: Ahmad Rizali In: Israel|Kapitalisme|Politik

Sudah lebih 800 nyawa warga Palestina tewas ditangan senjata Israel, beberapa adalah pekerja kemanusiaan dan PBB, ribuan korban yang perlu pertolongan sekarat, karena tim bantuan kemanusiaan dilarang masuk oleh Israel. Komisi HAM PBB sudah menyatakan Israel memenuhi syarat sebagai penjahat perang dan resolusi PBB untuk penghentian perangpun disepakati, meskipun USA abstain tetapi Israelpun tak menggubris.

Jutaan US dolar dibelanjakan oleh USA untuk membantu Israel memperkuat mesin perang dan ekonominya dan digunakan dalam serangan mematikan tersebut, lalu darimana sebagian dana itu, dari Roti, Mi Instan dan Tempe yang kita makan setiap hari.

Roti dan Mi instan berbahan utama gandum dan Indonesia impor paling besar dari USA, lantas Kanada. Gandum diolah terbesar menjadi dua makanan pengganti beras tadi, selain tepung dan tentu produk makanan bertepung gandum.

Selain mi instan, kita menyumbang USA membiayai Israel dari saat kita memakan tempe, karena Indonesia mengimpor kedelai dari USA dalam jumlah besar, tentu semua produk kedelai, seperti tahu dan susu kedelai.

Adakah produk lain, tentu ada. Buah Apel, Pear dan anggur merupakan contoh lain, termasuk kopi starbuck dan tentu coca cola yang bahannya diimpor dari sana. McD ? sebagian diimpor dari sana, tetapi banyak juga produk lokalnya.

Bagi warga kota besar dan terbiasa pola makan “modern” akan puyeng kan ? Bagaimana mungkin kita ikut demo dan mengutuk Israel bahkan Amerika, tetapi tetap saja sarapan mi instan dan menenggak coca cola, lalu siang mengudap gorengan tempe dan tahu atau roti isi daging agar tidak kelaparan. Malamnya santai dan mampir ngopi di Starbuck atau makan ayam dan roti di McD atau donat di Dunkin’

USA dan negeri pendukung Israel, pasti akan tenang tenang saja ketika ekspor produknya masih tidak terganggu, karena kocek negerinyapun tak terganggu, sehingga “EGP” lah. Tetapi, ketika ekspor negeri itu terganggu, karena tidak ada yang mau membeli, pastilah mereka mulai melotot.

Sungguh tak otentik kata almarhum cak Nur, ketika kita ikut demo mengutuk negeri USA dan Israel bahkan membakari benderanya, tetapi tetap menjadi pembeli barang produk impor dari mereka, seperti ilustrasi di atas.

Mungkin yang paling “militan by default” tanpa harus ikut demo adalah perilaku ibuku. Dia hanya mau makan nasi putih, dengan lauk ikan bandeng, plus susu sapi, sayur mayur dan makan buah pepaya. Dia tidak doyan, mi instan, tempe, tahu dan jarang makan roti dan tidak suka buah impor.

Ketika anakku yang sedang senang2nya mengutuki Israel kuceritakan soal mi instan dan roti ini, mereka terperangah dan protes “gimana dong,…”, kujawab “makan singkong atau gathot tuh,…” mereka tertawa, untunglah mereka hanya dijatah 2 keping mi instan dalam sebulan dan lebih suka bubur ayam daripada roti, lebih suka mangga dan sawo daripada apel merah amrik.

Mungkin ayam dari bubur ayam, tiren (mati kemarin), tidak apalah, mending makan bangkai daripada ikut menyumbang dan mendukung Israel dan Amrik menjadikan warga palestina bangkai.

Mari kita mulai boikot produk produk tadi, dan pindah ke makanan berbasis produk lokal dan sebagai guru, tugas anda untuk bercerita kepada para murid, bagaimana mendukung sebuah gerakan menghapuskan penjajahan dari atas dunia karena kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Rasanya dukungan kita atas gerakan itu akan lebih bermakna, selain mendukung demo besar2an.

Tabik
Nanang

No related posts.

No Responses to "Genosida Palestina, Mi Instan, Roti dan Tempe"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...  
(52)    sugeng santoso  Saya bangga jadi anggota tim Beliau sejak 96, dan banyak ilmu yg sy dapat dari Beliau....Tq P Rizali,...Sukses selalu, mdh mdhn Allah memberkahi keluarganya, amin......  
(51)    salamah  saya seorang guru SD dari sekolah pinggiran .... dan saya senang jika membaca kisah-kisah inspiratif dari para senior saya....... ...  
(50)    salamah  hebat sekali.........  
(49)    alat peraga  Salam kenal pak... semoga pendidikan di indonesia makin meningkat anda adalah inspirasi kita semua.. salam kenal alat peraga...