“Waktu itu bak pedang, dia akan menebas lehermu jika engkau tidak pandai mengelolanya”-sayyidina Ali r.a. (semoga Allah ridhp dan merahmatinya).
Waktu memang ibarat argometer taxi. Ketika kita meluncur lahir dari rahim ibunda, argometer sudah dipencet oleh pencipta kita dan tidak akan berhenti sebelum dia menghentikannya sendiri.
Ada manusia yang tidak peduli dengan waktu, artinya argometer dibiarkan saja berjalan tanpa dirinya melakukan apapun, bahkan menyenangkan diri sendiripun tidak.
Waktu juga berjalan sangat cepat, ketika kita sibuk dan senang dengan kesibukan itu, biasanya kita sebut “lupa waktu” dan waktu bisa menjadi sangat lambat ketika kita menunggu tanpa melakukan apapun.
Manusia di pedalaman yang jauh dari kota besar, waktu biologisnya tidak disetel berdasarkan jam ditangan kita, tetapi disetel dengan indikasi alam. Mereka mulai bangun dan berkarya jika ayam sudah berkokok dan akan mulai masuk rumah jika matahari sudah tenggelam.
Mereka juga tidak pernah dan merasa perlu mengatur jadual dengan seksama, sehingga kapanpun orang lain ingin bertemu bisa terlaksana. Pengaturan waktu sangat lentur, kecuali masalah yang dianggap prioritas seperti waktu ibadah dan ritual budaya lain.
Jika manusia dari kota besar pergi ke perdalaman terpencil maka otomatis akan mengikuti setelan waktu biologis mereka yang lambat. Ketergesaan menjadikan mereka tidak nyaman, seperti kelambatan yang membuat kita tidak nyaman.
Di Tahun 1980an, aku sempat berkunjung ke sebuah desa kecil di utara Bima, NTB. Butuh waktu setengah hari menggunakan bus dari Bima ke desa itu. Ketika pulang, ban Bus kami kempes, kenek dan supir menambal sendiri ban dalamnya. Aku dan petualang besar indonesia (alm) Norman Edwin sengit karena melihat semua penumpang pasrah tanpa protes. Penumpang pria bercengkerama sambil merokok, yang perempuan berbincang sambil mencari kutu rambut teman bincangnya.
Cerita lain, dari Kupang NTT menuju Atambua perbatasan Timor Leste, perlu 8 jam lebih berkendaraan bus pada Tahun 1990 an. Bus dari Kupang akan berbaik hati menjemput semua penumpang dirumahnya dan ketika usai istirahat berbaik hati menunggu dan mencari penumpang yg belum masuk kendaraan.
Penumpang juga tidak tergesa gesa, bahkan ketika yang duduk di kursi paling depan merokok mereka akan mengasongkan ke kursi belakang, sebaliknya pisang sesisir yg dimakan penumpang di kursi belakang akan beredar ke depan, semua penumpang meski tak kenal jadi seperti keluarga besar yg sedang piknik.
Kontras dengan profesional muda urban (yuppies) di kota besar, mereka bekerja seperti dikejar setan. “Setan waktu” menjadi sesuatu yang sangat ditakuti. Dimana mana tersebar teror deadline atau tenggat waktu, yang artinya “mati kamu” jika tidak bisa selesaikan tugas dalam “waktu tertentu”.
Banyak yang bisa dan harus serta niscaya kita kerjakan sejalan dengan argometer waktu kita, namun begitu singkat jatah waktu yang kita miliki, bak tenggat jam pertandingan catur. Sehingga, semuanya tergantung pilihan kita, kapan akan menggunakan model waktu biologis manusia perkotaan dan kapan menggunakan model waktu perdesaan pedalaman.
Tetapi, dengan adanya TV, manusia di perdesaan sudah peduli dengan waktu, setidaknya peduli dengan jadual tayang sinetron kesayangan mereka, apapun akibatnya. Sebaliknya, manusia perkotaan berduyun duyun pergi ke desa untuk ikut ritme kehidupan mereka, agar waktu biologis mereka berjalan lebih lambat, dan mesin hidup tidak cepat aus karena berputar terlalu cepat.
Anda bagaimana ?
Tabik
7/2/09
Nanang
No related posts.