Sudah beberapa bulan ini, beberapa kali sepekan aku nggenjot sepeda biru dari Gambir ke Jatipadang Ragunan, nyaman dan cukup menggembirakan, meski tetap berbahaya. Ada jalur sepeda dari Gambir ke TjBarat via Jt.Padang, tetapi amat menyebalkan
Aku menyusuri jalan di depan PP Muhammadiyah dan kolese kanisius langsung menuju Cikini, saat ini di simpang 3 Cut Mutia langsung belok kanan, ini sebuah upaya sulit dan berbahaya, karena harus memotong kendaraan yg melaju ingin terus ke arah cikini.
Nyaman sekali memasuki jalan di kawasan tua menteng yang penuh tanaman dan pepohonan, Pieter Zoen Coen memang canggih, aku mengayuh santai di jalan teuku Umar. Melintasi musium Nasution, hingga memotong jl.Moh.Yamin hingga taman Suropati.
Memotong jl. Diponegoro, menyusuri rumah dinas Wapres di samping kantor Bappenas masih nyaman. Namun, menjelang memotong rel KRL di ujung jalan madiun per empatan latuharhari dan jembatan ciliwung banjir kanal, di situlah semua mobil mulai tersendat. Sepedaku mengambil jalur tengah dan langsung berada di ujung jalan siap siap memotong rel.
Perempatan ini “crowded”, pengemudi sepeda motor penyebabnya, meski lampu lalin masih merah mereka sering menyerobot.Metro mini dan TransJakarta tak mau kalah, seringkali mereka panik ketika KRL dari Tanah abang menuju depok melintas.
Ketika sepeda membelok ke kanan, lega rasanya, kayuhan mulai santai hingga membelok ke kiri dekat pengolahan air pdam menuju rasuna said tepat di per tigaan dekat wisma imperium. Di sisi kanan, dekat monumen 66, tepat di depan four session hotel kendaraan padat.
Memasuki Rasuna Said, semua jenis kendaraan ada. Pada jam pulang kantor,nampaknya temanku hanya pedagang siomay dengan sepeda jadulnya dan sesekali melintas pengasong kopi instan plus rokok. Di depan KPK, sepedaku masuk jalur cepat dan,…. surga.
Tanpa gangguan motor, taxi, metromini dan asapnya yg sering menyembur ke wajah aku mengayuh nikmat di lajur paling kiri. Pak Polisi yg berdiri disetiap lajur keluar masuk jalur cepat/lambat menyapa ramah. Sepeda memang belum diatur dimana tempatnya di jalan raya dan polisi nampaknya lebih suka membiarkannya melaju di jalur cepat, lebih aman.
Mobil pribadi memang lebih punya rasa hormat kepada pengayuh sepeda dari pada jenis kendaraan yg kusebut di jalur lambat tadi, terlebih lagi sepeda motor, wah biadab. Mungkin dianggab sesama beroda dua, sehingga dengan seenaknya memotong jalan kita dan menyemburkan asap knalpotnya ke wajah. “Siapa suruh elo bersepeda di jalur motor…” mungkin begitu pikiran mereka.
Hingga ujung Rasuna di perempatan Gatsu-Mampang,Indonesia Power, perjalanan nikmat luarbiasa, laju sepeda hanya terhambat sesekali oleh penjual bakpao yg sering dibeli oleh pengendara mobil yg macet berat, kita dapat santai mengayuh pedal sambil melamun.
Namun konsentrasi harus kembali penuh, ketika memasuki jalur ujung mampang prapatan hingga di depan patung kuda gedung kramayudha. Ini adalah jalur neraka,… bertempur dengan ratusan sepeda motor dan metromini S75 yg tak pernah mau mengalah. Jalan juga menyempit dan tak ada pemisah jalur
Tepat sesudah graha inti fauzi Buncit, aku segera membelok ke kiri memasuki jalan potong menuju jatipadang utara dan setelah memotong jalan di depan Republika, meluncur menuju Jln Raya Jatipadang, di depan kantor KlubGuru, pak Sumadi sudah menunggu sambil tersenyum lebar.
Tabik
9/2/09
Nanang
Related posts:
- Bersepeda dari Monas ke Tanjung Barat jam pulang kerja: Menyebalkan ! Sepeda yg kutitipkan pak Sumadi di mobil Kijang kugenjot menyusuri...
- CATATAN MUDIK 2008: Sepeda Motor Tetap Raja Jalanan Take off dari Depok delay 30 menit lebih, seharusnya estimated...