Adakah moda transportasi yg lbh cepat dari KRL ketika jam kerja di Jadebotabek saat ini kecuali helikopter ? Rasanya tidak ada. Warga Depok terutama, dimanjakan dengan banyaknya trayek KRL menuju Tanah Abang/DukuhAtas dan Kota/Gambir, salah satunya KRL Bojong ekspress langgananku.
Entah jam berapa KRL ini berangkat dari stasiun Bojong di KabBogor itu, tetapi dia berhenti di stasiun PondokCina, pas disamping pagar UI tepat jam 06.21 dan ketika pintu dibuka, penumpang sudah sesak, meski sebelum itu ada KRL ekonomi AC bertarif 6.000. KRL BE bertarif 9.000 perak, ditambah 500 perak bisa beli dan membaca Koran Tempo sambil terayun ayun di dalam KRL BE.
Di dlm KRL BE tidak ada pedagang asongan, hanya karyawan yg wajib berangkat pagi arah Kota. Anggota TNI Komando Garnisun Gambir dan TNI Kostrad jg banyak yg menumpang KRL BE, mungkin krn padatnya penumpang dan nyaris 100% pekerja & banyak TNI, KRL BE jarang terlambat.
Di KRL BE jg seringkali ditemui sepasang suami istri muda yang bareng bekerja & saat dikereta masih menyisakan kemesraan mereka semalam.Tetapi di KRL BE ini yg paling menyebalkan adalah perilaku penumpang yg menggagahi tempat berdiri dengan menggelar koran dan kursi lipat kecil untuk duduk. Untuk menggesernya, seringkali sengaja ku tabraki.
Di KRL BE tak ada bau sengak keringat, kecuali sesekali bau baju tak kering saat musim hujan, yg ada hanya bau kesegaran beragam sabun cuci, sabun mandi, sampo dan minyak wangi murahan, maklum karyawan pas pasan yg penting wangi dan belum tentu juga tidak nyaman dihidung.
KRL BE hanya berhenti setelah stasiun PondokCina, di LentengAgung dan Gondangdia, lalu ke Gambir langsung Kota. Bayangkan cepatnya, jika tiada hambatan di Manggarai, BE akan tiba di Gambir jam 06.50, PdCina – Gambir kurang dari 30 menit !!
Ratusan karyawan Pertamina, PLN, TNI, Dephub dan Deplu serta Depdag dll berhamburan keluar kereta, sebagian via pintu selatan, sisanya pintu utara. Namun, sayang sekali, seringkali hanya karena tuntutan disiplin dari kantor agar bisa hadir tepat jam 07.00 dan apel pagi di markas Kogar dan Kostrad dijaga PM-nya, maka mereka melanggar disiplin ber lalulintas dan melanggar UU Lalin.
Nyaris 95% penumpang menyebrang jalan raya yang padat di depan stasiun Gambir itu tanpa melewati Jembatan penyebrangan, karena bisa mengirit waktu 2-3 menit, dan tentu lebih enteng, tidak perlu naik turun. Termasuk Karyawan Pertamina yg katanya sedang bersiap menuju WorldClass Company.
Bersikap tertib aturan dan berperilaku konsisten dalam bernalar dan bersikap, memang berat. Aku sering ragu ketika sendirian melewati jembatan penyebrangan, sementara di bawahku gerombolan penyebrang memotong lalin yg sedang padat.
Yg waras, penyebrang di jembatan atau yg di bawah ya,… entahlah, rasanya aku yg tidak waras.
Tabik
21/2/09
Nanang
No related posts.