“Mari kita pilih ketua RW kita” itulah tulisan di poster caleg yang tertempel di beberapa blok di RWku sekarang, selain masih banyak puluhan lainnya yang mewakili partai anu, parte ini dan partai itu. Tetangga kananku aktivis PKS, tetangga depan rumah, caleg PDS, sisi kiri simpatisan PKB tetapi dia ketua TPS.
Tetangga belakang rumah simpatisan PKS juga, di depan rumahnya kalo tdk salah simpati kepada PAN, sisi kanannya, karena mantan karyawan Bapindo, dia simpatisan Golkar, sungguh berwarna dan tak pernah bertengkar.
Musim jualan partai ternyata menguntungkan warga, setidaknya kaus berlogo partai diperoleh. Sayang sekarang spanduk tdk terbuat dari kain, sehingga jika sudah tdk terpakai bisa dijahit untuk celana kolor.
Bekas spanduk model skrg sulit dipakai apapun, kecuali untuk lapisan atap bocor atau alas tidur di kolong jembatan, atau ada yang mau pake celana plastik dengan menjahit bekas sepanduk model sekarang ?
Di Kecamatan tetangga, sebuah partai “menyogok” warganya dengan memperbaiki jalan di kampung hingga mulus beraspal. Ada pula yg kurang kreatif, tetapi tepat guna dengan memberi pengobatan gratis.
Pekan lalu, semalam sebelumnya sekretaris RTku yang simpatisan PKS itu menggedor rumah memberitakan bahwa hari sabtu jam 08.00 akan diadakan pengasapan nyamuk, konon ada yg terkena cikungunya, aku kaget dan tentu sepakat untuk bersiap besok pagi.
Sejak jam 07.00, hari sabtu yg biasanya ekstra tidur, kami gotong royong memberesi semua barang yang berserakan dan menggelar tutupan koran di atas semua barang yang kuatir rusak jika terkena semprotan.
Jam 08.00 sang juru semprot belum tiba, kutinggal dulu ke tukang cukur dan ketika kembali jam 09.30, belum datang juga, setelah bosan dan capai menunggu kami santai saja. Menjelang ashar jam 15.20an, akhirnya juru semprot datang, diselingi stop operasi kehabisan solar & sempat menyedot dari tengki mobil panthernya pak Sekret RT, pengasapan dilanjutkan.
Asap cepat hilang dengan kencangnya angin bertiup, namun aku agak curiga dengan asap yg kurang berbau obat obatan itu, tetapi sudahlah, toh gratis disemprot oleh petugas berkaus logo PKS itu. Ketika kutanya ke mantan Ka RT yg mengawal mereka, apakah gratis karena di bayar dg kas RT, ternyata tidak. Penyemprotan ini dibiayai oleh caleg yg namanya banyak terpampang di tiang telpon depan rumahku, kreatif.
Malam hari aku menggerutu, ternyata “asap politik” tidak mempan membasmi nyamuk. Aku tidak nyenyak karena tdk menyemprot sendiri kamarku dgn Baygon berharap semprotan asap se ampuh semprotan yang biasanya dilakukan oleh dinas kesehatan kota, kecoapun tewas dan hingga 3 hari tanpa ditutuppun jendela, tak ada nyamuk.
Kenapa tidak mempan ? Mungkin karena, politik terbiasa nyatut, sehingga kadar obatnya dicatut yang tertinggal asapnya. Atau, memang tdk pernah ada obat2an dan hanya asap saja, kan politik itu persepsi, sehingga dengan ngebulnya asap dari semprotan nyamuk, tumbuh persepsi warga, wah… caleg kita peduli sekali.
Lalu dia akan dipilih ? Belum tentu !! warga kan tidak bodoh, apalagi saya yg jengkel berat merasa tertipu, sudah menunggu nyaris seharian, rumah diobrak abrik, jebul … cuma dikasih asap dan nyamuk masih nging…nguing…. di telinga dan menggigiti kakiku, kaki anakku,istriku, lalu pilih dia ? enggak ah.
Tabik
21/2/09
Nanang
No related posts.