14 Mar, 2009
Perkelahian Pelajar Terlarang?
Posted by: Ahmad Rizali In: Bertengkar|Budaya|Catatan|Sekolah
Beberapa media TV pekan ini getol menayangkan perkelahian pelajar baik itu sesama lelaki atau perempuan, duel atau tawuran. Bagi mantan pelajar yg sekarang berusia kepala empat, hal itu ibarat memutar video mereka sendiri dikala muda.
Seorang teman bercerita, ketika duduk di SMA dia berteman dengan seorang anak pejabat tinggi yang punya hobi berantem, mungkin karena energinya sedemikian besar. Suatu hari, dia diajak pergi ke sebuah SMA dan hanya berdua berbocengan motor. Karena berkata hanya sebentar, motor tidak dimatikan dan ditunggui oleh teman tadi. Tiba2, anak pejabat tinggi tadi berlari dikejar oleh beberapa remaja sebaya dan mereka berkelahi.
Ada pula duel tahunan untuk saling berkenalan, anak baru-junior dengan senior, tetapi boleh memilih partner berantemnya. Jika yg dipilih terlalu besar, maka seniorpun berhak mewakili si junior dan pertarungan diwasiti. Ada lagi duel yang awalnya memang merupakan penunjukan eksistensi pribadi, tetapi sangat terbuka dan adil.
Tidak tahukah guru dan pembina sekolah tersebut ? Pada dasarnya mengetahui, namun ada sebuah aturan tidak tertulis, bahwa jika masalah tidak dapat diselesaikan dengan damai, bertarunglah dengan fair, tidak membahayakan dan tidak mendendam. Biasanya, jika ditemani dan adil, bekas “musuh” akan menjadi sahabat terbaik.
Ketika aktif di organisasi pencinta alam, ternyata 50% lebih anggotanya adalah mahasiswa pemberang yang kala SMA gemar berantem dan pemberani, mereka mulai mencoba “berantem” dengan alam dan seringkali mereka berdamai dan bersahabat dengan alam.
Saat ini, semua “aktifitas” masa muda tersebut diekspose media habis habisan sebagai sebuah kegagalan pendidikan yang mengutamakan “kekerasan”, padahal umumnya para remaja “bengal” tadi, ketika dewasa umumnya tidak menyesal dengan kebengalan tersebut dan menjadi sangat santun dan menyukai sportivitas serta memiliki integritas pribadi yang tinggi.
Jika guru melakukan kekerasan kepada murid, atau sebaliknya dan didasari dendam, itulah kekerasan dalam pendidikan. Tetapi, jika sesama murid menyelesaikan masalahnya sendiri dengan “kekerasan” dan dilakukan secara adil, tidak beresiko fisik fatal dan tidak ada dendam, maka itu adalah bagian dari proses “pembelajaran”, bahkan secara kasar, itulah realitas pembelajaran “life skills”.
Mungkin, pendapatku ini agak berbeda dengan beberapa orang yang sangat anti kekerasan dan semuanya diselesaikan dengan aman dan damai, padahal dalam kehidupan faktual, kekerasan itu ada dan it is exist. Tetapi, kekerasan itu ibarat korupsi, harus se sedikit mungkin, sehingga, jika semua nampak aman damai dan diselesaikan secara damai, hal itu menyalahi fitrah manusia.
Demikian
Tabik
Nanang
13/3/09
Sumber ilustrasi: Tempointeraktif
No related posts.