31 Mar, 2009
Situ Gintung: Raibnya Kearifan Lokal
Posted by: Ahmad Rizali In: Kearifan Lokal|Pernak-pernik
Jebolnya situ dipinggiran jalan raya ciputat pada jum’at pagi,26 maret 2009 sesudah waktu subuh itu, hingga artikel ini kutulis sudah menewaskan 98 warga, hampir 100 yg hilang dan belum ditemukan, puluhan luka. Ratusan rumah warga rusak, mulai dari hancur rata dengan tanah, hingga tertimbun lumpur.
Semua warga Indonesia tersentak, bencana yang seharusnya dapat diramalkan itu merenggut nyawa kolega terdekat kita tepat di depan mata. Miris hati, belum usai korban situgintung berduka, air bah bercampur lumpur kembali menerjang sebuah desa di Singkarak, Sumatra Barat yang permai itu, entah berapa nyawa lagi melayang.
Menjelang pemilu, aparat partai berebut menarik simpati dengan menggelontor bantuan, mulai sekardus indomi hingga pengobatan masal, tetapi sadarkah mereka, terutama pemimpin mereka bahwa musibah itu adalah kelalaian dan kebodohan mereka dalam mengelola sumberdaya alam.
“Alam akan menemukan jalannya sendiri”, ujar pengarang thriller film dinosaurus, itulah jalan alam. Air yang melimpah, tak tertampung dengan tenaga hidrostatik ribuan Ton mendesak bendungan yang sudah usang itu. Aturan pendirian bangunan sedikitnya 40 meter dari pinggir situ tak digubris, sekeliling bendungan tak lagi hijau, situpun makin dangkal.
Manusia memang selalu lalai dengan bahaya yang dapat diramalkan, seringkali bekerja tanpa hati, meskipun mereka sangat pandai. Pohon yang sudah berusia puluhan tahun ditebang tanpa pengganti, hanya karena dedaunan yang rontok mengganggu, kadangkala hanya merasa terlindung dan gelap.
Ada pula yang dijarah karena tak punya pilihan dalam alternatif bahan bakar. Minyak tanah tak terbeli dan gas elpiji apalagi, sementara perut tak bisa kompromi. Habislah pepohonan di tanah tinggi, situ mengering kala kemarau, air tanah menyusut, sebutlah semua penurunan baku mutu alam terjadi di sini.
Seringkali, anggaran negara menjadi alasan untuk menunda perbaikan situ yang rawan, tanah genting, bangunan sekolah yang reot nyaris rubuh. Sementara itu uang dibelikan barang yang tak perlu, seragam pejabat, mobil dinas bahkan laptop. Tak sedikit pula yang dicuri dengan cara canggih untuk biaya menjadi wakil rakyat dan eksekutif.
Kapan kapoknya negeri ini menuai bencana yang mereka semai sendiri dengan lalai dan tak peduli akan tanda tanda yang diberikan alam kepada mereka, mereka seperti manusia bodoh yang lebih suka membeli TV bagus secara kredit dan membiarkan kabel listriknya terkelupas dan terbakar.
Mungkin kita tidak sedang menantang alam, karena seringkali penantang alam akan berakhir dengan persahabatan dengannya, tetapi kita tidak peduli kepada alam, bahkan mengabaikan mereka dengan melecehkan kearifan lokal yang begitu bersahabat dengan mereka.
Alam akan selalu memberi tanda tanda jika mereka ingin mengambil jalannya sendiri, kepada siapapun. Mereka yang bersahabat dengannya akan mendengarkan kearifan lokal dan selamat dari amuk alam, yang melecehkan akan abai dan tak mampu membaca tanda tanda, dan disitulah “bencana” yang sebenarnya bukan bencana itu, akan melululuhlantakkan kita.
Masih tak pedulikah kita, jika ada penebangan pohon yang tak benar di depan mata kita, sebagaimana kita sering tak peduli dengan seseorang disamping kita yang masih merokok ketika menunggu tanki bensinnya diisi atau pengendara motor yang asyik mengirim sms ketika sedang menyetir ? Tunggulah “bencana” itu menerpa kita semua.
Tabik
30 maret 2009
Depok
Photo: Kompas Images
No related posts.