AhmadRizali.Com

04 Apr, 2009

TABU HILANG, AKAL SEHAT BELUM DATANG (1)

Posted by: Ahmad Rizali In: Budaya|Catatan

Tabu dalam kosakata bahasa inggris adalah Taboo, artinya larangan, Tabu dalam bahasa indonesia rasanya berarti sama, larangan melakukan sesuatu dan jika dilanggar akan kena sangsi yang disebut kualat.

Tabu berserakan di bumi Nusantara ini meskipun ada yang menganggap tahayul percaya kepada Tabu dan dianggap berdosa, seperti bermain jarum saat menjelang matahari terbenam, menjadikan bantal sebagai tempat duduk dan yang paling relevan saat ini adalah melarang menebang pohon di daerah tertentu.

Tabu sebagai kearifan leluhur berbagai puak di Indonesia, dari Sunda, Jawa, Badui, Dayak, Papua dan seterusnya. Suku Badui tabu mandi menggunakan sabun dan menggunakan paku logam untuk membangun rumah, dahsyat bukan ? Tabu atau “teumenang” terberat adalah menebang pohon di hutan larangan, yang biasanya adalah sumber air untuk seluruh suku. Umumnya tabu masa lalu dapat dijelaskan secara rasional dan tabu masa kini, keseringan mengudap mi instan karena mengandung lilin, sulit dijelaskan.

Menebang pohon besar yang berusia ratusan tahun biasanya ditabukan, bahkan ada ancaman bisa mengancam nyawa si penebang segala. Tabu ini menemukan alasan logis, karena sungguh tak bermoral menebang sebuah pohon yang dengan susah payah hidup ratusan tahun dan memberi kehidupan kepada begitu banyak mahluk hidup, apalagi jika itu pohon satu satunya yang terbesar di tanah itu.

Ketika suku badui melarang penggunaan sabun mandi dan mencuci, hal itu dapat dijelaskan, karena akan mengakibatkan pencemaran dan larangan menebang pohon di sumber air adalah cara untuk melindungi ekosistim agar air tanah tersimpan dengan baik. Bayangkan jika suku ini tidak memiliki tabu yang mereka ikuti dengan taat, pasti sudah ratusan tahun lalu punah kekurangan air.

Tabu saat ini pelan tapi pasti menghilang, pohon raksasa dengan enteng dan tanpa rasa takut kualat, ditebangi. Hutan larangan dijarah dan dengan pasti pula sumber air meredup. Produk teknologi dan keberanian melanggar tabu dengan alasan memerangi takhayul dan diperkuat dengan alasan akal sehat menghancurleburkan tabu ini.

Ketika Tabu hilang, pendidikan dianggap mampu menyelesaikan persoalan dan membuat anak bangsa lebih rasional memandang persoalan, sehingga saat produk pendidikan dan iptek sudah ter internalisasi, maka tanpa tabu pun keseimbangan alam dapat dipertahankan. Tetapi apa lacur, kecepatan hilangnya tabu, tidak sejalan dengan internalisasi iptek dan perilaku berdasar akal sehat.

Hal ini mungkin disebabkan proses pendidikan dan internalisasi iptek itu sendiri tidak bertujuan membuat manusia lebih rasional dalam melihat relasi alam dan manusia, atau pendidikan dan internalisasi iptek salah arah, hanya memfokuskan diri pada kedigdayaan umat manusia atas alam serta yang paling picik, hanya untuk kebutuhan tenaga kerja terampil, alat produksi.

Manusia yang terdidik dan konon sudah memiliki akal sehat mulai mengikis tabu dengan sangat cepat, namun akal sehat manusia tidak mampu menggantikan kedigdayaan tabu dalam mencegah manusia jaman dulu mengekploitasi alam.

Apakah tahayul menghilang pula, ternyata tidak. Meski tabu sudah raib, tetapi manusia masih percaya tahayul dan masih bersikap tidak rasional. Mereka masih percaya dengan tawaran bisnis yang keuntungannya melebihi keuntungan rentenir. Masih pula percaya dengan perdukunan yang umumnya adalah penipuan, bahkan saat pilkada, pileg dan pilpres, dukun politik laku keras.

Ketiadaan tabu mengakibatkan banyak sekali keseimbangan alam dilanggar, sehingga kekeringan, banjir, tanah longsor, kelaparan terjadi tanpa kendali. Akal sehat yang belum datang, tidak mampu mengendalikan bahkan menyelesaikan semua persoalan tersebut.

Tabu hilang, akal sehat belum datang.

Jakarta
14 Juli 2008
Nanang

Related posts:

  1. Tabu Hilang, Akal Sehat Belum Datang (2) Cobalah tengok TV saat wartaberita, setidaknya ada 1 berita tentang...

No Responses to "TABU HILANG, AKAL SEHAT BELUM DATANG (1)"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...