AhmadRizali.Com

05 Apr, 2009

SUATU PAGI DI KRL EKONOMI AC

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|From News|KRL|M Natsir

Tertinggal KRL ekspress Bojonggede membuatku menunggu KRL berikutnya dan pilihan jatuh ke KRL kelas kambing namun diberi pendingin ruangan. Karena kelas ekonomi, gerbongnya adalah limbah bekas KRL jepang, sudah kusam dan dicat kembali berwarna biru, di sana sini masih banyak tulisan kanji. Karena kelas kambing, KRL ini berhenti di setiap stasiun, namun karena ber AC tarif karcisnya 6.000 jauh dekat. KRL kelas kambing beneran, depok pocin-Tanah abang hanya 3.000 perak.

Penumpang yang umumnya karyawan kantoran, cukup padat, berdiripun sulit bergerak, apalagi cukup banyak penumpang egois yang tanpa rasa bersalah duduk santai sambil membaca koran di kursi lipat mini, padahal pasti menghalangi jalan dan mengurangi ruang penumpang berdiri. Bahkan seperti laiknya pengendara motor, mereka sering melotot jika tersenggol karena dorongan penumpang baru.

Gerbong 2 yang kutempati ternyata hanya kipas anginnya yang berfungsi, penumpang yg sesak membuat udara di dalam KRL itu gerah luarbiasa, hembusan angin kencang memang cukup membantu, tetapi terpaan pas dikepalaku yg kututupi koran mengkhawatirkan kambuhnya flu. Kulihat jendela yg sudah mengelupas rangkanya itu dikunci mati dengan sambungan dilapisi silikon murahan, jadi tak bisa dibuka.

Jidat, cuping hidung, tengkuk, lengan bahkan punggung penumpang terlihat mulai basah dan wajah mereka gelisah, tetapi karena kelas kambing, ya musti pasrah ketika harus diselip oleh kereta dengan kasta lebih tinggi, bahkan KRL ini sempat harus menunggu hampir 10 menit menjelang stasiun Manggarai.

Meskipun demikian, KRL kelas kambing berAC ini cukup nyaman dibanding kasta dibawahnya yg selalu sangat padat dan dipenuhi penumpang diatap, karena KRL ekonomi AC ini hanya berjalan saat jam karyawan berangkat dan pulang bekerja, disini juga tanpa pedagang asongan yang kereta dorongnya sering melindas kaki. KRL ini juga kurang populasi copetnya, mungkin karena butuh modal cukup tinggi dengan seringnya petugas memeriksa karcis.

Lolos Manggarai, KRL melaju menuju Tanah Abang. Menjelang berhenti di DukuAtas, tepat disisi kanal banjir di depan pasar rumput dan jalan Latuharhari, masinis menyapa penumpang dengan bunyi bel “Ting Tong..! ” disuarakan dengan jenaka. Kulihat wajah bete penumpang berubah jadi wajah dengan senyuman tipis, apalagi ketika masinis menutup sapaan dengan ucapan “Be careful dan Good Luck..” dengan aksen puak sunda dan diakhiri dgn s panjang, persis pelawak monoxs, senyuman makin lebar dan pintu KRL terbuka, berdesakan penumpang turun dengan wajah sumringah.

Menikmati moda transportasi rakyat kecil memang selalu berakhir menyenangkan dan mampu mengasah rasa kemanusiaan kita, terutama bagi mereka yang tidak terkerangkeng oleh kerutinan yang mematikan nalar dan rasa.

Tabik
2/4/09
Nanang

No related posts.

1 Response to "SUATU PAGI DI KRL EKONOMI AC"

1 | mudarwan

June 6th, 2009 at 1:31 am

Avatar

Saya kira setiap orang, baik itu golongan atas maupun golongan bawah, kaya atau miskin, tua ataupun muda mesti mencoba naik KRL supaya tahu gimana “rasanya” berada dalam KRL.

Saya pribadi – 5 tahun lebih “menikmati” naik krl ekonomi jakarta – depok dengan abodemen, murah sekali memang – tetapi kurang manusiawi.

Ada baiknya memang kapasitas dan frekuensi KRL ditambah agar dapat lebih memanusiakan manusia.

Salut, buat bapak yang walaupun kastanya pejabat bersedia naik KRL.

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...