05 Apr, 2009
SUATU PAGI DI KRL EKONOMI AC
Tertinggal KRL ekspress Bojonggede membuatku menunggu KRL berikutnya dan pilihan jatuh ke KRL kelas kambing namun diberi pendingin ruangan. Karena kelas ekonomi, gerbongnya adalah limbah bekas KRL jepang, sudah kusam dan dicat kembali berwarna biru, di sana sini masih banyak tulisan kanji. Karena kelas kambing, KRL ini berhenti di setiap stasiun, namun karena ber AC tarif karcisnya 6.000 jauh dekat. KRL kelas kambing beneran, depok pocin-Tanah abang hanya 3.000 perak.
Penumpang yang umumnya karyawan kantoran, cukup padat, berdiripun sulit bergerak, apalagi cukup banyak penumpang egois yang tanpa rasa bersalah duduk santai sambil membaca koran di kursi lipat mini, padahal pasti menghalangi jalan dan mengurangi ruang penumpang berdiri. Bahkan seperti laiknya pengendara motor, mereka sering melotot jika tersenggol karena dorongan penumpang baru.
Gerbong 2 yang kutempati ternyata hanya kipas anginnya yang berfungsi, penumpang yg sesak membuat udara di dalam KRL itu gerah luarbiasa, hembusan angin kencang memang cukup membantu, tetapi terpaan pas dikepalaku yg kututupi koran mengkhawatirkan kambuhnya flu. Kulihat jendela yg sudah mengelupas rangkanya itu dikunci mati dengan sambungan dilapisi silikon murahan, jadi tak bisa dibuka.
Jidat, cuping hidung, tengkuk, lengan bahkan punggung penumpang terlihat mulai basah dan wajah mereka gelisah, tetapi karena kelas kambing, ya musti pasrah ketika harus diselip oleh kereta dengan kasta lebih tinggi, bahkan KRL ini sempat harus menunggu hampir 10 menit menjelang stasiun Manggarai.
Meskipun demikian, KRL kelas kambing berAC ini cukup nyaman dibanding kasta dibawahnya yg selalu sangat padat dan dipenuhi penumpang diatap, karena KRL ekonomi AC ini hanya berjalan saat jam karyawan berangkat dan pulang bekerja, disini juga tanpa pedagang asongan yang kereta dorongnya sering melindas kaki. KRL ini juga kurang populasi copetnya, mungkin karena butuh modal cukup tinggi dengan seringnya petugas memeriksa karcis.
Lolos Manggarai, KRL melaju menuju Tanah Abang. Menjelang berhenti di DukuAtas, tepat disisi kanal banjir di depan pasar rumput dan jalan Latuharhari, masinis menyapa penumpang dengan bunyi bel “Ting Tong..! ” disuarakan dengan jenaka. Kulihat wajah bete penumpang berubah jadi wajah dengan senyuman tipis, apalagi ketika masinis menutup sapaan dengan ucapan “Be careful dan Good Luck..” dengan aksen puak sunda dan diakhiri dgn s panjang, persis pelawak monoxs, senyuman makin lebar dan pintu KRL terbuka, berdesakan penumpang turun dengan wajah sumringah.
Menikmati moda transportasi rakyat kecil memang selalu berakhir menyenangkan dan mampu mengasah rasa kemanusiaan kita, terutama bagi mereka yang tidak terkerangkeng oleh kerutinan yang mematikan nalar dan rasa.
Tabik
2/4/09
Nanang
No related posts.