AhmadRizali.Com

14 Apr, 2009

Suatu Hari di KRL Ekonomi AC (2)

Posted by: Ahmad Rizali In: KRL|Pernak-pernik

KRL ekonomi AC membuka pintunya di stasiun Pondok Cina, masyaallah penuh banget. Aku mengikuti penumpang yang menerjang di depanku dan berhasil berdiri mepet di sisi pintu kanan, menjelang pintu ditutup, seorang anak muda gemuk tinggi besar dengan jidat dan hidung berketingat mendsak masuk, berdirilah dia tepat di depanku. AC tidak terasa, atau mungkin karena jubelan penumpang yg terasa hanya kipas angin yang menderu deru bunyinya karena jarang dipelihara. Di stasiun UI, mendesak lagi beberapa perempuan muda dan ibu ibu separo baya, desakan mereka sungguh dahsyat, lelaki besar tadi tergeser ke tengah dan berdiri tepat dibawah kipas angin.

Untunglah aku pesiunan penumpang KRL ekonomi yg lebih sesak dari ini. Kugunakan ilmu “menunggang angin. memeluk rembulan”, perut kukempiskan, kaki pasang melemas dan ikuti saja dorongan dari semua sisi. Ketika awalnya aku mulai berkeraingat, dengan jurus itu, hati jadi tenang, namun karena sempitnya ruang, koran tempo yang baru kubeli, tak bisa kubuka. Di lenteng Agung, desakan masih datang, aku hanya mulur mungkret saja di pojokan tempatku berdiri.

Kulihat lebih dari separo penumpang adalah perempuan berusia muda dan terlihat seperti pekerja kantoran, umumnya cantik dan trengginas serta berbau wangi sabun mandi. Bisa dihitung jari lelaki seusiaku naik KRL jam segini, umumnya mereka naik KRL pagi yang tidak sepadat saat ini. Ibu separo baya juga banyak kulihat, ada yang terlihat seperti pedagang, ada pula yang berseragam PNS, entah kemana saja saat liburan, jam segini baru berangkat.

Setibanya di Pasar Minggu, kupikir akan banyak penumpang turun, ternyata tidak juga, bahkan masih ada yang berusaha naik, meski gagal. Namun di kalibata, terlihat beberapa penumpang turun dan menyisakan dua tiga ruang kosong, tetapi masih padat dan hembusan kipas angin belum menolong. Puluhan penumpang berhamburan turun ketika KRL berhenti di stasiun Cawang. maklumlah, dari sini mereka menyambung dengan bus menuju semanggi hingga grogol, bahkan bisa menuju timur hingga karawang.

Penumpang turun terbanyak sebelum sampai di dukuh atas adalah di stasiun tebet. Ddari isini mereka dapat menyambung menggunakan angkot menuju kuningan dan Sudirman bahkan hingga arah tanah abang pasar. Ruang terasa longgar dan terasa ada rasa dingin, mungkin AC mulai memberi dampak ketika jejalan berkurang. Tidak terasa, aku sudah bergeser lebih dari 2 meter dari pintu dan sekarang berpegangan pipa tempat meletakkan barang di atas jidatku, kulihat ibu muda bertinggi badan hanya sedadaku yang tadi kegencet dan bak ikan kehabisan oksigen itu terkulai duduk dikursi yang ditinggalkan ibu yang tadi asyik membaca majalah national Geografic Tahun 2005, .

Di stasiun Manggarai, meski pintu dibuka tak banya kpenumpang yang turun, bahkan bertambah. tetapi semuanya menjadi happy end ketika masinis yang jenaka itu mulai meneriakan “good luck” dengan sss panjang dan “be careful”, pintu KRL terbuka dan ratusan penumpang berhamburan keluar untuk menunaikan urusannya masing masing dan umumnya mereka mencari sesuap nasi. Di Taxi menuju Gambir, sambil mengurut urut kemejaku yang mulai kumal tergencet penumpang lain, aku termenung, betapa terasa berat hidup di Jakarta ketika mengalami kehidupan sehari hari di KRL seperti ini, dan lebih berat lagi jika setiap hari anda menggunakan KRL ekonomi biasa yang masuk saja sudah sulit, apalagi tergencet di dalam seperti buah korma di kaleng, pantes saja istriku saat hamil dulu nyaris pingsan di KRL, ketika aku ajak “menikmati” perjalanan di KRL ekonomi itu, padahal dahulu tidak se padat saat ini.

Tabik

13/4/09

Nanang

Related posts:

  1. SUATU PAGI DI KRL EKONOMI AC Tertinggal KRL ekspress Bojonggede membuatku menunggu KRL berikutnya dan pilihan...
  2. KRL Bojong Ekspres (BE) Adakah moda transportasi yg lbh cepat dari KRL ketika jam...
  3. 3 hari Ke Manado & Tomohon tanpa HP Karena malam sebelum berangkat tugas ke Tomohon Sulut aku terlambat...

Tags: ,

No Responses to "Suatu Hari di KRL Ekonomi AC (2)"

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...  
(52)    sugeng santoso  Saya bangga jadi anggota tim Beliau sejak 96, dan banyak ilmu yg sy dapat dari Beliau....Tq P Rizali,...Sukses selalu, mdh mdhn Allah memberkahi keluarganya, amin......  
(51)    salamah  saya seorang guru SD dari sekolah pinggiran .... dan saya senang jika membaca kisah-kisah inspiratif dari para senior saya....... ...  
(50)    salamah  hebat sekali.........  
(49)    alat peraga  Salam kenal pak... semoga pendidikan di indonesia makin meningkat anda adalah inspirasi kita semua.. salam kenal alat peraga...