AhmadRizali.Com

28 May, 2009

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI): PROGRAM GAGAL ?

Posted by: Ahmad Rizali In: Catatan|Pendidikan|RSBI

Seorang praktisi pendidikan asal Inggris mantan Direktur Sekolah Internasional menyoal tajam niat pemerintah Indonesia mengacu standar pendidikannya ke standar bangsa barat demi sebuah kata Internasional dan tanpa upaya mengembangkan dan memperbaiki model pendidikannya sendiri. Dua Tahun kemudian, beberapa pakar pendidikan Indonesia menyuarakan hal serupa ketika mereka mengkritik pelaksanaan Sekolah Bertaraf Internasional-SBI (Kompas, April 2009)

Persoalan itu muncul karena begitu maraknya kegairahan sekolah negeri mempromosikan dirinya menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan segala atributnya seperti: guru mengajar dalam bahasa Inggris, kelas berpendingin ruangan dan tentu tarif bersekolah yang selangit dan tak terjangkau warga. Sebuah media elektronik bahkan melaporkan bahwa murid di sebuah SMAN di Jakarta diminta membayar 24 Juta dalam setahun untuk mengikuti kelas Internasional tersebut.

Gegap gempita SBI juga didorong oleh upaya Depdiknas memelopori berjalannya SBI dengan cara memilih dan menetapkan, serta mendanai berbagai sekolah favorit di seluruh nusantara menjadi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan menganjurkan mereka untuk mencontoh pendidikan di kelompok negara ekonomi maju anggota OECD (Depdiknas, 2007).
Namun timbul pertanyaan, apakah pendidikan bertaraf internasional harus menjiplak cara negara lain yang memiliki latar dan akar budaya yang berbeda dengan akar budaya Indonesia, atau demi sebuah kerangka skenario ekonomi global, maka program pendidikan harus selaras dengan Kepres 76/77 yang memberi ruang 49% kepada modal asing untuk berdagang di sektor pendidikan ?

KERANCUAN DALAM MENAFSIR SBI

Di tingkat konsep dan kebijakan sebetulnya SBI belum padu, karena setiap otoritas setingkat Direktorat Jenderal (Ditjen) di Depdiknas sempat menerbitkan panduan SBI sesuai tugas pokok dan fungsinya masing masing yang belum terpadu dan sinkron. Ketidakpaduan itu mendorong Mendiknas mengambil alih urusan tersebut dengan menerbitkan panduan pelaksanaan Rintisan SBI pada pertengahan tahun 2007.

Di tingkat pelaksana, ketidakpaduan tersebut, menyebabkan kepala sekolah bebas menafsir SBI sesuai persepsi masing masing. Ada kepala sekolah yang menafsir SBI sebagai sekolah dengan ruang kelas ber pendingin ruangan, guru harus mengajar dengan komputer jinjing dilengkapi LCD proyektor, kursi kelas berlapir jok empuk dan ergonomik bahkan ada yang menafsirkan SBI seperti bus malam kelas eksekutif, sebuah sekolah dengan toilet di dalam kelas. Meskipun adapula yang menafsir, SBI adalah sekolah dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang diajarkan dalam bahasa Inggris, dan mengadopsi kurikulum International General Certificate for Secondary Education (IGCSE)-Cambridge.

MENGUBAH PARADIGMA

Paradigma pembelajaran kita mengajarkan bahwa gambar kulit gajah itu harus abu abu, belang zebra itu hitam putih, pemandangan alam adalah dua gunung mengapit matahari dan didepannya terbentang sawah yang dibelah jalan raya berhias tiang listrik. Sejak TK hingga Perguruan Tinggi, metode pembelajaran seperti ini tidak berubah, tidak ada sebuah proses kreatif, menemukan, bernalar, mengkonstruksi dengan bimbingan guru. Oleh sebab itu, semua tes yang menggunakan paradigma ini akan berbentuk pilihan ganda (Betul/Salah) serta lebih mengutamakan isi dan hasil daripada proses. Sedangkan paradigma IGCSE adalah pendidikan yang sudah berpusat kepada guru, mengutamakan proses dan membentuk cara menalar, tidak penting apakah hasilnya benar atau salah.

Mengajarkan IGCSE dengan paradigma seperti itu adalah seperti memasang program aplikasi di computer dengan OS yang tidak sepenuhnya kompatibel. Sehingga, ketika “succesfully installed” tidak dijamin bisa dipakai dan kurikulum IGCSE “seakan akan beroperasi” dengan baik, namun kenyataannya tidak. Bagaimana mungkin sebuah paradigma pembelajaran yang berpusat kepada guru, mengutamakan hasil dan kaku menjalankan sebuah kurikulum IGCSE dengan paradigma berpusat kepada murid, mengutamakan proses dan kontekstual.

SBI adalah masalah mengubah paradigma, ibarat mengubah OS (operating system) sebuah komputer. Selain mengubah paradigma, pada tataran pelaksanaan, penguasaan esensi mata pelajaran dan penguasaan bahasa Inggris juga menjadi kunci.

Esensi mata pelajaran mungkin tidak bermasalah karena guru bisa dipilih dengan baik, namun, mencari guru dengan dua kemampuan tersebut sekaligus sungguh sulit. Apatah mengajar dalam Inggris, Guru Bahasa Inggris saja masih banyak yang mengajar dengan bahasa pengantar Bahasa Indonesia. Sehingga dapat dipastikan, dengan Guru yang miskin metodologi mengajar sehingga mampu mendorong murid belajar dengan paradigma di atas dan rendahnya ketrampilan berbahasa Inggris, target lulus ujian Cambridge International Examination (CIE)-IGCSE yang menjadi target SBI akan mustahil dicapai.

CERMIN RENDAH DIRI BANGSA

Meskipun SBI yang sedang naik daun ini diamanatkan oleh Undang Undang No.20 Tahun 2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional kepada setiap Kabupaten/Kota untuk wajib mengembangkan sedikitnya satu SBI, di setiap jenjang pendidikan. Namun, di tataran kebijakan, SBI adalah sebuah konsep yang mencerminkan rasa rendah diri dan ketidakmampuan bersaing dengan bangsa lain.

Penggunaan standar negara OECD menunjukkan indikasi kebenaran dugaan bahwa impor pendidikan semakin memantapkan kecurigaan terjadinya liberalisasi pendidikan dan pendidikan sudah menjadi sebuah komoditi yang diperdagangkan.

Seharusnya, pemerintah mendorong sekolah yang berpotensi untuk mengembangkan diri menjadi SBI dengan acuan mutu pembelajarannya sendiri, dimulai dari pelaksanaan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan sebaik mungkin, yaitu pembelajaran yang lebih mengutamakan proses daripada hasil akhir yang disampaikan oleh Guru yang inspiratif dan trampil dalam mengajar.

Pembelajaran seperti itu akan mendidik murid tidak hanya mampu menerima instruksi dan dengan cepat melaksanakannya, tetapi juga mampu berfikir kritis dan kreatif serta bersikap mandiri sehingga pada akhirnya mampu mengisi kehidupan pribadinya, memberi arti kepada kehidupan dan memuliakan kehidupan (Buchori,2004).

SBI adalah program yang “sudah pasti gagal” ujar seorang mantan Guru Senior di sebuah Sekolah Internasional. Mungkin pemerintah ciut nyali melihat perkembangan SBI dan akhirnya memberi imbuhan Rintisan di depan singkatan SBI. Tetapi toh jika ramalan Guru tersebut terbukti benar, maka RSBI pun hanya akan menambah rekor program pemerintah yang gagal dan tentu memboroskan anggaran pendidikan yang lebih 200 Triliun di Tahun 2009 ini.

Ahmad Rizali (http://ahmadrizali.com)
Pendiri KlubGuru Indonesia, Alumni S2 HRM Strathclyde Business School-UK bekerja sebagai Direktur Eksekutif Pertamina Foundation; email: nanang60@yahoo.com dan ahmad.rizali@alumni.ui.ac.id

Related posts:

  1. SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI): PROGRAM GAGAL? Seorang praktisi pendidikan dari Inggris yang berjasa dan sukses membangun...
  2. RSBI: Rintisan Mengubah Paradigma Lebih dari dua jam tanpa berkomentar, kecuali bertanya, saya ikut...

9 Responses to "SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI): PROGRAM GAGAL ?"

1 | goblog

June 4th, 2009 at 4:57 pm

Avatar

eh iya… siap bos! maap bos! siap salah bos! demikian jawaban yang disampaikan anak buah kepada bapak buah, untuk menunjukkan kedisiplinannya (sekalipun salah).
mohon ijin copas dan nge-link pak…

2 | mudarwan

June 6th, 2009 at 1:08 am

Avatar

Kalau begitu menurut pak Nanang, apakah semestinya SBI itu bentuknya seperti Sekolah Berbasis keunggulan Lokal, sehingga menunjukkan ciri “KEINDONESIAAN” sebagai lawan dari ciri “KEBARATAN” yang bukan merupakan budaya dan konteks negara kita?

3 | vina

July 28th, 2009 at 9:22 am

Avatar

Kalau memang seperti itu, tawaran apa donk yang baik untuk sistem pendidikan di negara Indonesia?kalau pun ada kreatifitas dalam model pembelajaran,tapi mengapa sulit untuk mengkritisi kebijakan negara.Apakah hal ini mencerminkan bangsa yang demokratis.Mengapa banyak sekali analisis2 tentang pendidikan namun hal itu haya dialektika belaka,mengapa tidak diaplikasikan?

4 | agus s

August 12th, 2009 at 9:17 am

Avatar

aku guru biologi …diharapkan “bisa ” mengajar dengan bhs inggris …lalu siswa pada bingung ataukah aku mengajar pakai bhs indonesia kemudian akses internet dimana materi berbahasa inggris dan murid paham materi plus istilah ingris dalam biologi …ataukah guru bahasa inggris perlu diklat biologi sehingga bisa mengajar mapel biologi …. enak mana yach …kupikir yang penting siswa berkualitas keilmuan yang internasional daripada bahasanya internasional tapi bermutu lokal … terserah baka yang di atas lah ……

5 | Nani R

October 25th, 2009 at 11:07 am

Avatar

Setiap perubahan pasti perlu proses, tidak langsung bisa berhasil. Kegagala yang tertunda itulah keberhasilan!!!
Saya guru Ekonomi yang mencoba mengajar pakai Bahasa Inggris dengan terbata-bata, tapi dengan tekad mau bisa, akhirnya berusaha menabah kosakata dengan mau mempraktekannya setiap hari. SBI di Indonesia harus diteruskan untuk melatih rakyat Indonesia mengerti bahasa dunia dan tidak dibodohi oleh dunia. Motivasi untuk semua bisa dengan mencoba…..mencoba…..dan mencoba lagi! Hidup SBI…….ayo yang lain juga harus SBI!!!

6 | zulka

November 20th, 2009 at 12:50 pm

Avatar

IGCSE itu dibuat berdasarkan riset, dibuat sedemikian supaya bisa diterima di sekolah manapun meski infrastruktur tidak memadai. Intinya penyamaan konsep & cakupan. Kalau kualitas instruksi masih tergantung guru masing-masing, jadi kalau ada kekurangan itu bukan karena IGCSE-nya (Pro Causa Non Causa).

Begitupun sebaliknya, tanpa IGCSE pun sekolah dapat menghasilkan siswa berprestasi karena KTSP juga sangat memadai dari segi cakupan. Hanya saja KTSP terasa menganut efisiensi sosial jika dilihat dari cakupannya contohnya IPA di KTSP tidak mencakup arkeologi.

Kalau gembar gembor kelas AC & proyektor LCD itu taktik sekolah agar kelas internasionalnya laku. Namun dibalik itu juga AC & proyektor LCD terasa sangat mendukung proses pembelajaran. Kelas yang nyaman dan penyamaan persepsi lewat display besar? Itu penting!

SBI itu cuma istilah sementara, pasti diganti suatu saat. Saat ini semua sekolah berusaha mencoba menembus batas2 kemampuan mereka (memaksa guru berbahasa inggris, membuka diri terhadap arus informasi, mengacu pada standar yang tinggi). Hal ini pasti menghasilkan suatu yang positif. Kalo semua sekolah sudah bilingual, memiliki standar yang dipertanggungjawabkan & akrab dengan teknologi. Istilah SBI pasti akan “terlampau digunakan” & akhirnya basi.

SBI ini juga penting karena didalamnya ada misi keterbukaan & saling memahami antar warga dunia. Semakin menipisnya sumber daya alam memerlukan pendidikan yang memiliki nilai2 & prinsip2 yang mengutamakan “keadilan sosial global”.

7 | Ahmad Rizali

November 23rd, 2009 at 11:37 am

Avatar

Bu Nani yg berbudi
Justru karena saya juga percaya perubahan yg butuh proses itulah, saya ngeri dengan dipaksanya program RSBI, karena saya mantan pendaki gunung, saya ibaratkan, ada seorang pemuda yg tiba tiba ingin naik gunung, bukannya mematok target Gunung Salak dahulu (tingginya kurang dari 3000 mdpl) yg juga terjangkau dan mulai berlatih, eh mematok puncak di pegunungan Himalaya dan dia juga tidak bersiap siap,…

8 | Marini

April 2nd, 2010 at 12:51 pm

Avatar

assalamu’alaykum
tapi, apakah tidak mungkin Pa, menjadikan SBI itu sebagai program gagal yang sesuai dengan Indonesia, ‘kualitas internasional usaha lokal’?

9 | Ahmad Rizali

May 6th, 2010 at 2:00 pm

Avatar

wa’alaikum salam bu,…
“mutu internasional usaha lokal” ?…wah tentu bisa bu dan mestinya seperti ini. Ajari murid dengan benar dan kontekstual (jangan ajarkan mengetik dengan mesin tik lagi, tdk kontekstual), isnyaAllah akan jadi begitu bu…
Salam

Nanang

Comment Form

Photo Gallery

Profile

Riwayat Hidup
Ahmad Rizali, begitu namanya disebut sebagai salah satu sumber jika masalah pendidikan sedang mengemuka. Begitu pula ketika persoalan guru mencuat ke permukaan, ia termasuk sosok yang dicari-cari untuk dimintai pendapat. Belakangan, ia menekuni masalah seputar akuntabilitas sekolah. Selengkapnya...

Langganan via Email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Guestbook


(62)    Hariyono  Like this....:D...  
(61)    nanang  Pak/Bu Endar dan Rere, terimakasih atas komentar anda. saya senang jika blog ini menjadi alternatif bacaan dikala bete, insyaAllah. ...  
(60)    rere  alert(‘salam IT Club Lombok’)...  
(59)    endar sudarjat parmasamita  Assalaamu'alaikum wr.wb.. Salam kenal Pak Nanang,semoga bapak senantiasa ada dalam kesehatan yang baik. Ingin saya belajar banyak hal dari bapak. Sejujurnya kami sudah jenuh melihat pelbagai persoa...  
(58)    nanang  Gus, mustinya ente lebih canggih dari ane, kan ente wartokaw :), gimane cara ngajarin wartokaw nulis, kayak ngajarin bebek berenang. Ntar kalo ane pangsiun mau full nulis, ya 3-5 taon lagi lah. Unt...  
(57)    gus dul  Nang, ente cocoknya jadi penulis kayak ane.....ge demen sama tulisan ente, mengalir, enak dibaca, daleemmm banget. ajarin gw donk...!...  
(56)    Tugi Hartono  Assalamu'alaikum Wr Wb..... Salam kenal pak Nanang.....Selamat UangTahun bapak... Saya selalu terinspirasi dengan tulisan bapak...... teriring dengan selesainya buku TTS yg bermanfaat, semoga menjadi...  
(55)    inten  assalaamu'alaikum, Pak Nanang. saya Inten, dulu pernah di Inventra, Cipete. website yang mencerahkan dan inspiring, terimakasih....  
(54)    arie5758  Selamat malam pak Nanang, saya Arie alumni stemba lulusan '96... salam kenal pak :)...  
(53)    nanang  Terimakasih semua, pak Sugeng bukankah anda di Malaysia ?...